”Air mineralnya satu, mbak.” Kata Edo di sebuah toko serba ada di sebuah pantai pada sore hari pertengahan musim panas.
Setelah menerima satu botol air mineral dengan label yang terkenal di daerah itu, Edo hendak pergi sebelum dia melihat sosok perempuan di depan toko.
Pandangan mereka berdua bertemu.
“Atika ?” Edo menyebutkan sebuah nama yang kembali menyeruakkan sebuah kenangan.
“Edo ?” Si perempuan pun begitu, berdiri tegak menatap Edo di depan toko serba ada di sebuah pantai pada sore hari pertengahan musim panas.
*
Mereka berdua berjalan di sepanjang garis pantai yang sepi sore itu.
Wajar, hari itu adalah penghujung liburan. Para pelancong sudah pulang ke rumah mereka beberapa hari yang lalu atau para pekerja yang sudah kehabisan masa liburnya dan harus berjibaku dengan pekerjaan tertunda yang berusaha mereka lupakan selama liburan.
“Kenapa belum pulang ?” Edo mengawali percakapan setelah beberapa menit perjalanan yang canggung dan diam.
“Ini kan rumahku.” Atika tersenyum kecut sambil menatap pasir putih yang selalu dia rindukan dari tempat yang jauh.
“Kalau begitu kenapa pergi ?” Edo menatap langit yang mulai memerah di kejauhan.
Atika diam dan tetap berjalan di samping Edo. Sesekali kaki mereka tersiram ombak pelan yang membawa rasa dingin sampai ujung kepala.
“Bagaimana kabar Andi ?” Edo kembali mengawali percakapan setelah beberapa detik perjalanan yang canggung dan diam.
“Baik. Sangat baik. Dia sedang di luar kota.”
“Tidak ikut ke sini ?”
“Kalau dia di sini, aku tidak akan berjalan bersamamu.”
*
Mereka berdua duduk di sebuah bongkahan batu karang yang kering karena air laut sudah enggan menyapanya.
“Kamu masih bekerja ?” Tanya Edo.
“Sudah berhenti beberapa bulan yang lalu.” Atika menatap pasir sambil memainkan kaki tanpa sandalnya di sana.
“Sepertinya akan ada Andi Junior.” Edo sedikit tersenyum.
“Begitulah. Sudah tiga bulan.” Atika tersenyum, merasa tersanjung seperti ingin memeluk seseorang dan meluapkan kebahagiaannya.
“Bagaimana denganmu ?” Atika balik bertanya.
“Masih sama seperti dulu.” Edo melihat matahari jauh di depan sana.
“Jadi sudah menjual berapa banyak padi ?” Atika tersenyum.
Edo hampir tertawa.
“Milyaran. Seperti yang pernah kukatakan.”
“Dan mimpimu sudah tercapai ?” Tanya Atika.
“Belum. Masih ada bermilyar-milyar padi di luar sana yang terbuang sia-sia.” Edo menatap mentari sambil menahan perasaan marah yang tiba-tiba muncul.
“Kenapa ?”
“Karena mereka tidak mau tumbuh di tempat ini. Sepertinya mereka sudah bosan dengan masyarakat yang mulai tidak peduli. Masyarakat yang hanya peduli soal emas dan pemerintah yang hanya peduli soal bangunan tinggi.” Edo meletakkan tangannya di belakang, berusaha bertahan dan menatap langit.
“Kamu masih radikal seperti biasanya.” Atika tersenyum dan kembali mengingat sebuah kenangan.
Edo hanya diam dan tidak menjawab kenyataan itu.
“Viola bagaimana ?”
“Sudah pergi.” Edo menjawab cepat.
“Kemana ?”
“Ke Ibu Kota.”
Atika menatap Edo, sedikit kaget.
“Semuanya pergi, hanya aku yang tinggal di kota kecil ini.” Kata Edo.
Edo mulai duduk tegak. Menunduk.
“Mungkin kamu seharusnya juga tidak pergi.” Edo bergumam lirih.
Dan kenangan luas itu mulai menyeruak lebih ganas. Memakan pandangan masa ini dan masa depan.
Seperti menjebak seseorang untuk tidak pergi.
Atika menatap Edo seperti meminta penjelasan atas apa yang Edo katakan.
“Kita tidak perlu membahas hal itu kan.” Kata Atika berusaha menahan ingatan yang merangkak keluar.
“Di senja indah seperti ini, tiga tahun yang lalu. Aku tidak bisa berhenti, Atika. Tidak bisa.”
“Lupakan saja. Tidak sesulit itu.”
“Untukku yang terjebak di tempat ini ? Mana mungkin bisa melupakannya dengan mudah.” Edo mulai menggeretakkan giginya, berusaha menahan teriakan yang ingin keluar.
“Kalau begitu kenapa tidak pergi seperti yang lain ?” Suara Atika mulai meninggi, dia tidak mau menatap Edo karena dia tahu bahwa air matanya akan keluar seiring keluarnya banyak kenangan itu.
“Lalu siapa lagi yang akan berada di tempat ini ? Mayat ? Mereka lahir di tempat ini, besar, mampu berpikir kemudian pergi. Kapan mereka akan kembali ? Saat mereka sudah di ujung ajal ?” Edo menatap Atika. Tidak mampu menahan amarahnya lagi.
“Kamu terlalu sempit, Do. Dunia tidak sekejam itu.” Suara Atika seperti memohon dan meyakinkan.
Edo tidak menghiraukan kata-kata Atika.
“Kalau kamu tidak pergi atau Andi tidak pergi atau kalian tidak bertemu.” Edo menunduk dan suaranya mulai terdengar lirih penuh penyesalan.
Atika melihat Edo, matanya berkilat dipenuhi kemarahan.
Atika berdiri mengambil sandal jepitnya dan hendak pergi ketika tangan Edo sudah mencengkeram pergelangan tangan Atika, berusaha menahan agar perempuan cantik itu tidak pergi.
“Tunggu, Atika. Maaf, aku tidak bermaksud….” Edo berkata lirih dan tidak mampu melanjutkannya, dia sadar kalau apa yang dia katakan adalah maksud yang sebenarnya. Dia tidak bisa menghindar dari perasaannya.
Atika berhenti, tidak berusaha melawan, menatap Edo dan tangisannya mulai keluar.
“Lalu bagaimana denganmu ? Kamu juga tidak mampu bertahan. Kamu akhirnya berusaha mencari yang lain.” Atika mulai menangis dan menangis. Berusaha tetap berbicara dan berbicara.
Edo melepaskan cengkeramannya, ingatan akan sebuah kesalahan besar mulai keluar. Perasaan bersalah, seorang perempuan yang dia cintai di kejauhan dan perempuan lain yang menggenggam erat tangannya di tepi pantai saat senja menjelang pada pertengahan musim panas beberapa tahun yang lalu.
“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Atika. Setiap sore, di tempat ini. Aku tidak bisa pergi, aku juga tidak bisa tinggal. Lalu saat Viola datang, aku merasa bahwa sesuatu memang sudah berubah. Kamu berubah begitu juga diriku.”
Atika masih berdiri menatap Edo.
“Aku pun begitu. Perasaan kita sama, Do. Aku juga tidak bisa melawan orang tuaku yang memutuskan untuk pindah waktu itu. Kalau bisa, aku ingin tetap tinggal. Tapi tidak bisa. Aku memang harus pergi. Kita tidak bisa bersama.”
Langit yang memerah bagai tembaga, burung camar dan suara desahan ombak di kejauhan. Senja yang sangat indah dan damai.
“Aku akan pergi dua bulan lagi.” Edo kembali menatap ujung horizon jauh di depannya.
Atika menatap Edo, berusaha menstabilkan emosinya dan mengikuti pembicaraan lain yang Edo mulai.
“Pergi ? Kemana ?” Tanya Atika.
“Ke luar negeri.”
“Untuk Apa ?”
“Melanjutkan pendidikan.”
“Di umurmu yang sekarang ?”
Edo tersenyum dan menatap Atika.
“Mungkin akan lebih menarik jika begitu.” Atika mulai tersenyum.
“Masih mengejar mimpi ?”
“Tentu saja. Karena sudah tidak mungkin untuk mengejarmu.” Edo sedikit tertawa.
“Suatu hari kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu.” Atika tersenyum dengan senyuman termanisnya hari ini.
“Semoga begitu.”
Angin pantai mulai merendah, udara semakin dingin dan langit pun mulai beranjak tidur. Semakin gelap dan dua orang yang pernah saling mencintai atau mungkin masih saling mencintai, berjalan di tepian pantai setelah menghabiskan masa senja bersama seperti yang pernah mereka janjikan dulu sekali, mereka ingin menghabiskan kehidupan senja mereka bersama dan selalu bersama. Tapi langit berkata lain, saat senja hampir datang, mendung gelap menerpa dan hujan badai turun. Si Perempuan tersapu ombak dan hanyut ke tengah lautan kemudian tenggelam sedangkan Si Laki-Laki hanya menangis di tengah badai, berusaha melompat ke laut tapi di tahan oleh ribuan manusia dan ketakutan.
Ini lebih baik, pikir mereka.
Hanya untuk hari ini, mereka bersama kemudian ketika esok tiba mereka akan kembali hidup sebagai orang lain. (*fin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar