Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Sabtu, 04 Maret 2017

[Read] Klandestin

Kamu tahu ?

Merindukanmu bagaikan pisau bermata dua. Kadang hal itu menyenangkan, terkadang hal itu begitu menyakitkan. Bagaikan menghimpit dada dan menyesakkan tenggorokan.

Kisah ini adalah kisah klasik tentang seorang prajurit yang jatuh cinta kepada seorang putri.

Kamu tahu ?

Ketika itu Sang Putri berkata

“Kita akan berjuang bersama.”

Kemudian sang prajurit mengiyakan, dengan kepolosan dan kebutaan karena cinta yang mendalam.

Kemudian di bawah pohon rindang di pinggir jalan utama yang panjang jauh membentang, mereka berpisah.

Sang Putri kembali menuju kerajaan yang megah laksana surga dunia bagi yang memandangnya dan Si Prajurit kembali ke gubuknya, kembali menemui ibunya yang hampir sekarat dimakan usia, yang selalu melantunkan syair sepanjang dia berbaring di ranjangnya.

“Nak, saat aku tua nanti. Maukah kamu membangunkan rumah dari emas untukku ?”

Selalu begitu, selalu terulang. Lagi dan lagi.

Si Prajurit hampir-hampir tidak mempedulikannya kalau Sang Ibu tidak meminta diambilkan segelas air.

Ketika segelas air hinggap di tangannya, Sang Bunda masih mampu duduk saat putranya duduk di sampingnya.

“Nak, saat aku tua nanti. Maukah kamu membangunkan rumah dari emas untukku ?”

Si Putra tidak mempedulikannya kali ini, dia hanya tertunduk lesu, lemah dan lemas.

“Besok aku akan berangkat ke Klandestin.”

Sang Ibu menatap putranya dengan keheranan, tidak tau apa yang Si Putra maksud.

“Nak, saat aku tua nanti. Maukah kamu membangunkan rumah dari emas untukku ?”

Si Putra mulai muak.

“Bisakah ibu tidak mengatakan hal itu setiap saat ?” Suaranya meninggi.

Sang Ibu menatapnya kebingungan sambil meletakkan segelas air yang tidak diminumnya di atas ranjang dan air itu tumpah membasahi ranjang. Si Anak tidak peduli.

“Besok aku akan berperang ke Klandestin. Kerajaan kita akan merebut tanah mereka. Jika kita menang kita akan membawa harta rampasan yang banyak. Kita akan kaya, bu.” Kata Si Putra sambil tersenyum kecut dan keringat mulai menetes di dahinya. Mencoba menghilangkan ketakutan.

“Nak, saat aku tua nanti. Maukah kamu membangunkan rumah dari emas untukku ?”

“Ya. Tentu saja, bu. Bukan hanya rumah emas. Apapun yang ibu inginkan akan aku penuhi.” Pikiran Si Putra berputar membayangkan kemenangan.

Sang Ibu tersenyum dan berkata.

“Kalau begitu, saat ayahmu sudah berubah menjadi batu, maukah kamu menjagaku ?”

Si Putra terperangah. Menatap ke depan dan bayang-bayang tubuh ayahnya yang terkoyak di depan matanya waktu itu mulai membuat air matanya menetes. Deras. Sangat deras.

Hujan di luar mulai turun. Mendung hitam menyelimuti langit. Tanah gersang kerajaan mulai basah.

Tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam beberapa tahun mulai dipenuhi harapan untuk kembali hidup.

Di kerajaan, para menteri menganggap hal ini sebagi pertanda baik untuk penyerangan esok hari.

Sang Putri berhias di depan cermin berbingkai emas yang indah.

Wajahnya dipenuhi senyuman cantik. Pikirannya dipenuhi dengan kenangan tadi siang. Kenangan tentang sebuah ciuman di bawah langit ungu, di antara air kecil yang menetes dari atas. Dan sebuah janji yang dikatakan Si Prajurit,

“Aku akan menang dan membawa emas yang banyak, kemudian aku akan menemui ayahmu dan meminangmu.”

Senyum cantik itu tidak mau berhenti, rasa gembira yang tidak tertahankan membuatnya melompat ke ranjang putih empuk dan memeluk bantal lembutnya. Di tengah gemuruh hujan, berbagai pikiran bahagia menyelimutinya. Sang Putri tidak mau membiarkan sedikitpun pikiran buruk melintas di benaknya. Sang Putri membenamnya dalam-dalam.

Kenapa mereka berdua tidak memiliki pikiran yang sama ?

Kenapa ? Padahal mereka saling mencintai ?

Pada suatu hari yang sudah berlalu. Sang Ibu Prajurit mengatakan sesuatu di depan Sang Ayah yang sedang berkemas dan memakai baju perangnya bersama Sang Anak yang melakukan hal yang sama.

“Lihat anakmu ini. Melakukan hal yang memalukan. Kemarin, Menteri datang ke rumah ini, beliau mengatakan kalau anak ingusan ini membawa pergi Sang Putri ke pinggir danau. Sudah gila dia.” Sang Ibu membentak.

Sang Ayah dan Anak tampak tidak menggubrisnya.

“Lihat sekarang, ayahnya pura-pura tuli. Katakan kepada anakmu itu, kita tidak bisa melampaui kasta. Suruh dia berfikir menggunakan logikanya.” Sang Ibu masih membentak.

Sang Ayah dan Anak masih tampak tidak menggubrisnya.

“Bermimpi boleh, tapi yang masuk akal.

Menikahi anak Raja ?

Sudah gila dia rupanya.” Sang Ibu tidak menurunkan nada suaranya.

“Kami akan berangkat.” Sang Ayah berdiri diikuti Si Anak.

“Lihat, kalian tidak menganggapku sama sekali. Lebih baik kalian tidak kembali.” Kemarahan Sang Ibu membutakan mulutnya.

Sang Ayah menghela nafas panjang, Si Anak hanya berdiri diam di belakang Sang Ayah.

“Sayang, kami akan kembali dan membangunkan rumah dari emas untukmu.” Kata Sang Ayah sambil tersenyum.

Mereka berdua pergi bersama lebih dari seribu prajurit menuju Klandestin.

Saat itu, di medan perang. Sang Anak yang baru berusia 17 tahun mengayunkan pedang dengan membabi buta. Ketakutan ketika melihat darah yang mengalir dan memancar mengenai wajahnya tidak mampu dia atasi.

Sang Ayah tidak mampu menahan pikiran tentang putranya. Kembali mendekatinya dan melindungi layaknya seorang ayah. Sampai sebuah pedang tajam menebas baju perangnya berkali-
kali dan hancurlah baju itu.

“Pulanglah dan bangunkan rumah emas untuk ibumu.” Kata Sang Ayah sambil tersenyum.

Si Anak tidak mampu melakukan apapun, darah Sang Ayah mengalir di tangannya. Seorang prajurit menyeretnya menjauhi tubuh tak bernyawa itu.

Kerajaan kalah. Mereka mundur. 500 prajurit berhasil pulang dengan berbagai kondisi. Perjuangan mereka sia-sia.

Dan hari ini.

Hal itu akan diulangi atau diperbaiki. Sebuah balas dendam yang direncanakan Raja karena gengsi dan martabatnya yang turun setelah kekalahan waktu itu.

Seribu prajurit kembali ke medan pertempuran di Klandestin.

Berbagai harapan mereka bawa di balik baju zirah besi yang mereka kenakan. Ada yang terpaksa, ketakutan, pikiran melayang melewati batas semesta dan penantian akan akhir yang menggembirakan. Kemenangan, tentu saja.

Hujan tidak turun, tapi langit masih diselimuti mendung sisa kemarin.

Sang Ibu masih bergumam lirih,

“Nak, saat aku tua nanti. Maukah kamu membangunkan rumah dari emas untukku ?”

Sang Putri bergumam lirih,

“Kita akan berjuang bersama.”

Dan Sang Prajurit yang memikul beban berat, antara Sang Ibu dan Sang Putri yang dia cintai, bergumam lirih,

“Dunia ini tidak seperti yang aku inginkan.”

Tentu saja begitu. Bukankah kamu juga merasakannya ?

Memang bias dalam kehidupan saat ini, mereka bilang bahwa kita semua setara, kita tidak boleh membedakan apapun atau siapapun. Tapi, pada kenyataannya. Mustahil seorang budak menikahi putri tuannya dengan ikhlas tanpa paksaan. Jika Sang Tuan yang ingin, dia bisa melakukan apapun, tapi lain halnya dengan Si Budak. Dia tidak akan mampu bergerak satu sentimeter pun saat Tuannya mengatakan jangan bergerak.

Mereka berkata, “Huh, apa yang akan kalian lakukan kedepannya nanti ?”

“Tanpa uang bisa apa ?”

“Tanpa jabatan bisa apa ?”

“Tanpa pekerjaan bisa apa ?”

Begitu kan ?

Kemudian kita berjalan, bergerak mengikuti arus itu dan kalau kita menyimpang sedikit mereka akan mengatakan,

“Tetap di garis lurus, nak ?”

Kalian berfikir ini hal yang negatif ?

Logika kalian mengatakan begitu ?

Ya, kalian benar jika kalian berfikir hal ini negatif, karena kalian sudah berjalan dan bergerak di garis lurus itu.

Logika manusia sebatas logika manusia. Tidak lebih tidak kurang. Mereka memustahilkan apapun yang tidak dilandasi dengan harta, kekuasaan dan kejayaan.

Kemudian gemuruh perang terdengar. Teriakan demi teriakan.

Kedua belah pihak membawa harapan masing-masing. Merasa mereka adalah kebenaran dan pihak lain adalah kejahatan.

Kemudian saat ribuan pedang beradu, gemuruh kaki kuda yang berlarian, hujan turun dari langit. Sangat deras. Air menjadi merah ketika menyentuh tanah. Tanah kering di Klandestin. Menjadi saksi perjuangan Si Prajurit yang ingin menikahi Sang Putri.

Setiap tebasan pedangnya, dia bergumam lirih dalam keputusasaan.

“Ah, dingin sekali.”

“Sakit sekali.”

Membayangkan dia pernah ditendang oleh Raja ketika berusaha mengatakan maksudnya.

“Pergi ! Jangan kembali sebelum kamu mampu membangun rumah dari emas.” Bentak Sang Raja.

Si Prajurit tersenyum.

“Ah, tidak mungkin.”

“Aku seorang laki-laki, tapi aku tidak tau apa yang harus kulakukan.”

“Rumah dari emas ? Entahlah.”

“Aku akan hidup untukmu dan ternyata itu tidak mudah dilakukan. Lebih tidak mudah lagi untuk mengatakannya saat kamu sudah mengetahuinya.”

“Aku akan mati untukmu dan itu mudah sekali untuk dikatakan. Sebilah pedang untukmu dan tebas saja aku.”

Masih seperti waktu itu, di lokasi yang sama. Tempat Sang Ayah meninggal tertebas. Si Anak ingin mengikuti jejaknya.

Tewas di tempat itu dan membawa kekalahan bagi kerajaan.

Satu tahun berlalu dan kedua kerajaan berdamai.

Sangat mudah.

Sang Putri yang terserang depresi berat, mengiyakan ketika Sang Ayah memintanya untuk menikah dengan Pangeran dari Klandestin.

Kemudian Sang Ibu.

Dia masih bergumam lirih,

“Nak, saat aku tua nanti. Maukah kamu membangunkan rumah dari emas untukku ?”

Sampai ajalnya tiba.

Ya, mereka semua. Semua manusia. Mereka ingin membangun rumah emasnya masing-masing.

Tapi, bagaimana menurutmu jika kukatakan,

“Suatu hari kamu akan bergumam lirih di dalam liang lahat,

"Seandainya aku tidak menghabiskan hidupku untuk membangun rumah itu."

*fin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story