Awan
bergerak perlahan menandakan bahwa angin di atas sana masih dalam keadaan
normal pagi itu. Ibuku masih terbaring lemah di ranjang reotnya.
“Kamu
tidak perlu pergi hari ini, nak. Hujan akan turun sebentar lagi.” Ibuku adalah
peramal terbaik, dalam cuaca seperti apapun, Ibuku bisa memperkirakan apa yang
akan terjadi beberapa jam ke depan.
“Tidak
bisa, bu. Kalau Ibu tidak minum obat hari ini, penyakitnya akan semakin parah.”
Aku
menutup pintu dengan cepat dan keluar menuju sebuah tempat dengan pagar besi tinggi
yang dijaga oleh ratusan tentara. Dari bagian samping terlihat sebuah bangunan
kotak putih yang berada di dalam pagar besi itu.
Langit
berwarna biru tua, awan putih perlahan mulai bergerak menumpuk dan
hampir-hampir menutup cahaya matahari. Udara mulai terasa dingin dan jaket
lusuh yang kupakai mungkin sedikit mampu melindungiku dari hujan yang
diprediksi ibuku akan turun pagi ini.
“Padahal
tadi cuaca seperti akan cerah.” Kata seorang tentara di dalam pagar.
Kami
orang pinggiran biasa berjalan mengelilingi bangunan kotak putih itu untuk
mencari makanan atau pakaian yang dibuang dari dalam bangunan itu.
Ada satu
hal yang kucari di tempat ini.
Obat.
Ada
beberapa obat bekas yang dibuang di sebuah tempat pembuangan tidak jauh dari
bangunan itu.
“Aku butuh
beberapa butir klonopin.” Kataku
kepada seorang bapak tua berjenggot yang menunggu tempat pembuangan itu.
“Hanya
ada dua butir.” Katanya.
“Kalau
begitu tambah satu butir valium untuk
10 batang jagung.”
Orang
tua itu memberikan apa yang kuminta dan aku memberikan satu-satunya hasil
pertanian yang bisa dihasilkan oleh sepetak tanah di belakang rumahku.
“Negara
ini kacau.” Kata Feri yang tiba-tiba berjalan disampingku.
“Mau
bagaimana lagi, kita juga tidak bisa keluar dari pulau ini.”
Tiba-tiba
dia berbalik ke arahku dan dengan matanya yang tajam menatapku seakan ingin
melampiaskan semua kemarahannya.
“Itu.
Itu yang menjadi penghalang penduduk negeri ini.” Dia mulai berceramah seperti
biasanya.
“Penduduk
yang berpikiran sempit dan mengatakan bahwa tidak ada jalan keluar, dengan
mudahnya. Sama saja mereka mengurung diri mereka sendiri dalam sangkar.” Lanjut
Feri.
Dan dia
masih melanjutkan saat kami mulai duduk di bawah sebuah pohon sambil menatap
bangunan putih yang dikelilingi pagar besi kuat di depan kami.
“Kamu
tau kan. Orang luar itu sudah menguasai pulau ini. Kita makan dari sisa makanan
mereka, kita memakai sisa pakaian mereka, bahkan kita minum obat sisa dari
mereka.”
“Bahkan
untuk mendapatkan sampah mereka, kita harus mengeluarkan harta kita yang paling
berharga. Kau tau. Untuk satu butir oxycodone,
aku harus menyerahkan 20 batang jagung milik ayahku. Gila.”
Semangat
Feri mulai membara. Sebenarnya itu lebih dekat kepada kemarahan. Tapi aku
bersyukur karenanya, aku tidak perlu mengutarakan semua kemarahan yang
tersimpan dalam hatiku.
“Yah.
Mau bagaimana lagi ?” Aku menatap tentara yang berkeliling kemudian sesekali
berhenti dan melihat para penduduk yang masih mengais sampah di luar pagar.
“Itu.
Itu lagi. Ah, kenapa kalian semua berpikiran sempit semacam itu ? Ayolah,
padahal Edo sangat cerdas dengan kemampuan kimianya saat masih duduk di sekolah
menengah. Aku kenal dia sudah lama dan aku mengakui kehebatannya dalam
obat-obatan. Tapi lihat, saat dia mencoba melamar untuk bekerja di laboratorium
pemerintah, hanya karena tidak punya lisensi sekolah lanjutan, dia ditolak
mentah-mentah. Dan lihat sekarang, dia hidup miskin bersama orang tuanya di
pulau utara. Bodoh.”
“Pemerintah
lebih suka lisensi daripada pengetahuan. Kalau saja Edo diterima waktu itu,
tidak mungkin laboratorium pemerintah sekarang dipenuhi oleh orang luar. Ini
negara kita.”
Feri
berhenti dan mengatur nafas sambil melihat ke langit.
“Kau tau
soal Pasukan Kemerdekaan ?” Feri masih menatap ke langit.
“Iya,
kenapa ?”
“Mereka
saat ini disebut teroris bahkan oleh pemerintah kita sendiri. Padahal mereka
berjuang untuk mengusir orang luar itu.”
“Ya
karena mereka mengancam stabilitas negara bukan ?”
“Stabilitas
negara ? Apa-apaan itu ?” Feri tersenyum kecut kemudian melanjutkan.
“Sekarang
lihat, stabilitas seperti apa yang mereka cari ? Pulau Barat ini sudah dikuasai
penuh. Pulau Utara, Pulau Timur semua mulai didatangi oleh orang luar. Dan
pemerintah yang mengatasnamakan stabilitas, bersembunyi di Pulau Selatan sambil
makan dan minum sepuas mereka.”
Aku mengerti
apa yang dirasakan Feri karena aku juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja
aku tidak bisa mengungkapkan semuanya secara terang-terangan seperti apa yang
dilakukannya saat ini.
“Bagaimana
keadaan ibumu ?” Tanya Feri yang sepertinya sudah bosan dengan kritikannya.
“Oh,
keadaannya sudah mulai membaik, tapi tetap saja kalau aku gagal mendapatkan
obat untuk satu hari, keadaannya akan kembali memburuk.” Jawabku sambil
menundukkan pandangan karena pikiranku mulai menunjukkan gambaran tentang ibuku
yang terbaring lemah di kasur reotnya.
“Penyakit
ayahku semakin parah, kebun jagung yang kami miliki juga sudah mulai mengalami
penurunan hasil panen, itu karena kami tidak memiliki cukup pupuk.” Kata Feri
yang mulai menatap bangunan putih itu.
“Seandainya
aku bisa keluar dari pulau ini, aku akan bergabung dengan pasukan kemerdekaan.”
Apa yang dikatakan Feri membuatku sedikit terkejut.
“Apa kau
sudah gila ?” Kataku yang sedikit tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
“Tidak.
Aku serius. Aku akan bergabung dengan mereka jika ada kesempatan. Aku tidak
peduli jika harus meninggalkan keluargaku, jika negara ini selamat, mereka juga
akan selamat.”
Pemikiran
yang sederhana.
“Namun,
jika tidak ada kesempatan, aku akan mendukung penuh apa yang dilakukan pasukan
kemerdekaan.” Lanjut Feri.
“Bagaimana
jika mereka menghancurkan negara ini ?” Tanyaku.
Feri
menatapku dan tersenyum.
“Itu
akan lebih baik.”
Sinar
matahari perlahan menyinari wajah Feri yang tampak seperti dipenuhi lukisan
bayangan dedaunan pohon di atas kami.
Hari ini
ramalan ibuku meleset, pikirku.
Mendung
di langit mulai bergerak menjauh dari matahari. Sebagian kecil langit biru
mulai terlihat. Kami berdua menatap ke angkasa yang menampilkan kawanan burung
terbang untuk mencari kehidupan. Apapun yang terjadi di negara ini, selama aku
masih hidup, mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Mungkin
juga ibuku bisa sembuh sepenuhnya dari penyakit depresi yang dideritanya selama
beberapa tahun ini. Aku juga tidak perlu mengais obat sisa dan mengorbankan
jagung yang menjadi makanan pokok kami.
Tapi, ya
sudahlah. Hidup terus berjalan.
Kami
terdiam beberapa saat, sampai dari bagian barat terdengar ledakan yang besar
dan guncangan hebat melanda tempat kami
duduk.
“Apa-apaan
ini ?” Feri mulai berdiri dan bersandar di batang pohon besar belakang kami.
“Mungkin,
serangan militer.” Aku mengikuti apa yang dilakukan Feri. Meskipun kami
berusaha menahan tubuh agar tidak terjatuh, tapi bahkan pohon yang kami gunakan
sebagai penyangga pun kelihatan tidak mampu menahan guncangan hebat ini.
Tentara
dan penduduk di sekitar bangunan putih di depan kami satu per satu terjatuh dan
berusaha menahan goncangan yang tidak mungkin bisa mereka tahan.
Belum
selesai kepanikan atas ledakan dari bagian barat pulau, ledakan selanjutnya
terdengar dari bagian utara. Goncangan hebat yang memusingkan kepala semakin
parah.
Aku
tidak bisa memikirkan hal lain selain keadaanku saat ini. Feri pun demikian,
dia berusaha berpegangan di tubuh pohon ini sekuat tenaga.
Kalau
dipikir kembali. Semua percakapan tadi, pemikiran keras tentang masalah negara
ini, kehidupan yang tidak layak dan bagaimana kesenjangan ekonomi yang sangat
terlihat. Semua itu hilang begitu saja dengan sebuah ledakan. Entahlah, mungkin
itu serangan militer atau serangan teroris, itu sudah tidak penting. Pemikiran
manusia sangat sederhana, saat berhadapan dengan kematian mereka tidak akan
memikirkan hal lain selain diri mereka sendiri. Aku bahkan tidak bisa
memikirkan tentang ibuku, teman di sampingku atau negara ini. Yang ada dalam
pikiranku hanyalah bagaimana aku bisa bertahan hidup, meskipun dalam
kemungkinan yang sangat mustahil, aku ingin hidup.
Hanya
itu.
Kemudian,
ledakan terdekat yang membuat telingaku tuli dan kepalaku pening. Ledakan di
bagian timur, atau lebih tepatnya terdengar hanya beberapa kilometer dari
tempatku berada. Guncangan hebat itu semakin tidak terasa, bukan karena
mengecil atau hilang, tapi karena semakin parah aku tidak mampu menahan tubuhku
menempel di tubuh pohon ini. Semua terlihat berputar-putar, sejenak aku masih
bisa melihat Feri mulai terjatuh dan berteriak.
Tenggorokanku
terasa sakit, kepalaku seperti terbakar dan aku mendengar teriakan yang sangat
keras. Aku pikir itu adalah suara Feri, karena dia seperti membuka mulutnya
tadi.
Tapi,
ketika aku mulai sadar, bukan karena keadaan membaik tapi bahkan ini adalah
puncak keadaan terburuk dimana air laut mulai jatuh dari langit biru dan aku
mulai mengerti bahwa teriakan itu adalah teriakanku.
Ramalan
ibuku tidak pernah meleset.
*Fin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar