JEJAK
ASAP
Sebuah kereta melaju dengan cepat meninggalkan
bunyi yang khas. Bukan hanya suara roda yang berbenturan dengan rel, tapi juga
suara ketika pintu otomatis tertutup, sirine dan turunnya penghalang ketika
kereta melintas juga suara seorang wanita yang menginformasikan segala hal
tentang pemberhentian, pemberangkatan juga informasi di stasiun mana kita
berhenti.
Andra duduk di sebuah kereta yang melaju dari
ibu kota menuju sebuah tempat yang akrab dengan masa kecilnya. Di sebelah
kanannya terdapat sebuah jendela yang menampilkan gradasi pemandangan
gedung-gedung tinggi yang mulai menghilang dan berganti menjadi sebuah area
luas berupa gunung-gunung tanpa pohon yang dirayapi banyak mesin penggaruk
berwarna kuning. Sebuah pertambangan yang akan mengubah area itu menjadi
seperti pemandangan sebelumnya. Kereta masih melaju dan pandangan Andra tidak
lepas dari jendela layaknya sebuah monitor yang menampilkan beragam informasi
tentang perubahan era yang berangsur-angsur menelan negara ini.
Kembali lagi, setelah sebuah pertambangan
luas, gambar ‘monitor’ itu berganti menjadi sebuah persawahan yang masih hijau
di penghujung musim panas. Itu adalah pertanian yang dikelola secara modern
oleh masyarakat. Dengan saluran irigasi yang tertata rapi, mengalirkan air bersih
pedesaaan dengan kelola yang baik. Beberapa petani berpakaian tradisional masih
dengan topi capingnya, berlalu-lalang menggunakan kendaraan bermotor yang bisa
didapat dengan mudah saat hasil panen sedang bagus.
‘Monitor’ mulai menampilkan tayangan lain,
sebuah lapangan sepak bola desa yang masih ramai dengan anak-anak dan remaja
bahkan orang tua yang dengan tawa lebar saling mengoper bola satu sama lain
hingga pelukan ketika bola dimasukkan ke gawang lawan.
Beberapa tayangan tadi membuat Andra mulai
tersenyum, kemudian dia mengambil sebuah buku catatan bersampul biru dari dalam
ranselnya, membuka halaman paling belakang dan tampaklah sebuah kertas
berukuran A5 yang tertempel di bagian dalam sampul belakang buku itu. Beberapa kata
tertulis di secarik kertas itu. Tentu saja Andra menyimpan kertas kecil itu
dengan baik. Itu adalah surat pertama dari orang yang tidak bisa dia lupakan
selama 15 tahun, seseorang yang masih dia harapkan mau menjadi pendamping
hidupnya.
Di dalam surat itu tertulis,
“Apa kamu
masih mengingatku ?”
Satu kata yang membuat Andra kembali,
menyusuri jalanan ratusan kilometer untuk membuktikan bahwa dia tidak pernah
melupakannya dan perasaan yang belum bisa dia ungkapkan, masih sama dan tidak
pernah berubah.
Andra menutup buku itu dan kembali menatap
jendela di sampingnya. Senja mulai tampak jauh di belakang kereta itu.
Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, kelelawar mulai bersiap mencari
kehidupan dan Andra berada di antara dua masa. Masa dimana dia mulai berfikir
apa yang akan dia katakan, apakah orang itu akan senang ketika bertemu
dengannya atau mungkin akan ada sedikit kesedihan.
Dalam kecamuk pikiran itu, Andra menatap
pemandangan luar yang menampilkan kabel-kabel yang terhubung antara satu tiang
listrik ke tiang listrik yang lain, tampak seperti lantunan ombak yang
menghipnotis. Dengan suara gerbong kereta yang terdengar seperti musik
pengiring tidur, Andra mulai terlelap.
Sesekali dia terbangun karena guncangan kereta
dan posisi tidur yang tidak nyaman, tapi kemudian dia terlelap kembali ketika
melihat jendela di sampingnya sudah menjadi hitam dengan hiasan cahaya kecil di
kejauhan.
*
Suara khas ketika pintu kereta terbuka,
antrian panjang di loket penjualan tiket dan suara wanita yang terdengar tidak
asing menggema di seluruh stasiun antar kota.
Andra berjalan bersama banyak orang yang sibuk
berlalu-lalang pagi itu. Tubuh Andra masih terasa berat setelah tidur tidak
nyaman selama kurang lebih 10 jam.
Ketika keluar dari stasiun, Andra seperti
berada di sebuah tempat yang tidak dia kenali. Banyaknya pertokoan yang menjual
barang yang sama, banyaknya kendaraan yang melintas dan kesibukan manusia yang
tidak dilihatnya beberapa tahun yang lalu.
Andra menaiki sebuah angkutan umum yang akan
membawanya selama kurang lebih 2 jam menuju tempat yang dia cari. Perjalanan di
angkutan tidak jauh berbeda dengan perjalanan di kereta. Perubahan pemandangan
dari kota ke desa benar-benar terlihat dan pada satu titik akan terlihat betapa
kesenjangan ekonomi menjadi sebuah masalah yang belum bisa diatasi oleh negara
ini.
Ketika turun di sebuah pasar tradisional,
Andra mulai kembali mengenal pemandangan yang sudah dia tinggalkan selama
beberapa tahun ini. Andra memutuskan untuk berjalan menuju rumah orang tuanya
yang saat ini ditinggali oleh paman dan bibinya.
Tidak butuh waktu lama. Andra sudah disambut
oleh dua orang yang sudah tau rencana kedatangannya.
Hari itu adalah penghujung musim panas. Siang
tidak begitu terik karena matahari terhalang banyak awan putih yang berkumpul,
seperti bekerjasama untuk meneduhkan siang itu.
Jarak rumah mereka tidak lebih dari 500 meter,
Andra berjalan setelah menyelesaikan makan siang. Menuju sebuah rumah yang
pasti sudah jauh berbeda sejak terakhir kali Andra melihatnya.
“Aya ? Keluarga itu sudah pindah.” Kata seorang
wanita yang tampaknya adalah penjaga rumah itu.
Andra memberi salam dan pergi dari rumah itu.
Andra masih berfikir bahwa Aya akan kembali ke desa itu dan menepati janji
mereka. Tapi pertanyaan,
“Apa
kamu masih mengingatku ?”
Di surat itu, hanya ditujukan kepada Andra dan
itu adalah perasaan satu arah yang selalu dilupakan oleh Andra. Bukan kekecewaan
karena mempercayai surat itu, tapi lebih tepatnya Andra selalu tersiksa dengan
perasaan yang ingin dihapusnya, kenyataan yang tidak ingin dia percayai, bahwa
orang yang masih memegang janji itu hanyalah dirinya.
Andra berbohong kepada paman dan bibinya
dengan mengatakan bahwa dia akan pergi bersama temannya ke sebuah tempat di
daerah itu, padahal dia hanya ingin melarikan diri, kembali meninggalkan tempat
yang tidak bisa dia lupakan.
*
Andra duduk di kursi tunggu stasiun sambil
menatap kereta yang melintas, berhenti dan menurunkan penumpang. Mulai dari
orang tua, pekerja kantoran, anak sekolah, laki-laki dengan setelan jas rapi
dan sepatu hitam mengkilat juga seorang perempuan dengan gaya modern atau lebih
tepatnya perempuan yang terlihat bebas, rambut hitamnya terurai sampai setengah
punggung, sebuah kaos putih tampak tertutup baju lengan panjangnya dengan tas
selempang coklat dan celana panjang hitam. Perempuan itu terlihat tidak terikat
dengan siapapun.
Andra masih melamun dan melihat kerumunan
orang yang belum selesai turun dari kereta, sampai kesadarannya mulai kembali
dan mengalihkan pandangannya ke perempuan tadi. Andra mulai berdiri dan berlari
keluar stasiun.
Ya. Tentu saja, Sang Penguasa Kebahagiaan
tidak akan meninggalkan orang yang berjuang, tapi bahkan iblis pun tidak akan
menolong orang yang tidak mau berusaha.
Saat perempuan itu berbalik, dia melihat Andra
yang berlari ke arahnya. Itu bukan suatu kebetulan ketika perempuan itu berniat
mengunjungi bukit yang sudah dia tandai di GPS nya, juga Andra yang ingin
menuju bukit itu bersama perempuan dalam kenangannya. Itu seratus persen bukan
kebetulan. Bahkan hujan yang sudah tertahan, baru dijatuhkan ketika mereka
berada di atas bukit. Bukan untuk orang lain, tapi sebagai penyejuk suasana
untuk mereka dan agar hati mereka saling menghangatkan di bawah lindungan batu
besar yang menahan derasnya hujan. Kemudian ketika sore menjelang, awan putih
dan langit biru terbit setelah hujan, mendung mulai menyingkap dan matahari
mulai bersinar. Sinarnya dapat dilihat oleh mereka berdua dari puncak bukit.
Entahlah kemana perginya pemandangan yang
mereka kenal waktu itu, sawah dan bukit perlahan menghilang dan berganti
menjadi pemandangan yang belum pernah mereka lihat.
“Jika setelah ini kita tidak bisa bertemu
kembali, mungkin untuk 2 atau 3 tahun lagi, aku ingin mengatakan bahwa,
Andra menatap Aya yang juga menatapnya
Aku menyukaimu.”
Apakah janji itu sudah di tepati ? Janji untuk
melihat pemandangan yang sama saat mereka kecil dulu. Atau tidak akan pernah
bisa ditepati seiring berjalannya waktu.
“Setelah ini, aku akan pergi ke ujung dunia.”
*
Setelah melihat cincin di jari manis Aya,
Andra masuk ke dalam kereta yang akan mengantarkannya ke ibu kota, pergi
menjauhkan titik biru dengan titik merah di GPS mereka berdua.
Bukan hanya penyesalan yang Andra rasakan,
tapi juga kekecewaan, kesedihan mungkin sedikit perasaan lega, kebahagiaan dan
yang lebih penting setelah bertemu dengan Aya, Andra mulai berusaha menjadi
dirinya yang baru, bukan dirinya yang selalu terjebak di masa lalu tapi juga
menjadi seseorang yang menatap ke depan karena perjalanan panjang sedang
menantinya.
*FIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar