Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Sabtu, 31 Desember 2016

[Read] Jejak Asap


JEJAK ASAP

Sebuah kereta melaju dengan cepat meninggalkan bunyi yang khas. Bukan hanya suara roda yang berbenturan dengan rel, tapi juga suara ketika pintu otomatis tertutup, sirine dan turunnya penghalang ketika kereta melintas juga suara seorang wanita yang menginformasikan segala hal tentang pemberhentian, pemberangkatan juga informasi di stasiun mana kita berhenti.

Andra duduk di sebuah kereta yang melaju dari ibu kota menuju sebuah tempat yang akrab dengan masa kecilnya. Di sebelah kanannya terdapat sebuah jendela yang menampilkan gradasi pemandangan gedung-gedung tinggi yang mulai menghilang dan berganti menjadi sebuah area luas berupa gunung-gunung tanpa pohon yang dirayapi banyak mesin penggaruk berwarna kuning. Sebuah pertambangan yang akan mengubah area itu menjadi seperti pemandangan sebelumnya. Kereta masih melaju dan pandangan Andra tidak lepas dari jendela layaknya sebuah monitor yang menampilkan beragam informasi tentang perubahan era yang berangsur-angsur menelan negara ini.

Kembali lagi, setelah sebuah pertambangan luas, gambar ‘monitor’ itu berganti menjadi sebuah persawahan yang masih hijau di penghujung musim panas. Itu adalah pertanian yang dikelola secara modern oleh masyarakat. Dengan saluran irigasi yang tertata rapi, mengalirkan air bersih pedesaaan dengan kelola yang baik. Beberapa petani berpakaian tradisional masih dengan topi capingnya, berlalu-lalang menggunakan kendaraan bermotor yang bisa didapat dengan mudah saat hasil panen sedang bagus.

‘Monitor’ mulai menampilkan tayangan lain, sebuah lapangan sepak bola desa yang masih ramai dengan anak-anak dan remaja bahkan orang tua yang dengan tawa lebar saling mengoper bola satu sama lain hingga pelukan ketika bola dimasukkan ke gawang lawan.

Beberapa tayangan tadi membuat Andra mulai tersenyum, kemudian dia mengambil sebuah buku catatan bersampul biru dari dalam ranselnya, membuka halaman paling belakang dan tampaklah sebuah kertas berukuran A5 yang tertempel di bagian dalam sampul belakang buku itu. Beberapa kata tertulis di secarik kertas itu. Tentu saja Andra menyimpan kertas kecil itu dengan baik. Itu adalah surat pertama dari orang yang tidak bisa dia lupakan selama 15 tahun, seseorang yang masih dia harapkan mau menjadi pendamping hidupnya.

Di dalam surat itu tertulis,

“Apa kamu masih mengingatku ?”

Satu kata yang membuat Andra kembali, menyusuri jalanan ratusan kilometer untuk membuktikan bahwa dia tidak pernah melupakannya dan perasaan yang belum bisa dia ungkapkan, masih sama dan tidak pernah berubah.

Andra menutup buku itu dan kembali menatap jendela di sampingnya. Senja mulai tampak jauh di belakang kereta itu. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, kelelawar mulai bersiap mencari kehidupan dan Andra berada di antara dua masa. Masa dimana dia mulai berfikir apa yang akan dia katakan, apakah orang itu akan senang ketika bertemu dengannya atau mungkin akan ada sedikit kesedihan.

Dalam kecamuk pikiran itu, Andra menatap pemandangan luar yang menampilkan kabel-kabel yang terhubung antara satu tiang listrik ke tiang listrik yang lain, tampak seperti lantunan ombak yang menghipnotis. Dengan suara gerbong kereta yang terdengar seperti musik pengiring tidur, Andra mulai terlelap.

Sesekali dia terbangun karena guncangan kereta dan posisi tidur yang tidak nyaman, tapi kemudian dia terlelap kembali ketika melihat jendela di sampingnya sudah menjadi hitam dengan hiasan cahaya kecil di kejauhan.

*

Suara khas ketika pintu kereta terbuka, antrian panjang di loket penjualan tiket dan suara wanita yang terdengar tidak asing menggema di seluruh stasiun antar kota.

Andra berjalan bersama banyak orang yang sibuk berlalu-lalang pagi itu. Tubuh Andra masih terasa berat setelah tidur tidak nyaman selama kurang lebih 10 jam.

Ketika keluar dari stasiun, Andra seperti berada di sebuah tempat yang tidak dia kenali. Banyaknya pertokoan yang menjual barang yang sama, banyaknya kendaraan yang melintas dan kesibukan manusia yang tidak dilihatnya beberapa tahun yang lalu.

Andra menaiki sebuah angkutan umum yang akan membawanya selama kurang lebih 2 jam menuju tempat yang dia cari. Perjalanan di angkutan tidak jauh berbeda dengan perjalanan di kereta. Perubahan pemandangan dari kota ke desa benar-benar terlihat dan pada satu titik akan terlihat betapa kesenjangan ekonomi menjadi sebuah masalah yang belum bisa diatasi oleh negara ini.

Ketika turun di sebuah pasar tradisional, Andra mulai kembali mengenal pemandangan yang sudah dia tinggalkan selama beberapa tahun ini. Andra memutuskan untuk berjalan menuju rumah orang tuanya yang saat ini ditinggali oleh paman dan bibinya.

Tidak butuh waktu lama. Andra sudah disambut oleh dua orang yang sudah tau rencana kedatangannya.

Hari itu adalah penghujung musim panas. Siang tidak begitu terik karena matahari terhalang banyak awan putih yang berkumpul, seperti bekerjasama untuk meneduhkan siang itu.

Jarak rumah mereka tidak lebih dari 500 meter, Andra berjalan setelah menyelesaikan makan siang. Menuju sebuah rumah yang pasti sudah jauh berbeda sejak terakhir kali Andra melihatnya.

“Aya ? Keluarga itu sudah pindah.” Kata seorang wanita yang tampaknya adalah penjaga rumah itu.

Andra memberi salam dan pergi dari rumah itu. Andra masih berfikir bahwa Aya akan kembali ke desa itu dan menepati janji mereka. Tapi pertanyaan,

“Apa kamu masih mengingatku ?”

Di surat itu, hanya ditujukan kepada Andra dan itu adalah perasaan satu arah yang selalu dilupakan oleh Andra. Bukan kekecewaan karena mempercayai surat itu, tapi lebih tepatnya Andra selalu tersiksa dengan perasaan yang ingin dihapusnya, kenyataan yang tidak ingin dia percayai, bahwa orang yang masih memegang janji itu hanyalah dirinya.

Andra berbohong kepada paman dan bibinya dengan mengatakan bahwa dia akan pergi bersama temannya ke sebuah tempat di daerah itu, padahal dia hanya ingin melarikan diri, kembali meninggalkan tempat yang tidak bisa dia lupakan.

*

Andra duduk di kursi tunggu stasiun sambil menatap kereta yang melintas, berhenti dan menurunkan penumpang. Mulai dari orang tua, pekerja kantoran, anak sekolah, laki-laki dengan setelan jas rapi dan sepatu hitam mengkilat juga seorang perempuan dengan gaya modern atau lebih tepatnya perempuan yang terlihat bebas, rambut hitamnya terurai sampai setengah punggung, sebuah kaos putih tampak tertutup baju lengan panjangnya dengan tas selempang coklat dan celana panjang hitam. Perempuan itu terlihat tidak terikat dengan siapapun.

Andra masih melamun dan melihat kerumunan orang yang belum selesai turun dari kereta, sampai kesadarannya mulai kembali dan mengalihkan pandangannya ke perempuan tadi. Andra mulai berdiri dan berlari keluar stasiun.

Ya. Tentu saja, Sang Penguasa Kebahagiaan tidak akan meninggalkan orang yang berjuang, tapi bahkan iblis pun tidak akan menolong orang yang tidak mau berusaha.

Saat perempuan itu berbalik, dia melihat Andra yang berlari ke arahnya. Itu bukan suatu kebetulan ketika perempuan itu berniat mengunjungi bukit yang sudah dia tandai di GPS nya, juga Andra yang ingin menuju bukit itu bersama perempuan dalam kenangannya. Itu seratus persen bukan kebetulan. Bahkan hujan yang sudah tertahan, baru dijatuhkan ketika mereka berada di atas bukit. Bukan untuk orang lain, tapi sebagai penyejuk suasana untuk mereka dan agar hati mereka saling menghangatkan di bawah lindungan batu besar yang menahan derasnya hujan. Kemudian ketika sore menjelang, awan putih dan langit biru terbit setelah hujan, mendung mulai menyingkap dan matahari mulai bersinar. Sinarnya dapat dilihat oleh mereka berdua dari puncak bukit.

Entahlah kemana perginya pemandangan yang mereka kenal waktu itu, sawah dan bukit perlahan menghilang dan berganti menjadi pemandangan yang belum pernah mereka lihat.

“Jika setelah ini kita tidak bisa bertemu kembali, mungkin untuk 2 atau 3 tahun lagi, aku ingin mengatakan bahwa,

Andra menatap Aya yang juga menatapnya

Aku menyukaimu.”

Apakah janji itu sudah di tepati ? Janji untuk melihat pemandangan yang sama saat mereka kecil dulu. Atau tidak akan pernah bisa ditepati seiring berjalannya waktu.

“Setelah ini, aku akan pergi ke ujung dunia.”

*

Setelah melihat cincin di jari manis Aya, Andra masuk ke dalam kereta yang akan mengantarkannya ke ibu kota, pergi menjauhkan titik biru dengan titik merah di GPS mereka berdua.

Bukan hanya penyesalan yang Andra rasakan, tapi juga kekecewaan, kesedihan mungkin sedikit perasaan lega, kebahagiaan dan yang lebih penting setelah bertemu dengan Aya, Andra mulai berusaha menjadi dirinya yang baru, bukan dirinya yang selalu terjebak di masa lalu tapi juga menjadi seseorang yang menatap ke depan karena perjalanan panjang sedang menantinya.

 

*FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story