Hari itu. Hari dimana sebuah meteor meluncur ke bumi. Menembus lapisan awan tebal. Dengan ekor apinya, membawa meteoroid menuju sebuah kota tenang saat sebelum matahari terbit.
*
Tahun 20XX, kehidupan manusia terlihat lebih sederhana dibandingkan dengan anggapan orang-orang terdahulu. Tidak ada mobil terbang, tidak ada robot yang bisa berpikir layaknya manusia dan tentu saja, manusia gagal menjelajah luar angkasa.
Siapa sangka bahwa penelitian yang dilakukan lebih dari seribu tahun tidak bisa membawa manusia menembus langit. Sebuah gambaran tentang bentuk dari alam semesta semata-mata hanya terlahir dari imajinasi panjang umat manusia, pembuktian yang sesungguhnya bahkan tidak bisa dilakukan.
Langit adalah sebuah kubah raksasa yang tidak bisa ditembus. Itu adalah hasil terakhir dari penelitian manusia saat ini. Namun, apakah manusia akan berhenti ? Tidak. Mereka akan melakukan segala cara untuk meluncur melewati langit dan salah satu upaya yang mereka lakukan adalah dengan menghancurkan penghalang itu.
*
Alvin saat ini berusia 17 tahun dan sedang dalam masa belajar keras untuk menghadapi ujian kelulusan. Setelah lulus dia akan meninggalkan kota tempat dia tinggal saat ini. Kota itu adalah sebuah kota yang padat. Dengan populasi terbesar kedua di negara itu. Pembangunan sudah mulai dilarang dan pemindahan penduduk menuju kota lain mulai dilakukan. Pemerintah berusaha untuk mengurangi polusi udara yang menyebabkan kota itu semakin tidak layak untuk dihuni.
Setelah pulang dari sekolah Alvin akan menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat favoritnya, sebuah tempat yang belum selesai dikerjakan namun selalu membuat Alvin kagum. Tempat dimana sebuah menara tinggi sedang dikerjakan. Menara itu akan menjadi bangunan tertinggi di kota itu. Menara itu hampir selesai dibangun dan akan digunakan sebagai tempat penyimpanan roket yang akan diluncurkan ke luar angkasa.
Alvin berlari seperti anak kecil yang tidak sabar untuk memainkan mainan barunya. Tampak senyum mengembang di wajahnya. Rambut pendeknya menjadi acak-acakan tersapu angin, seragamnya tidak dikenakan seperti anak rajin pada umumnya, tapi penampilannya tidak menwakili pemikiran anak muda ini. Alvin sangat tertarik dengan misi luar angkasa, karena itulah dia ingin melanjutkan pendidikan ke universitas yang mengajarkan kendali roket jarak jauh dan suatu hari dia ingin bekerja di perusahaan roket nasional. Dia adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang berkecukupan. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang baik. Alvin dirawat dengan baik dan meskipun anak tunggal, orang tuanya tidak memanjakannya dengan hal-hal tidak berguna, karena itulah Alvin tumbuh menjadi anak yang bebas dan mandiri. Dia bebas menentukan mimpinya di masa depan.
Sekarang dia sudah berada di depan menara yang bernama Zelos. Waktu itu adalah sore yang hangat. Awan putih bergerak ke arah matahari terbenam, angin sejuk menghempas menara kokoh itu. Menara itu berbentuk tabung, dindingnya dilapisi semen yang kuat, hanya ada satu pintu masuk dan tentu saja, menara itu menjulang tinggi ke langit.
Alvin selalu kagum dengan pemandangan menara itu, pemandangan yang menggambarkan keagungan, betapa hebatnya usaha manusia untuk mewujudkan keinginannya. Hal itulah yang selalu mengingatkan Alvin untuk selalu memegang teguh apa yang dia inginkan, karena suatu saat dengan usaha dia pasti bisa mewujudkannya.
Senja itu, langit di ujung barat terlihat membentuk gradasi kemerahan dan menampilkan setengah tubuh dari matahari. Alvin tidak bisa melihat hal itu karena menara besar itu menghalangi. Saat itu, Alvin berniat untuk pulang tapi dalam sepersekian detik dia melihat sekilas bayangan seseorang berdiri di sampingnya, kemudian Alvin berhenti.
Alvin melihat seorang perempuan manis, hidung lancip dengan rambut hitam panjang sampai pinggang, berdiri menghadap menara sambil melihat ujung menara itu. Perempuan itu terlihat seumuran dengan Alvin. Ketika hendak menyapanya, rasa enggan menyelimuti pikiran Alvin, tapi entah kenapa Alvin mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali menikmati pemandangan menara itu bersama seorang perempuan yang tidak dikenalinya. Entah kenapa perempuan ber dress putih dengan sweater biru itu tampak tidak mempedulikan keberadaan Alvin di sampingnya.
"Kamu tertarik dengan menara ini ?" Tanpa disadari Alvin pun menyapa perempuan itu.
Perempuan itu diam dan tampak tidak peduli dengan ucapan Alvin. Apa-apaan perempuan ini, pikir Alvin. Terlihat seperti seorang penjahat yang mendekati mangsanya, begitulah yang dirasakan Alvin. Dengan dipenuhi perasaan tidak enak, Alvin berniat meninggalkan pemandangan indah itu. Setelah hari itu, Alvin tidak akan mengunjungi menara karena dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang semakin dekat. Sebenarnya Alvin tidak puas dengan perpisahan semacam itu, tapi karena perasaannya seperti sudah disakiti oleh seseorang, dia memutuskan untuk pergi.
"Pemandangan langit dari atas sana pasti sangat indah." Perempuan itu membuka bibirnya yang tipis sesaat sebelum Alvin meninggalkan tempat itu.
"Apa ?" Alvin mencoba menegaskan.
Perempuan itu melihat Alvin dan tersenyum.
"Aku ingin naik ke puncak menara dan melihat pemandangan langit dari atas sana." Kata perempuan itu.
Alvin bisa melihat dengan jelas wajah si perempuan yang sangat cantik, putih dengan aliran darah tipis di pipinya yang membuatnya terlihat merah muda, dihiasi bola mata yang berwarna biru muda. Jantung Alvin berdetak lebih cepat sepersekian detik, membuat aliran darahnya memenuhi wajahnya dan membuatnya memerah. Alvin ingin mengatakan sesuatu tapi satu kata pun tidak bisa keluar dari mulutnya.
Perempuan itu kembali menatap ujung menara, kemudian seperti mengucapkan perpisahan, perempuan itu mengangguk sedikit ke arah Alvin dan berjalan pergi.
Alvin diam dan tidak bisa mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan. Tetap seperti itu sampai dia sadar bahwa perempuan itu berjalan semakin jauh. Merasa bahwa tidak ada kesempatan lain, Alvin pun berteriak,
"Tunggu." Sambil berlari mendekati si perempuan.
Perempuan itu berhenti dan melihat Alvin berlari dan berhenti tepat di depannya, membungkuk sambil memegangi lututnya, Alvin kelelahan hanya dengan berlari dalam jarak sedekat itu, mungkin itu karena detakan jantungnya yang luar biasa cepat.
Perlahan Alvin mengangkat wajahnya dan menatap perempuan yang masih menatap Alvin dengan tatapan penasaran.
"Namamu ? Siapa namamu ?" Tanya Alvin sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal.
Perempuan itu menatap Alvin sejenak dan kembali tersenyum. Senyuman yang membuat perasaan Alvin tidak karuan.
"Namaku Kartika." Kata perempuan itu.
Mata Alvin sedikit terbelalak dan wajahnya kembali memerah. Sambil sedikit membuang muka karena menyembunyikan rasa malu yang luar biasa, Alvin berkata,
"Namaku Alvin. Apa kita bisa bertemu kembali ?"
"Mungkin, jika kebetulan kita mengunjungi menara ini bersamaan." Kata Kartika sambil tersenyum, kemudian dia kembali mengangguk ke arah Alvin dan pergi dari tempat itu.
Langit mulai gelap dan lampu kota mulai dinyalakan. Disinari lampu berwarna kemerahan, Kartika berjalan pergi meninggalkan Alvin yang masih berdiri menatapnya yang mulai menjauh.
*
Ujian pun berlalu dan Alvin bisa melewatinya dengan mudah. Tapi Alvin masih tidak percaya bahwa pertemuannya dengan Kartika akan meninggalkan sebuah perasaan aneh yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman pada hari pertemuan itu.
Setelah lulus Alvin akan pergi ke luar kota dan melanjutkan pendidikan di kota lain. Jika lancar maka dia akan kembali setelah 4 tahun. Karena itulah sore ini dia ingin mengucapkan salam perpisahan kepada Menara Zelos dan jika mungkin dia ingin mengungkapkan perasaannya kepada Kartika.
Alvin berlari menuju menara setelah pengumuman kelulusan yang menyebutkan bahwa dia lulus dengan nilai yang bagus. Setelah menyerahkan hasil ujian kepada orang tuanya, dia berlari ke arah menara seperti menara itu adalah orangtua keduanya.
Di depan menara itu, dia berkata bahwa dia tidak akan ke tempat itu selama 4 tahun, dia juga berjanji akan menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin dan kembali lagi ke kota itu. Setelah itu Alvin melihat sekeliling, berharap dia melihat sosok yang ingin dia temui. Tapi sebanyak apapun dia melihat, dia tidak melihat orang yang ingin dia temui. Hanya kerumunan orang yang pulang dari kantornya dan berjalan menuju tempat tinggalnya masing-masing. Mustahil untuk mencari satu orang di tengah ribuan orang yang tinggal di kota padat itu, pikir Alvin. Bodoh juga Alvin tidak menanyakan kontak Kartika waktu itu.
Alvin pun pergi meninggalkan menara itu. Bukan. Alvin pergi meninggalkan kota itu diselimuti perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Perasaan aneh, seperti senang, sedih, cemburu, takut bahkan perasaan ingin menangis. Sebuah perasaan tidak ingin melepaskan. Perasaan tidak mau kehilangan.
Alvin kemudian berjanji di dalam pesawat yang mengantarkannya menuju kota tempat dia akan menjalani pendidikan universitas, bahwa dia akan kembali dan saat itu dia akan mengungkapkan perasaannya kepada Kartika.
*
Berapa ratus orang yang pernah Alvin temui di kota baru yang dia tinggali. Berapa puluh perempuan yang pernah berkomunikasi dengannya, bahkan hampir berhubungan dekat, tapi perempuan cantik bermata biru yang dia temui di kota kelahirannya tidak bisa hilang dari pikirannya. Bayangan wajahnya kadang melintas di benaknya dan membuatnya tidak bisa mengikuti setiap mata pelajaran dengan baik, hal itulah yang membuatnya lulus dengan nilai yang tidak begitu bagus, tapi hal baiknya dia bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Setelah 4 tahun berlalu, Alvin kembali ke kota kelahirannya.
*
Langit sangat gelap saat itu. Alvin berada di dalam Menara Zelos yang menyimpan sebuah roket besar berbentuk kapsul yang lancip pada bagian atasnya. Ada tangga yang menempel di dinding dan mengelilingi Zelos menuju ke atapnya.
Alvin menaiki tangga itu dan berjalan menuju atap. Di sana ada sebuah pintu yang cukup dimasuki satu orang dewasa, Alvin pun memasukinya. Di atas sana, Alvin melihat pemandangan yang menakjubkan, bukan hanya pemandangan kota yang disinari lampu yang tampak kecil dan banyak, tapi juga pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang sebanyak pasir di pantai. Langit luas yang belum pernah dilihat Alvin sebelumnya. Dari bawah sana, di keramaian kota, langit terlihat sangat sempit karena terhalang bangunan yang saling berhimpitan, tapi dari atap Zelos, Alvin bisa melihat langit luas yang melengkung dan habis ditelan ujung horizon. Langit seperti kubah yang tidak bisa ditembus.
Di tepian atap, Alvin melihat seseorang berdiri membelakanginya sedang memandang ke kejauhan. Alvin berjalan mendekat dan tampak jelas bahwa orang itu adalah sosok perempuan berambut panjang sampai pinggang, mengenakan dress putih dengan sweater biru, berdiri tanpa menghiraukan kehadiran Alvin.
"Kamu ? Kartika, bukan ?" Tanya Alvin sambil memandangi perempuan itu.
Perempuan itu menoleh dan tampak wajahnya yang tidak banyak berubah sejak 4 tahun lalu, hanya tampak lebih teduh dan anggun. Kartika tersenyum. Alvin tidak bisa mengekspresikan apa yang ada dalam hatinya, apa yang dia rasakan saat itu. Dia sendiri tidak menyangka akan bertemu dengan Kartika secepat itu dan di tempat yang sangat spesial untuk Alvin.
"Kenapa kamu ada di sini ?" Tanya Alvin.
"Aku ingin melihat langit yang luas." Kata Kartika sambil memandang ke langit.
Alvin tidak bisa mengatakan apapun kemudian berjalan dan berhenti di samping Kartika untuk melihat pemandangan indah itu bersama. Tapi tidak lama kemudian, Kartika berjalan mendekati tepian menara dan berhenti. Alvin bergerak tanpa sadar untuk menghentikan Kartika karena tidak ada penghalang di atap itu. Alvin tidak bisa menjangkau Kartika yang sudah berbalik dan menatap Alvin.
"Aku ingin melihat yang lebih indah lagi." Kata Kartika dihiasi senyum di wajahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Alvin yang sedikit cemas dengan posisi Kartika saat itu.
Kartika tidak menjawab pertanyaan Alvin. Dia masih tersenyum dihiasi jutaan bintang yang menempel di langit. Sepersekian detik pandangan Alvin teralih ke pemandangan bintang cantik itu kemudian dia tidak lagi melihat Kartika. Kesadaran Alvin seperti hilang sesaat dan saat kesadarannya kembali, Alvin berlari dan melompat dari atap menara itu.
Dalam aksi terjun bebas itu, Alvin melihat tubuh Kartika yang melayang manatap dirinya sambil tersenyum. Alvin berusaha merapatkan tangannya untuk mempercepat jatuhnya agar bisa menggapai Kartika. Tapi percuma, Alvin tidak bisa menjangkaunya. Alvin menutup matanya yang mulai mengeluarkan air mata. Membiarkan tubuhnya menghantam tanah bersama orang yang disukainya.
*
Alvin terbangun di kamarnya yang tampak tidak berubah. Tumpukan lamaran pekerjaan dan CV yang dia buat susah payah tertumpuk di meja belajarnya. Nafasnya tersengal dan keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya. Alvin melihat jam dinding yang menunjukan pukul 2 pagi. Dia kemudian menyalakan lampu kamar dan menatap ke cermin. Apa yang terjadi ? Kata Alvin saat melihat air matanya mengalir dengan deras. Dia baru saja terbangun dari mimpi aneh tentang perempuan yang disukainya. Alvin mengusap air matanya dan mendengar suara mobil besar melintas di depan rumahnya yang baru dia datangi kemarin. Alvin menengok keluar jendela dan melihat sebuah mobil box besar sedang melintas diiringi beberapa mobil mewah berwarna hitam.
Kebiasaannya adalah terbangun di malam hari dan tidak akan bisa tertidur sampai matahari terbit. Saat hal itu terjadi, Alvin akan membuat secangkir kopi dan menikmatinya sambil membaca berita pagi di internet. Dalam kolom berita yang dia baca pagi itu tertulis sebuah judul "Zero Grafity Project Akan Diluncurkan Pagi Ini". Pikiran Alvin belum kembali sepenuhnya, tapi dia tahu bahwa berita itu tentang menara yang dia kagumi. Alvin mendorong kursinya ke belakang dan bergegas mengenakan jaket tebal kemudian keluar rumah untuk melihat keadaan. Ayahnya sedang ke luar kota dan ibunya masih terlelap pagi itu. Alvin bergegas menggunakan sepedanya dan mengayuhnya menuju Zelos. Bayangan mimpi yang dialaminya malam itu masih membekas dan tidak mau hilang, tidak seperti mimpi pada umumnya yang akan hilang beberapa saat setelah pemimpi terbangun.
Alvin melewati jalan besar yang masih sepi. Lampu kota yang memancarkan cahaya kemerahan menerangi perjalanan Alvin.
Saat Alvin sudah sampai di depan Zelos, Alvin melihat Zelos dikelilingi pagar besi dan mustahil untuk orang masuk ke dalamnya. Alvin kemudian membuka smartphone miliknya. Di situs berita yang sering dia kunjungi, dimuat berita tentang pusat kendali roket yang ada di pusat kota. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Zelos. Tanpa pikir panjang Alvin mengayuh sepedanya menuju pusat kota.
Bukan karena ingin menjadi seorang pahlawan yang menghentikan proyek besar pemerintah. Tapi Alvin tahu bahwa proyek itu sangat berbahaya jika tetap dilanjutkan dan lagi, dia belum bisa mewujudkan impian seseorang yang dia sukai. Kemungkinan Zelos akan hancur ketika roket itu diluncurkan.
Alvin masih mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga menuju pusat kota sampai pada saat dia melihat seoarang perempuan berdiri di depan sebuah rumah sederhana. Perempuan itu berdiri di bawah sinar lampu kota. Jaket tebalnya menutupi seluruh tubuh atasnya untuk menahan dingin pagi itu. Alvin hampir melintas di depan perempuan itu saat dia sadar bahwa dia mengenal perempuan itu. Kartika, pikir Alvin.
Alvin menekan rem tangan sepedanya dan berhenti di depan Kartika. Alvin turun dari sepedanya dan menuntunnya mendekati Kartika.
Perempuan itu melihat Alvin yang mendekatinya.
"Alvin." Kata perempuan itu sambil mata indahnya sedikit terbelalak dan senyum merekah di wajahnya.
Penampilan Alvin memang tidak banyak berubah, sama seperti penampilan Kartika yang tidak jauh berbeda hanya saja, tampak lebih anggun dan terlihat dewasa.
"Kartika ?" Kata Alvin sambil mendekati Kartika.
"Kenapa kamu di sini ?" Tanya Kartika.
"Aku harus ke pusat kota, Zelos akan dihancurkan sebentar lagi."
"Aku juga membaca berita tadi, apa aku boleh ikut ?"
"Apa tidak apa-apa keluar pada saat seperti ini ?"
"Tidak. Orangtuaku sedang keluar kota."
"Kalau begitu kita berjalan kaki ke pusat kendali. Jaraknya tidak jauh dari sini."
Alvin memasukkan sepedanya ke halaman rumah Kartika dan berjalan bersamanya menuju pusat kendali.
*
Pusat kendali itu adalah sebuah bangunan kotak bercat putih. Bagian atapnya dipenuhi dengan antena yang menghubungkan kendali roket jarak jauh yang ada dalam Zelos.
Alvin dan Kartika berjalan memasuki pintu gerbang pusat kendali, di sana ada pos jaga yang tidak berpenghuni. Kemungkinan penjaganya ada di dalam. Alvin dan Kartika memasuki pusat kendali dengan mudah. Di dalam bangunan itu terdapat sebuah ruangan resepsionis yang dibatasi kaca. Sebuah lorong besar yang terdapat banyak ruangan di setiap sisi lorong itu. Alvin dan Kartika berjalan masuk dan mendapati ruangan resepsionis yang kosong kemudian dia berbalik dan menghadap sebuah lorong. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong dan melihat setiap ruangan dari kaca yang terdapat di setiap pintunya. Saat mereka sampai di ruangan ke tiga sebelah kanan, mereka melihat seseorang dengan seragam keamanan tergeletak di dalam. Alvin membuka pintu ruangan yang tidak terkunci, Kartika yang terlihat ketakutan berdiri di belakang Alvin dan tidak ikut masuk.
Alvin berlari mendekati petugas keamanan itu. Ada sebuah kartu id yang tergantung di kantong bajunya. Alvin menyentuh urat leher petugas itu dan mendapati jantungnya tidak berdetak. Alvin berjalan mendekati Kartika yang masih berdiri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, terlihat menahan tangis karena rasa takut.
"Dia sudah meninggal. Kemungkinan ada yang menerobos bangunan ini." Kata Alvin sambil melihat sekeliling.
"Ayo kita pergi." Kata Kartika terlihat panik dan tidak mampu mengatasi ketakutan dalam dirinya.
"Tidak, aku harus menghentikan peluncuran roket itu. Ada sesuatu yang aneh dari proyek ini." Alvin menatap Kartika dalam-dalam, seperti meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Kartika melihat Alvin dan berusaha menahan tangisnya. Alvin melihatnya seperti anak kecil yang merengek ketakutan, meskipun wajahnya terlihat dewasa tapi sikapnya masih seperti anak-anak.
Alvin tersenyum dan menarik perlahan tangan Kartika. Mereka berdua berjalan menuju ujung lorong.
Di sana mereka menemukan sebuah pintu berwarna putih seperti pintu yang lain tapi tampak lebih besar. Alvin melihat ke dalam melalui kaca di pintu itu. Di dalam terlihat beberapa monitor yang masih menyala dan menunjukkan gambaran tentang peluncuran roket itu. Alvin melihat bagian pintu itu dan menemukan sebuah alat scanner untuk membuka pintu, menempel di sebelah kanan pintu. Alvin melihat alat itu dan teringat kartu id petugas yang sudah tewas di ruangan sebelumnya. Alvin mengatakan kepada Kartika untuk menunggu di tempat itu. Alvin bergegas menuju ruangan tempat petugas itu tergeletak. Setelah mengambil kartu id Si Petugas, Alvin kembali menemui Kartika. Alvin menatap Kartika sebelum menempelkan kartu id itu di scanner kecil di samping pintu. Suara beep terdengar dan Alvin tahu kalau pintu itu terbuka.
Alvin dan Kartika memasuki ruangan yang terdapat 6 monitor kecil dan 1 monitor besar. Setiap monitor menampilkan gambar dari kamera yang di tanam di roket. Tapi kenapa banyak sekali ? Pikir Alvin.
"Ada 6 Zelos di kota ini." Kata Kartika yang mendekati Alvin yang sedang berdiri di depan monitor paling besar di ruangan.
"Apa maksudmu ?" Tanya Alvin.
"Selama 4 tahun, pemerintah membangun 6 Zelos tambahan untuk menyimpan roket dan hari ini ketujuh roket akan diluncurkan bersamaan." Kata Kartika menerangkan.
Alvin tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi, dia memang baru sampai kemarin dan belum sempat berkeliling. Dia menggunakan kapal untuk sampai di kota itu sehingga tidak bisa melihat pemandangan kota dari angkasa.
Alvin kembali melihat monitor besar yang menampilkan 6 kotak gambar yang diambil melalui kamera yang di pasang di setiap roket dalam Zelos. Di pojok kanan atas setiap kotak menunjukkan waktu peluncuran masing-masing roket yang berbeda. Waktu tercepat yang di tunjukkan di sana adalah 30 menit dan waktu itu terus bergerak mundur.
"Aku harus menghentikan ini." Kata Alvin sambil bergerak menuju sebuah monitor kecil dan mulai bermain dengan keyboard di sana.
Kartika hanya bisa melihat Alvin yang begitu serius sambil menahan keinginannya untuk segera pergi dari tempat itu.
"Aku menemukannya." Kata Alvin sambil menatap serius ke arah monitor di depannya.
Kartika berjalan dan berdiri di belakang Alvin kemudian melihat monitor di depan Alvin.
"Zelos yang pernah kita kunjungi adalah Zelos pertama dan tidak termasuk dalam gambar di monitor besar itu. Aku bisa menghentikan peluncurannya dengan mematikan beberapa sistem kendali. Tapi, aku tidak bisa mematikan semua roket." Kata Alvin sambil terus memainkan jarinya di papan ketik.
Beberapa kali bunyi beep terdengar sampai akhirnya Alvin berdiri dan memegang tangan Kartika yang berdiri di belakangnya.
"Aku sudah menghentikannya." Kata Alvin yang kemudian menarik tangan Kartika menuju depan monitor besar.
Disana terlihat waktu tercepat dari peluncuran adalah 20 menit. Masih sempat, pikir Alvin.
"Ayo kita pergi ke Zelos." Kata Alvin yang menatap Kartika yang kebingungan.
Mereka berdua kemudian berlari keluar dari pusat kendali dan menuju rumah Kartika untuk mengambil sepeda milik Alvin. Tapi, Alvin teringat bahwa tidak ada boncengan belakang di sepedanya. Gawat, pikirnya.
Sampai di rumah Kartika, Alvin mengambil sepedanya dan menatap Kartika dengan tatapan bingung. Kartika yang tahu maksud Alvin kemudian berlari ke dalam rumah dan mengeluarkan sebuah sepeda dengan keranjang di depannya dan sebuah boncengan di belakangnya.
*
Alvin memboncengkan Kartika menuju Zelos tempat pertemuan mereka. Seperti sesuatu yang sudah dituliskan oleh sebuah kuasa yang tidak terlihat. Bagaimana secara kebetulan mereka bisa bertemu dan melakukan sebuah kejahatan yang tidak pernah mereka bayangkan. Tapi mungkin dalam pikiran mereka selama itu dilakukan bersama, kejahatan pun menjadi hal yang menyenangkan. Tapi tidak untuk saat ini, 10 menit sebelum peluncuran roket pertama. Alvin dan Kartika mendapati pagar yang melindungi Zelos sudah tidak berdiri tegak. Tidak ada penjaga dan mereka masuk ke dalam Zelos.
Tidak jauh berbeda dari apa yang dilihat Alvin dalam mimpinya. Sebuah roket berbentuk kapsul yang lancip di ujung atasnya, berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Sebuah tangga menempel di dinding mengelilingi Zelos menuju atap. Alvin dan Kartika menaiki tangga itu dan melihat roket yang sangat besar. Ketika mereka keluar dari pintu kotak dan sampai di atap datar berbentuk lingkaran. Mereka disambut dengan suara dentuman luar biasa. Mereka berdua menutup telinga dan merasakan hembusan angin yang sangat kencang. Di kejauhan terlihat sebuah letusan di langit. Sebuah menara seukuran Zelos runtuh dengan cepat dan menimpa rumah penduduk.
"Apa-apaan ini ?" Kata Alvin sambil berjalan melihat kejadian luar biasa itu diikuti Kartika di belakangnya.
Saat itu pukul 5 pagi dan langit masih gelap. Kartika berjalan perlahan mendekat ke tepi menara kemudian melihat ke kejauhan.
"Langitnya sangat indah." Kata Kartika yang melihat jutaan bintang di angkasa dan langit yang membentang membentuk sebuah kubah besar. Di kota itu 5 Zelos terlihat berdiri kokoh.
"Kartika.-"
Alvin melihat Kartika dan merasakan bahwa itu adalah hal terindah yang pernah dia lihat. Pemandangan itu dan perempuan yang dia sukai. Perasaan yang bercampur aduk menjadi satu dan tidak bisa diucapkan. Tapi, saat itu Alvin mengatakan,
"Aku menyukaimu."
Perlahan Kartika membalikan badan kemudian menatap Alvin yang berdiri dan masih tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Sebuah pemandangan luar biasa.
Saat Alvin hendak mengatakan kata-kata selanjutnya, sebuah roket meluncur bersama ekor apinya yang terlihat sangat terang. Sepersekian detik kemudian, roket tercepat yang pernah ditemukan umat manusia itu menghantam langit dan menimbulkan sebuah gambaran seperti kilat raksasa yang menghasilkan cahaya yang luar biasa terang. Saat Alvin dan Kartika menutup mata, terdengar sebuah dentuman dahsyat yang mampu menghasilkan getaran di tanah. Itu adalah roket kedua yang diluncurkan.
Saat suasana kembali tenang, terdengar suara riuh penduduk yang mulai keluar dan memastikan apa yang sedang terjadi.
"Alvin." Kata Kartika.
Alvin menatap perempuan cantik itu.
"Langit indah itu sedang dihancurkan." Lanjut Kartika yang tersenyum kemudian mulai meneteskan air mata.
Alvin tidak bisa mengatakan apapun dan tanpa disadari tubuhnya mendekat ke tubuh Kartika dan memeluknya. Sebuah pelukan hangat yang tidak akan pernah dilupakan.
Roket ke tiga meluncur dan menghasilkan kilatan besar di langit kemudian dentumannya memecah suara tangis Kartika. Sebelum sempat menghabiskan air matanya, Kartika mendengar suara Alvin menyebut namanya.
"Kartika, lihat itu." Alvin menunjuk ke atas langit.
Saat Kartika menghentikan tangisannya dan melihat ke langit, sebuah cahaya besar jatuh menembus lapisan awan hitam dan dengan ekornya meluncur dengan cepat menuju bumi.
Langit yang kehilangan lapisan atmosfernya sangat rentan ditembus oleh benda-benda yang melayang di angkasa. Tentu saja, ribuan meteoroid yang melayang di tata surya sangat menyukai gravitasi bumi. Dengan sebuah luka di atmosfer, meteoroid itu akan berubah menjadi meteor.
Bukan hanya satu tapi ribuan cahaya jatuh dari langit. Seperti ribuan bintang yang marah dan mengeluarkan api. Beramai-ramai menuju bumi.
Alvin dengan cepat menarik tangan Kartika untuk meninggalkan tempat itu, tapi Kartika menahannya. Alvin berhenti dan menatap Kartika yang melihatnya kemudian tersenyum dan berbalik melihat ribuan meteor yang jatuh. Sambil tersenyum dan menangis Kartika berkata,
"Aku ingin melihat akibat dari keserakahan manusia."
Alvin terdiam, kemudian berjalan mendekat di samping Kartika dan melihat pemandangan menakjubkan itu bersama.
"Kartika."
Mereka berdua yang tidak ingin memperhatikan satu sama lain, kemudian menutup mata dan merasakan angin kencang yang berhembus.
"Aku mencintaimu."
Di atas bangunan tertinggi di kota itu. Dua manusia berdiri dan mengungkapkan perasaaan mereka masing-masing, tanpa peduli apa yang terjadi di bawah sana atau apa yang sedang terjadi di dunia ini. Mereka berdua mengakhiri malam itu dengan sebuah ciuman panjang penuh arti sebelum sebuah meteor menghantam Zelos dan meruntuhkannya.
*
Pemerintah melakukan Proyek Zero Grafity sebagai percobaan untuk menembus langit. Proyek itu masih meragukan bahkan untuk pemerintah sendiri, karena itulah proyek besar itu dilakukan di sebuah kota yang sudah tidak layak untuk dihuni manusia. Tentu saja, ribuan korban berjatuhan dan kota padat itu pun hancur di terjang ratusan meteor. Pemerintah yang sudah mengetahui resiko dari proyek ini, meninggalkan kota sebelum roket pertama diluncurkan. Untuk menghindari tanggung jawab negara, proyek itu dianggap sebagai bencana nasional dan pemerintah tidak berniat untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi di kota itu. Dengan begitu, kota padat itu saat ini menjadi kota mati yang tidak pernah dikunjungi manusia di masa depan. Di balik bencana luar biasa itu, ada sebuah kisah yang tidak pernah di dengar oleh generasi selanjutnya. Kisah tentang dua manusia yang jatuh cinta dengan sebuah menara tinggi yang masih menyisakan bagian tubuhnya sebagai saksi bisu bahwa mereka pernah ada.
*
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar