Ini adalah perasaan ketika aku bertemu langsung denganmu untuk pertama kalinya.
Pagi itu, kereta melaju dengan tenang menuju stasiun terakhir sebelum perjalanan menuju tempat yang dijanjikan.
Udara yang hangat dengan mentari pagi yang baru saja muncul, angin sejuk dari pendingin udara yang biasanya akan terasa sangat dingin ketika hujan dan harapan akan sebuah pertemuan yang membuat jantung berdebar lebih cepat.
Yang tidak pernah kulupakan bukan hanya pertemuan itu, tapi juga bagaimana pemandangan yang selalu terlihat kabur dan sesekali memusingkan kepala, suara khas kereta saat melaju dan bagaimana saat dua kereta melaju berseberangan.
Perasaan yang membawaku seperti menjadi anak-anak sekali lagi. Ditemani sebuah lagu yang menggambarkan pertemuan di angkasa dengan sebuah jurus rahasia.
Pohon-pohon masih berdiri berderet di pinggir jalan, meredupkan sinar mentari dan menyejukkan suasana. Seandainya kamu bisa melihatnya, itu adalah sebuah pemandangan dan perasaan yang tidak terlupakan.
Dan ketika degup jantung mencapai puncaknya, yaitu saat aliran darah sepersekian detik berhenti, ketika itu ada dirimu di hadapanku. Dengan keajaiban Tuhan yang menciptakan bentuk dan perasaan yang berbeda ketika sebuah tangan di jabat erat. Dirimu tersenyum dan tertawa sampai helaian rambutmu menyentuh pergelangan tanganku. Dan benar, aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun selama empat puluh detik. Kemudian diiringi perasaan menyesal dan juga rindu yang belum terobati, aku melangkah menjauhi dirimu.
Kemudian beberapa jam berselang sampai aku bisa kembali lagi di hadapanmu dengan dihiasi perasaan yang sama seperti sebelumnya aku mampu mengatakan bahwa aku menyukaimu.
Malam itu, ketika sebuah titik rel terlihat perlahan menjauh. Aku menatap kaca dari dalam kereta, melihat malam yang semakin gelap dan perasaan yang semakin menjauh. Ketika setiap gerbong bergoyang rendah dan tampak sepi dari penumpang, kereta melaju meninggalkan tempat itu.
**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar