Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Jumat, 19 Agustus 2016

[Read] #MyCupOfStory - Cortado 1:1



CORTADO 1:1
“Tingginya gelombang air laut dan iklim yang mulai terlihat tidak normal menyebabkan beberapa negara tropis seperti Indonesia mengalami hujan salju dengan intensitas rendah,bongkahan es Kutub Utara yang mencair menyebabkan air laut meninggi dan merendam beberapa pantai.”

Kota ini dingin. Sejak satu dekade yang lalu, salju sering turun di kota ini. Berita yang kudengar dari televisi tadi pagi, semakin meyakinkanku bahwa kota ini akan membeku. Di jalan setapak yang dihiasi dengan cahaya kemerahan dari lampu kota yang bersinar di atas kepalaku, aku berjalan di tengah dinginnya udara dan malam yang semakin larut. Aku semakin dalam memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket tebal yang kukenakan.

“Selamat datang.” Suara seorang laki-laki yang terdengar ramah menyapaku ketika aku melangkah masuk ke dalam kedai minuman yang terletak di dekat apartemen tempat aku tinggal. Diiringi suara bel yang tergantung di atas pintu juga disambut oleh tatapan penasaran beberapa tamu yang sudah duduk di setiap meja kedai itu.

Kedai ini sudah berdiri sejak beberapa tahun yang lalu, dikelola sendiri oleh pemiliknya yang saat ini sudah akrab denganku karena aku sering mengunjungi kedai ini sepulang kerja.

“Eh, Vino. Bagaimana pekerjaan hari ini ?” Laki-laki berumur sekitar dua puluh tiga tahun yang bernama Kevin itu masih sibuk mengelap gelas di sebuah tempat yang dipisahkan oleh meja panjang dari meja para tamu.

“Seperti biasa. Surat elektronik yang menumpuk, laporan yang harus selesai hari ini dan beberapa kesalahan kecil yang berujung amarah dari atasan.” Aku menjawabnya sambil melepas tudung jaket yang menutupi kepalaku dan duduk di sebuah kursi bundar yang ada di depan meja panjang yang menjadi sekat pemisah antara aku dan Kevin.

“Sepertinya menyusahkan. Mau pesan apa malam ini ?” Kevin sedikit tersenyum dan meletakkan sebuah gelas yang selesai dia bersihkan di sebuah rak kecil di dekatnya.

“Seperti biasa.” Kedai ini menawarkan banyak jenis minuman kopi, tapi karena tidak suka kopi, aku selalu memesan satu gelas susu hangat. Minuman ini yang terbaik di udara dingin seperti ini dibandingkan minuman pahit yang membawa kenangan buruk saat itu.
Aku beranjak duduk di sebuah meja di salah satu sudut ruangan.

“Kau dengar berita tadi pagi ?” Kevin menyajikan segelas susu yang terlihat masih mengepulkan asap.

“Ya. Kurasa dunia semakin kacau. Saat aku masih kecil, aku hanya mengenal musim panas dan hujan. Sekarang malah turun salju seperti ini.” Aku mulai menempelkan kedua tanganku di gelas yang terasa hangat itu.

“Yah. Mungkin itu terlalu jauh untuk kupikirkan. Selamat menikmati.” Kevin beranjak dengan senyum diwajahnya.

Laki-laki dengan celemek hitam, rambut dipangkas rapi dan wajah yang bisa dibilang cukup menarik di kalangan para gadis. Aku yakin dia sangat menikmati pekerjaannya saat ini. Umur kami tidak jauh berbeda, tapi jika dibandingkan diriku, bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang tergolong luar biasa. Pagi yang selalu diwarnai dengan desakan dari ratusan orang di kereta, aroma berbagai jenis parfum yang memenuhi gerbong, membuatku ingin muntah. Pekerjaanku tergolong mudah. Menerima surat elektronik, menyampaikannya kepada atasan dan membuat laporan tentang berbagai hal. Tapi, rasa susu hangat ini lebih baik daripada kehidupanku.

“Terimakasih, Vin. Minumannya enak.” Aku berdiri di depan meja panjang tempat Kevin menyiapkan minuman, meninggalkan tiga lembar uang sepuluh ribuan dan meninggalkan tempat itu diiringi suara bel yang dipasang di atas pintu.

Udara malam semakin dingin. Aku bergegas mempercepat langkahku meninggalkan kedai berwarna merah yang dari tempat ini terlihat sebuah plakat besar bertuliskan “Cortado” menempel di atas kedai itu.

Aku membuka pintu apartemenku yang berwarna abu-abu, melangkah pelan mendekati kasur, melempar tas selempang berat yang kubawa seharian, melompat ke kasur empuk, mencoba melupakan semuanya dan terlelap.

Berawan, suhu delapan belas derajad celcius, kelembaban delapan puluh persen. Aku mematikan pendingin ruangan di kamarku dan memutuskan untuk tidak mandi malam itu.

Bunyi alarm yang memekakan telinga, matahari yang mulai terlihat dari kamarku yang berada di lantai empat dan aktifitas padat yang sudah menunggu membuatku sulit untuk membuka mata yang masih berusaha terlelap untuk tiga jam kedepan. Tadi malam aku bermimpi. Mimpi yang sama setiap malam. Mimpi tentang ayahku dan beberapa kata yang pernah dia sampaikan.

Setelah menggosok gigi, mencuci muka dan akhirnya memutuskan untuk mandi di udara yang mulai menghangat. Kemeja putih, jas dan dasi hitam, celana panjang hitam yang terbuat dari kain halus dan sepatu kulit yang sudah kusemir sampai mengkilat. Terpampang jelas wajahku di cermin. Terkadang aku terlihat menyedihkan.

Ribuan surat elektronik yang mulai tidak kumengerti. Tumpukan kertas yang semakin hari semakin tinggi dan suara uring-uringan dari atasan yang membuatku sadar bahwa aku masih hidup dibawah telunjuk orang lain.

Jam istirahat biasanya aku pergi keluar, membeli minuman kaleng dingin dan duduk di taman yang dipenuhi dengan mainan anak yang terbuat dari besi yang mulai berkarat. Meski disebut taman, tempat ini tidak lebih dari tanah kosong kecil tanpa pemilik.

Saat aku melihat ke atas, aku sering teringat beberapa tahun yang lalu di suatu tempat yang jauh, langit terlihat sangat luas. Tapi entah mengapa, saat ini langit terlihat begitu sempit dan berat.

Tidak seperti kemarin, hari ini aku bisa pulang lebih cepat karena tidak ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Meskipun masih banyak yang harus dikerjakan besok. Setidaknya hari ini aku bisa menikmati segelas susu di Kedai Cortado dengan lebih tenang.

Duduk di salah satu meja sudut ruangan kedai seperti biasa. Kevin segera menyajikan segelas susu hangat kesukaanku. Entah mengapa susu hangat hari ini enak sekali, mungkin karena aku tidak terlalu lelah atau mungkin Kevin menambahkan sesuatu kedalamnya. Aku harus menanyakannya nanti.
Suara pintu terbuka diiringi suara bel dan langkah kaki seseorang memasuki kedai itu. Karena aku adalah tamu pertama, maka orang yang baru masuk adalah tamu kedua untuk hari ini. Karena sedikit penasaran aku melihat ke arah meja panjang tempat tamu memesan dan tempat Kevin menyiapkan minuman.

Di tempat itu, tampak dari tempat ini, tubuh bagus yang terlihat dari samping, wajah cantik yang terlihat dari samping, rambut panjang hitam yang terlihat dari samping. Seorang perempuan dengan pakaian serba hitam dan sepatu cassual coklat, membawa tas hitam yang dia gantungkan di bahu kirinya. Terlihat dari tempat ini, dia sedang memesan sesuatu. Perlahan dia berjalan dan duduk di meja tengah ruangan. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah note book kecil dan meletakannya di atas meja. Dia terlihat menulis sesuatu dalam note book itu. Mungkin pekerjaan atau tugas kuliah. Tapi, sepertinya kami seumuran. Aku kembali menikmati susu hangat yang mulai mendingin. Setelah beberapa saat, Kevin menyajikan secangkir minuman di meja perempuan itu. Kalau boleh menebak, itu mungkin kopi.

Kenapa aku malah memperhatikannya. Sebaiknya aku mengambil buku dari dalam tasku dan membacanya. Sebuah buku kecil berisi puisi para pujangga di masa lalu adalah buku favoritku. Kata-kata mereka kadang bisa membuatku ikut merasakan apa yang mereka rasakan saat menulisnya. Dulu, aku ingin menjadi seorang penulis dan dengan tulisanku aku ingin menyampaikan perasaanku kepada semua orang. Bukankah setiap manusia pernah memiliki mimpi bodoh tentang mengubah dunia ? Walaupun seiring kedewasaan muncul, mimpi itu perlahan lenyap.

Tidak terasa sudah beberapa kali aku mendengar bunyi bel saat pintu kedai dibuka. Mungkin aku harus segera meninggalkan tempat ini dan beristirahat. Tapi, sepertinya perempuan itu masih menikmati aktifitasnya di sana.

Tidak lama setelah aku memikirkan hal itu, perempuan itu menutup note book dan memasukannya ke dalam tas. Kemudian dia berdiri dan beranjak pergi setelah membayar minumannya.
Jam di ponselku sudah menunjukan pukul sembilan malam. Aku segera melangkah mendekati Kevin, menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribuan dan hampir beranjak pergi sebelum sebuah pikiran aneh merasuk ke otakku.

“Kamu kenal dengan perempuan yang duduk di meja tengah tadi ?” Aku menunjuk sebuah meja yang berada di tengah-tengah ruangan.

“Ya. Dia selalu duduk di sana sejak beberapa bulan yang lalu.”

“Baru pertama kali lihat.” Aku melihat meja tempat duduk perempuan tadi.

“Kamu tidak pernah melihat sekitarmu sih. Paling cuma pesan, minum kemudian pergi.” Kevin sedikit tertawa meledek sifatku yang tidak pernah peduli dengan sekitarku.

“Namanya Rena, dia karyawati di sebuah perusahaan di pusat kota. Dia sering mampir di sini seperti tadi, kamu nggak pernah ketemu karena datang ke sini saat dia sudah pulang.”

“Oh. Rena ya. Ngomong-ngomong, tadi dia pesan apa ?”

“Kopi hitam.”

Perempuan yang suka kopi ternyata. Berbeda denganku yang tidak pernah minum kopi sebelumnya. Mungkin kami tidak akan cocok. Setelah berpikir demikian aku memutuskan untuk pulang.
Kopi hitam. Hasil ekstraksi langsung dari rebusan biji kopi yang disajikan tanpa penambahan perisa apapun. Itu yang kuketahui dari informasi di internet. Sebagai pecinta makanan dan minuman manis, mungkin rasa pahitnya tidak bisa kubayangkan. Bahkan dalam lelap tidur malam ini, aku tidak bisa membayangkan rasa kopi hitam itu. Mungkin karena aku tidak pernah minum kopi sebelumnya atau setidaknya setelah kejadian itu, aku tidak ingin lagi menikmati rasa dari minuman pahit itu.

Satu minggu berlalu dan aku selalu mendapatkan jatah pulang awal karena pekerjaanku bisa kuselesaikan tepat waktu. Karena hal itulah aku bisa mampir ke Kedai Cortado lebih awal dan menikmati segelas susu hangat sambil melihat cantiknya wajah Rena yang serius dengan note book nya. Selama satu minggu ini aku selalu menanyakan minuman apa yang Rena pesan sebelum memutuskan untuk pulang. Setelah mengetahui apa yang dia pesan, aku akan mencari informasi tentang minuman itu melalui internet. Semuanya adalah jenis-jenis minuman kopi. Mulai dari Espresso yang merupakan kopi yang dibuat dengan mengekstraksi biji kopi menggunakan uap panas pada tekanan tinggi, Latte yang merupakan sejenis kopi Espresso yang ditambahkan susu, Cafe au lait yang merupakan kopi hitam yang dicampur dengan susu dengan perbandingan tertentu dan juga Cappuccino yang merupakan kopi dengan penambahan susu, krim dan serpihan coklat. Mungkin itu beberapa menu dari Kedai Cortado yang sudah pernah dipesan oleh Rena, mungkin aku bisa meminum salah satu kopi yang dicampur dengan susu, tapi sepertinya tidak.

Hari ini, karena ada pekerjaan yang belum selesai, akhirnya aku pulang terlambat. Tapi aku tetap mengunjungi Kedai Cortado meskipun aku tidak akan melihat Rena di kedai itu.

“Vin, tadi Rena pesan apa ?” Aku berniat membayar dan langsung pulang karena badanku sepertinya sudah tidak kuat untuk melangkah satu kali lagi.

“Kopi hitam.” Kevin menjawab dengan tenang karena sudah terbiasa mendengar pertanyaan ini.

“Hah. Kopi hitam lagi ?” Aku sedikit kaget karena biasanya dia selalu memesan minuman yang berbeda.

“Ya. Dia sudah menikmati semua menu yang ada di kedai ini. Jadi setiap hari Senin dia akan memesan mulai dari kopi hitam dan seterusnya seperti minggu lalu.” Mendengar hal itu aku tidak mengatakan apapun dan memutuskan untuk pulang.

“Tunggu, Vino.” Aku menoleh karena mendengar seperti Kevin memanggilku.

“Sebaiknya kamu mencoba mendekatinya. Kalau terus bersembunyi, kamu juga tidak akan mengetahui apapun tentangnya.” Kevin mengatakan itu sambil melihatku yang sudah mendekati pintu keluar. Aku tidak menjawabnya dan memutuskan untuk pulang.

Hari Kamis di sebuah tempat yang berada di lantai lima sebuah gedung di pusat kota. Entah mengapa pada pukul empat sore seperti saat ini, cuaca begitu dingin dan di luar terlihat gelap gulita seperti pukul sepuluh malam. Aku akhirnya memutuskan untuk pulang dan meninggalkan beberapa pekerjaan yang belum selesai.

Di jalan raya, lampu-lampu kota sudah dinyalakan seperti hari sudah larut malam. Kendaraan juga mulai sepi. Jaket tebal yang kupakai tidak mampu menahan dinginnya sore itu. Aku bergegas menuju stasiun untuk mendapatkan kereta secepat mungkin. Aku memutuskan untuk tidak mampir ke Kedai Cortado karena cuaca sedikit aneh. Perasaan takut bahkan mulai membayangiku. Mendung di atas sana pasti sangat tebal sampai mampu menutupi sinar matahari.

“Pemerintah telah mengumumkan keadaan darurat di seluruh kota malam ini, kemungkinan akan terjadi penurunan suhu yang besar dikarenakan longsornya ribuan kubik es di Kutub Utara. Kepada semua masyarakat diharapkan untuk tidak keluar rumah.” Suara seorang reporter wanita terdengar dari televisi yang terpasang di dalam kamar apartemenku.

Absolute Zero adalah keadaan dimana suhu bumi berada di titik terendah yang akan mengakibatkan pembekuan sementara. Aku pernah membaca artikel tentang bencana ini. Meskipun pemerintah mencoba menenangkan masyarakat dan tidak menyiarkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, tapi pembekuan sementara tetap akan memusnahkan manusia dalam sekejap.

Aku sedikit takut mendengar berita tadi. Tapi, ada perasaan aneh yang menggelayuti pikiranku saat ini. Pikiran tentang seseorang. Bukan. Ini tentang sebuah tempat yang jauh dari tempat ini. Itu kampung halamanku. Ada ayah yang sedang duduk di sebuah gubuk kecil dengan ditemani secangkir kopi hitam. Di tengah persawahan yang hijau. Waktu itu ayah berkata “Kalau kamu ingin menjadi seoarang penulis atau apapun yang menjadi mimpimu saat ini, silahkan saja. Ayah tidak melarangmu berbuat apapun yang kamu sukai. Tapi, ayah memiliki satu pesan untukmu. Saat kamu sudah serius dengan mimpimu dan kamu mendapati jalan terjal atau bahkan kegagalan, kamu harus tetap hidup dan berjuang.” Dengan disinari mentari siang hari yang terik, angin yang sejuk dan langit biru yang membentang tanpa batas, ayah mengatakan hal itu sambil tersenyum dan menikmati kopi hitamnya. Terlihat sangat bahagia. Kemudian dengan berbekal tekad, aku pergi ke ibu kota dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis, tapi karena tulisanku selalu ditolak oleh penerbit dan aku juga membutuhkan uang untuk hidup, aku akhirnya memutuskan menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Lima tahun kemudian, aku mendapat kabar bahwa ayahku meninggal karena penyakit jantung. Dokter mengatakan, hal itu disebabkan karena ayah terlalu banyak mengkonsumsi kafein yang terkandung dalam kopi. Dan setelah kejadian itu, aku tidak pernah menyentuh minuman yang telah membunuh ayahku.
Entahlah, kenapa aku memikirkan hal itu. Tulang-tulangku rasanya seperti membeku, selimut tebal yang kupakai tidak mampu menahan dinginnya udara saat ini. Aku tidak tau pikiran apa yang merasukiku. Aku membuka selimut tebal ini, membuka pintu apartemenku dan tanpa sempat menguncinya aku berlari sekuat tenaga menuju Kedai Cortado.

Aku membuka pintu kedai itu dan melihat tidak ada satu pun orang di tempat itu. Aku tau kakiku bergetar hebat, tapi aku melangkah dengan pasti menuju meja panjang tempat Kevin menyiapkan minuman. Aku melihat ke bagian lain yang disekat meja panjang itu.

“Kevin!” Aku berlari mendekati Kevin yang tergeletak sambil menggigil hebat di lantai. Aku mencoba menghangatkannya dengan jaket yang tergantung di sebelah meja panjang itu.

Aku mengangkat Kevin dan membawanya ke dalam ruangan yang berada di balik tempat Kevin menyiapkan minuman. Di dalam ruangan itu ada sebuah kompor listrik yang digunakan untuk memasak air. Aku segera menyalakan kompor itu dan mendekatkan diriku dan Kevin ke arah kompor itu. Sedikit demi sedikit kesadaran Kevin mulai terkumpul. Tapi kompor listrik ini tidak akan bertahan lama karena pemadaman besar sudah terjadi dan kedai ini hanya ditenagai oleh sebuah alat yang menyimpan listrik dengan kapasitas tertentu.

“Maukah kau meminum kopi buatanku ?” Tiba-tiba Kevin mulai berdiri dan mendekatiku yang masih terbungkus selimut tebal.

Tanpa sepatah kata pun, kami berdua mulai berjalan menuju tempat yang seharusnya. Kevin menyiapkan minuman dan aku duduk di meja tengah ruangan.

“Kau lihat berita ? Mungkin kota ini akan mati malam ini.” Aku berbicara sambil melihat Kevin yang mulai memakai celemek yang tergantung di tempat biasa.

“Ya. Kurasa begitu. Apa kita akan mati malam ini ?” Kevin mulai sibuk menyiapkan minuman yang akan dia sajikan kepadaku.

Aku tidak menanggapi apa yang dia katakan saat itu. Pikiranku melayang tanpa tujuan. Kemudian timbul pertanyaan, apa aku sudah gagal saat ini ? Aku tidak bisa menjawab mimpi yang seharusnya kuperjuangkan, nasehat dari ayahku dan bahkan aku tidak bisa menyapa perempuan yang kusukai.
Tangan Kevin bergetar hebat saat menyajikan minuman di hadapanku tanpa sepatah kata pun, aku tau kalau itu mungkin minuman terakhir yang bisa dia sajikan. Bukannya aku tidak memiliki perasaan, tapi aku tau bahwa Kevin juga menginginkan hal ini.

“Kling !”

Pandanganku teralih dari secangkir minuman berwarna coklat tua dengan kepulan asap yang pasti akan hilang beberapa detik lagi, menuju ke satu-satunya yang terpasang di kedai itu. Seorang perempuan dengan jaket biru tebal, rambut yang tertutup tudung jaket, menggigil kedinginan dan berjalan perlahan mendekati meja tempat aku duduk.

“Boleh aku duduk di sini ?” Seorang perempuan yang tidak bisa disebut sebagai seseorang yang ku kenal, tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak mengenalnya. Rena.

Rena mulai duduk dan tanpa sepatah kata pun Kevin berjalan dengan sempoyongan untuk membuatkan secangkir minuman. Rena tampak cantik saat itu. Tubuhnya menggigil hebat dengan asap yang keluar dari mulutnya. Aku tidak bisa mengatakan apapun, tanganku masih menggenggam erat cangkir yang mulai mendingin. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan.

Kevin meletakkan secangkir minuman dengan sempurna, tanpa berkata apapun dia ambruk ke lantai di dekat Rena duduk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhku kaku. Tidak bisa bergerak. Perlahan Rena mengambil secangkir minuman yang ada di hadapannya dan meminumnya sedikit.

Cortado campuran kopi dan susu dengan perbandingin satu banding satu. Kopi yang digunakan kedai ini berasal dari Toraja, sebuah tempat penghasil kopi terbaik di bagian utara negara ini.” Aku tau Rena memiliki pengetahuan yang luas tentang kopi. Tapi, aku yang sejak beberapa minggu yang lalu mulai mencari informasi tentang minuman ini karena ingin memiliki bahan obrolan ketika aku siap untuk mendekati perempuan yang kusukai, ternyata tidak mengetahui apapun. Bahkan aku tidak bisa merasakan apapun atau mengatakan sesuatu. Perlahan aku mendekatkan secangkir Cortado itu ke bibir, memasukkan sedikit cairan ke dalam mulutku dan merasakannya. Diselimuti dinginnya udara yang tidak normal, teman yang tergeletak di lantai dan seorang perempuan kaku yang kusukai. Aku merasakannya. Antara pahit dan manis, antara susu dan kopi bergabung menjadi satu. Perlahan memenuhi mulutku dan menjalar ke otakku.


Di bayangi kehangatan secangkir Cortado dingin, dalam diam kota ini mulai membeku.



[Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory yang Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story