CORTADO 1:1
“Tingginya gelombang
air laut dan iklim yang mulai terlihat tidak normal menyebabkan beberapa negara
tropis seperti Indonesia mengalami hujan salju dengan intensitas
rendah,bongkahan es Kutub Utara yang mencair menyebabkan air laut meninggi dan merendam
beberapa pantai.”
Kota ini dingin. Sejak satu dekade yang lalu, salju sering
turun di kota ini. Berita yang kudengar dari televisi tadi pagi, semakin
meyakinkanku bahwa kota ini akan membeku. Di jalan setapak yang dihiasi dengan
cahaya kemerahan dari lampu kota yang bersinar di atas kepalaku, aku berjalan
di tengah dinginnya udara dan malam yang semakin larut. Aku semakin dalam
memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket tebal yang kukenakan.
“Selamat datang.” Suara seorang laki-laki yang terdengar
ramah menyapaku ketika aku melangkah masuk ke dalam kedai minuman yang terletak
di dekat apartemen tempat aku tinggal. Diiringi suara bel yang tergantung di
atas pintu juga disambut oleh tatapan penasaran beberapa tamu yang sudah duduk
di setiap meja kedai itu.
Kedai ini sudah berdiri sejak beberapa tahun yang lalu, dikelola
sendiri oleh pemiliknya yang saat ini sudah akrab denganku karena aku sering
mengunjungi kedai ini sepulang kerja.
“Eh, Vino. Bagaimana pekerjaan hari ini ?” Laki-laki berumur
sekitar dua puluh tiga tahun yang bernama Kevin itu masih sibuk mengelap gelas
di sebuah tempat yang dipisahkan oleh meja panjang dari meja para tamu.
“Seperti biasa. Surat elektronik yang menumpuk, laporan yang
harus selesai hari ini dan beberapa kesalahan kecil yang berujung amarah dari
atasan.” Aku menjawabnya sambil melepas tudung jaket yang menutupi kepalaku dan
duduk di sebuah kursi bundar yang ada di depan meja panjang yang menjadi sekat
pemisah antara aku dan Kevin.
“Sepertinya menyusahkan. Mau pesan apa malam ini ?” Kevin
sedikit tersenyum dan meletakkan sebuah gelas yang selesai dia bersihkan di
sebuah rak kecil di dekatnya.
“Seperti biasa.” Kedai ini menawarkan banyak jenis minuman
kopi, tapi karena tidak suka kopi, aku selalu memesan satu gelas susu hangat. Minuman
ini yang terbaik di udara dingin seperti ini dibandingkan minuman pahit yang
membawa kenangan buruk saat itu.
Aku beranjak duduk di sebuah meja di salah satu sudut
ruangan.
“Kau dengar berita tadi pagi ?” Kevin menyajikan segelas
susu yang terlihat masih mengepulkan asap.
“Ya. Kurasa dunia semakin kacau. Saat aku masih kecil, aku
hanya mengenal musim panas dan hujan. Sekarang malah turun salju seperti ini.” Aku
mulai menempelkan kedua tanganku di gelas yang terasa hangat itu.
“Yah. Mungkin itu terlalu jauh untuk kupikirkan. Selamat
menikmati.” Kevin beranjak dengan senyum diwajahnya.
Laki-laki dengan celemek hitam, rambut dipangkas rapi dan
wajah yang bisa dibilang cukup menarik di kalangan para gadis. Aku yakin dia
sangat menikmati pekerjaannya saat ini. Umur kami tidak jauh berbeda, tapi jika
dibandingkan diriku, bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang
tergolong luar biasa. Pagi yang selalu diwarnai dengan desakan dari ratusan
orang di kereta, aroma berbagai jenis parfum yang memenuhi gerbong, membuatku
ingin muntah. Pekerjaanku tergolong mudah. Menerima surat elektronik,
menyampaikannya kepada atasan dan membuat laporan tentang berbagai hal. Tapi,
rasa susu hangat ini lebih baik daripada kehidupanku.
“Terimakasih, Vin. Minumannya enak.” Aku berdiri di depan
meja panjang tempat Kevin menyiapkan minuman, meninggalkan tiga lembar uang
sepuluh ribuan dan meninggalkan tempat itu diiringi suara bel yang dipasang di
atas pintu.
Udara malam semakin dingin. Aku bergegas mempercepat
langkahku meninggalkan kedai berwarna merah yang dari tempat ini terlihat
sebuah plakat besar bertuliskan “Cortado”
menempel di atas kedai itu.
Aku membuka pintu apartemenku yang berwarna abu-abu,
melangkah pelan mendekati kasur, melempar tas selempang berat yang kubawa
seharian, melompat ke kasur empuk, mencoba melupakan semuanya dan terlelap.
Berawan, suhu delapan belas derajad celcius, kelembaban delapan puluh persen. Aku mematikan pendingin
ruangan di kamarku dan memutuskan untuk tidak mandi malam itu.
Bunyi alarm yang memekakan telinga, matahari yang mulai
terlihat dari kamarku yang berada di lantai empat dan aktifitas padat yang
sudah menunggu membuatku sulit untuk membuka mata yang masih berusaha terlelap
untuk tiga jam kedepan. Tadi malam aku bermimpi. Mimpi yang sama setiap malam.
Mimpi tentang ayahku dan beberapa kata yang pernah dia sampaikan.
Setelah menggosok gigi, mencuci muka dan akhirnya memutuskan
untuk mandi di udara yang mulai menghangat. Kemeja putih, jas dan dasi hitam,
celana panjang hitam yang terbuat dari kain halus dan sepatu kulit yang sudah
kusemir sampai mengkilat. Terpampang jelas wajahku di cermin. Terkadang aku
terlihat menyedihkan.
Ribuan surat elektronik yang mulai tidak kumengerti. Tumpukan
kertas yang semakin hari semakin tinggi dan suara uring-uringan dari atasan yang membuatku sadar bahwa aku masih
hidup dibawah telunjuk orang lain.
Jam istirahat biasanya aku pergi keluar, membeli minuman
kaleng dingin dan duduk di taman yang dipenuhi dengan mainan anak yang terbuat
dari besi yang mulai berkarat. Meski disebut taman, tempat ini tidak lebih dari
tanah kosong kecil tanpa pemilik.
Saat aku melihat ke atas, aku sering teringat beberapa tahun
yang lalu di suatu tempat yang jauh, langit terlihat sangat luas. Tapi entah
mengapa, saat ini langit terlihat begitu sempit dan berat.
Tidak seperti kemarin, hari ini aku bisa pulang lebih cepat
karena tidak ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Meskipun masih
banyak yang harus dikerjakan besok. Setidaknya hari ini aku bisa menikmati
segelas susu di Kedai Cortado dengan
lebih tenang.
Duduk di salah satu meja sudut ruangan kedai seperti biasa.
Kevin segera menyajikan segelas susu hangat kesukaanku. Entah mengapa susu
hangat hari ini enak sekali, mungkin karena aku tidak terlalu lelah atau
mungkin Kevin menambahkan sesuatu kedalamnya. Aku harus menanyakannya nanti.
Suara pintu terbuka diiringi suara bel dan langkah kaki
seseorang memasuki kedai itu. Karena aku adalah tamu pertama, maka orang yang
baru masuk adalah tamu kedua untuk hari ini. Karena sedikit penasaran aku melihat
ke arah meja panjang tempat tamu memesan dan tempat Kevin menyiapkan minuman.
Di tempat itu, tampak dari tempat ini, tubuh bagus yang
terlihat dari samping, wajah cantik yang terlihat dari samping, rambut panjang
hitam yang terlihat dari samping. Seorang perempuan dengan pakaian serba hitam
dan sepatu cassual coklat, membawa
tas hitam yang dia gantungkan di bahu kirinya. Terlihat dari tempat ini, dia
sedang memesan sesuatu. Perlahan dia berjalan dan duduk di meja tengah ruangan.
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah note
book kecil dan meletakannya di atas meja. Dia terlihat menulis sesuatu
dalam note book itu. Mungkin
pekerjaan atau tugas kuliah. Tapi, sepertinya kami seumuran. Aku kembali
menikmati susu hangat yang mulai mendingin. Setelah beberapa saat, Kevin
menyajikan secangkir minuman di meja perempuan itu. Kalau boleh menebak, itu
mungkin kopi.
Kenapa aku malah memperhatikannya. Sebaiknya aku mengambil
buku dari dalam tasku dan membacanya. Sebuah buku kecil berisi puisi para
pujangga di masa lalu adalah buku favoritku. Kata-kata mereka kadang bisa
membuatku ikut merasakan apa yang mereka rasakan saat menulisnya. Dulu, aku
ingin menjadi seorang penulis dan dengan tulisanku aku ingin menyampaikan
perasaanku kepada semua orang. Bukankah setiap manusia pernah memiliki mimpi
bodoh tentang mengubah dunia ? Walaupun seiring kedewasaan muncul, mimpi itu perlahan
lenyap.
Tidak terasa sudah beberapa kali aku mendengar bunyi bel
saat pintu kedai dibuka. Mungkin aku harus segera meninggalkan tempat ini dan beristirahat.
Tapi, sepertinya perempuan itu masih menikmati aktifitasnya di sana.
Tidak lama setelah aku memikirkan hal itu, perempuan itu
menutup note book dan memasukannya ke
dalam tas. Kemudian dia berdiri dan beranjak pergi setelah membayar minumannya.
Jam di ponselku sudah menunjukan pukul sembilan malam. Aku
segera melangkah mendekati Kevin, menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribuan
dan hampir beranjak pergi sebelum sebuah pikiran aneh merasuk ke otakku.
“Kamu kenal dengan
perempuan yang duduk di meja tengah tadi ?” Aku menunjuk sebuah meja yang
berada di tengah-tengah ruangan.
“Ya. Dia selalu duduk di
sana sejak beberapa bulan yang lalu.”
“Baru pertama kali
lihat.” Aku melihat meja tempat duduk perempuan tadi.
“Kamu tidak pernah
melihat sekitarmu sih. Paling cuma pesan, minum kemudian
pergi.” Kevin sedikit tertawa meledek sifatku yang tidak pernah peduli dengan
sekitarku.
“Namanya Rena, dia
karyawati di sebuah perusahaan di pusat kota. Dia sering mampir di sini seperti
tadi, kamu nggak pernah ketemu karena
datang ke sini saat dia sudah pulang.”
“Oh. Rena ya. Ngomong-ngomong, tadi dia pesan apa ?”
“Kopi hitam.”
Perempuan yang suka kopi
ternyata. Berbeda denganku yang tidak pernah minum kopi sebelumnya. Mungkin
kami tidak akan cocok. Setelah berpikir demikian aku memutuskan untuk pulang.
Kopi hitam. Hasil
ekstraksi langsung dari rebusan biji kopi yang disajikan tanpa penambahan
perisa apapun. Itu yang kuketahui dari informasi di internet. Sebagai pecinta
makanan dan minuman manis, mungkin rasa pahitnya tidak bisa kubayangkan. Bahkan
dalam lelap tidur malam ini, aku tidak bisa membayangkan rasa kopi hitam itu.
Mungkin karena aku tidak pernah minum kopi sebelumnya atau setidaknya setelah
kejadian itu, aku tidak ingin lagi menikmati rasa dari minuman pahit itu.
Satu minggu berlalu dan
aku selalu mendapatkan jatah pulang awal karena pekerjaanku bisa kuselesaikan
tepat waktu. Karena hal itulah aku bisa mampir
ke Kedai Cortado lebih awal dan
menikmati segelas susu hangat sambil melihat cantiknya wajah Rena yang serius
dengan note book nya. Selama satu
minggu ini aku selalu menanyakan minuman apa yang Rena pesan sebelum memutuskan
untuk pulang. Setelah mengetahui apa yang dia pesan, aku akan mencari informasi
tentang minuman itu melalui internet. Semuanya adalah jenis-jenis minuman kopi.
Mulai dari Espresso yang merupakan
kopi yang dibuat dengan mengekstraksi biji kopi menggunakan uap panas pada
tekanan tinggi, Latte yang merupakan
sejenis kopi Espresso yang
ditambahkan susu, Cafe au lait yang
merupakan kopi hitam yang dicampur dengan susu dengan perbandingan tertentu dan
juga Cappuccino yang merupakan kopi
dengan penambahan susu, krim dan serpihan coklat. Mungkin itu beberapa menu
dari Kedai Cortado yang sudah pernah
dipesan oleh Rena, mungkin aku bisa meminum salah satu kopi yang dicampur
dengan susu, tapi sepertinya tidak.
Hari ini, karena ada
pekerjaan yang belum selesai, akhirnya aku pulang terlambat. Tapi aku tetap
mengunjungi Kedai Cortado meskipun
aku tidak akan melihat Rena di kedai itu.
“Vin, tadi Rena pesan apa
?” Aku berniat membayar dan langsung pulang karena badanku sepertinya sudah
tidak kuat untuk melangkah satu kali lagi.
“Kopi hitam.” Kevin
menjawab dengan tenang karena sudah terbiasa mendengar pertanyaan ini.
“Hah. Kopi hitam lagi ?”
Aku sedikit kaget karena biasanya dia selalu memesan minuman yang berbeda.
“Ya. Dia sudah menikmati
semua menu yang ada di kedai ini. Jadi setiap hari Senin dia akan memesan mulai
dari kopi hitam dan seterusnya seperti minggu lalu.” Mendengar hal itu aku
tidak mengatakan apapun dan memutuskan untuk pulang.
“Tunggu, Vino.” Aku
menoleh karena mendengar seperti Kevin memanggilku.
“Sebaiknya kamu mencoba
mendekatinya. Kalau terus bersembunyi, kamu juga tidak akan mengetahui apapun
tentangnya.” Kevin mengatakan itu sambil melihatku yang sudah mendekati pintu
keluar. Aku tidak menjawabnya dan memutuskan untuk pulang.
Hari Kamis di sebuah
tempat yang berada di lantai lima sebuah gedung di pusat kota. Entah mengapa
pada pukul empat sore seperti saat ini, cuaca begitu dingin dan di luar
terlihat gelap gulita seperti pukul sepuluh malam. Aku akhirnya memutuskan
untuk pulang dan meninggalkan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
Di jalan raya,
lampu-lampu kota sudah dinyalakan seperti hari sudah larut malam. Kendaraan
juga mulai sepi. Jaket tebal yang kupakai tidak mampu menahan dinginnya sore
itu. Aku bergegas menuju stasiun untuk mendapatkan kereta secepat mungkin. Aku
memutuskan untuk tidak mampir ke Kedai Cortado karena cuaca sedikit aneh.
Perasaan takut bahkan mulai membayangiku. Mendung di atas sana pasti sangat
tebal sampai mampu menutupi sinar matahari.
“Pemerintah telah
mengumumkan keadaan darurat di seluruh kota malam ini, kemungkinan akan terjadi
penurunan suhu yang besar dikarenakan longsornya ribuan kubik es di Kutub
Utara. Kepada semua masyarakat diharapkan untuk tidak keluar rumah.” Suara
seorang reporter wanita terdengar dari televisi yang terpasang di dalam kamar
apartemenku.
Absolute Zero adalah
keadaan dimana suhu bumi berada di titik terendah yang akan mengakibatkan
pembekuan sementara. Aku pernah membaca artikel tentang bencana ini. Meskipun
pemerintah mencoba menenangkan masyarakat dan tidak menyiarkan kemungkinan
terburuk yang bisa terjadi, tapi pembekuan sementara tetap akan memusnahkan
manusia dalam sekejap.
Aku sedikit takut mendengar berita tadi. Tapi, ada perasaan
aneh yang menggelayuti pikiranku saat ini. Pikiran tentang seseorang. Bukan.
Ini tentang sebuah tempat yang jauh dari tempat ini. Itu kampung halamanku. Ada
ayah yang sedang duduk di sebuah gubuk kecil dengan ditemani secangkir kopi
hitam. Di tengah persawahan yang hijau. Waktu itu ayah berkata “Kalau kamu ingin menjadi seoarang penulis
atau apapun yang menjadi mimpimu saat ini, silahkan saja. Ayah tidak melarangmu
berbuat apapun yang kamu sukai. Tapi, ayah memiliki satu pesan untukmu. Saat
kamu sudah serius dengan mimpimu dan kamu mendapati jalan terjal atau bahkan
kegagalan, kamu harus tetap hidup dan berjuang.” Dengan disinari mentari
siang hari yang terik, angin yang sejuk dan langit biru yang membentang tanpa
batas, ayah mengatakan hal itu sambil tersenyum dan menikmati kopi hitamnya.
Terlihat sangat bahagia. Kemudian dengan berbekal tekad, aku pergi ke ibu kota
dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis, tapi karena tulisanku selalu
ditolak oleh penerbit dan aku juga membutuhkan uang untuk hidup, aku akhirnya
memutuskan menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Lima tahun kemudian, aku
mendapat kabar bahwa ayahku meninggal karena penyakit jantung. Dokter
mengatakan, hal itu disebabkan karena ayah terlalu banyak mengkonsumsi kafein
yang terkandung dalam kopi. Dan setelah kejadian itu, aku tidak pernah
menyentuh minuman yang telah membunuh ayahku.
Entahlah, kenapa aku memikirkan
hal itu. Tulang-tulangku rasanya seperti membeku, selimut tebal yang kupakai
tidak mampu menahan dinginnya udara saat ini. Aku tidak tau pikiran apa yang
merasukiku. Aku membuka selimut tebal ini, membuka pintu apartemenku dan tanpa
sempat menguncinya aku berlari sekuat tenaga menuju Kedai Cortado.
Aku membuka pintu kedai
itu dan melihat tidak ada satu pun orang di tempat itu. Aku tau kakiku bergetar
hebat, tapi aku melangkah dengan pasti menuju meja panjang tempat Kevin
menyiapkan minuman. Aku melihat ke bagian lain yang disekat meja panjang itu.
“Kevin!” Aku berlari
mendekati Kevin yang tergeletak sambil menggigil hebat di lantai. Aku mencoba
menghangatkannya dengan jaket yang tergantung di sebelah meja panjang itu.
Aku mengangkat Kevin dan
membawanya ke dalam ruangan yang berada di balik tempat Kevin menyiapkan
minuman. Di dalam ruangan itu ada sebuah kompor listrik yang digunakan untuk
memasak air. Aku segera menyalakan kompor itu dan mendekatkan diriku dan Kevin
ke arah kompor itu. Sedikit demi sedikit kesadaran Kevin mulai terkumpul. Tapi
kompor listrik ini tidak akan bertahan lama karena pemadaman besar sudah
terjadi dan kedai ini hanya ditenagai oleh sebuah alat yang menyimpan listrik
dengan kapasitas tertentu.
“Maukah kau meminum kopi
buatanku ?” Tiba-tiba Kevin mulai berdiri dan mendekatiku yang masih terbungkus
selimut tebal.
Tanpa sepatah kata pun, kami
berdua mulai berjalan menuju tempat yang seharusnya. Kevin menyiapkan minuman
dan aku duduk di meja tengah ruangan.
“Kau lihat berita ?
Mungkin kota ini akan mati malam ini.” Aku berbicara sambil melihat Kevin yang
mulai memakai celemek yang tergantung di tempat biasa.
“Ya. Kurasa begitu. Apa
kita akan mati malam ini ?” Kevin mulai sibuk menyiapkan minuman yang akan dia
sajikan kepadaku.
Aku tidak menanggapi apa
yang dia katakan saat itu. Pikiranku melayang tanpa tujuan. Kemudian timbul
pertanyaan, apa aku sudah gagal saat ini ? Aku tidak bisa menjawab mimpi yang
seharusnya kuperjuangkan, nasehat dari ayahku dan bahkan aku tidak bisa menyapa
perempuan yang kusukai.
Tangan Kevin bergetar
hebat saat menyajikan minuman di hadapanku tanpa sepatah kata pun, aku tau
kalau itu mungkin minuman terakhir yang bisa dia sajikan. Bukannya aku tidak
memiliki perasaan, tapi aku tau bahwa Kevin juga menginginkan hal ini.
“Kling !”
Pandanganku teralih dari
secangkir minuman berwarna coklat tua dengan kepulan asap yang pasti akan
hilang beberapa detik lagi, menuju ke satu-satunya yang terpasang di kedai itu.
Seorang perempuan dengan jaket biru tebal, rambut yang tertutup tudung jaket,
menggigil kedinginan dan berjalan perlahan mendekati meja tempat aku duduk.
“Boleh aku duduk di sini
?” Seorang perempuan yang tidak bisa disebut sebagai seseorang yang ku kenal,
tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak mengenalnya. Rena.
Rena mulai duduk dan
tanpa sepatah kata pun Kevin berjalan dengan sempoyongan untuk membuatkan
secangkir minuman. Rena tampak cantik saat itu. Tubuhnya menggigil hebat dengan
asap yang keluar dari mulutnya. Aku tidak bisa mengatakan apapun, tanganku
masih menggenggam erat cangkir yang mulai mendingin. Aku tidak tau apa yang
harus kulakukan.
Kevin meletakkan
secangkir minuman dengan sempurna, tanpa berkata apapun dia ambruk ke lantai di
dekat Rena duduk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhku kaku. Tidak bisa
bergerak. Perlahan Rena mengambil secangkir minuman yang ada di hadapannya dan
meminumnya sedikit.
“Cortado campuran kopi dan susu dengan perbandingin satu banding
satu. Kopi yang digunakan kedai ini berasal dari Toraja, sebuah tempat
penghasil kopi terbaik di bagian utara negara ini.” Aku tau Rena memiliki
pengetahuan yang luas tentang kopi. Tapi, aku yang sejak beberapa minggu yang
lalu mulai mencari informasi tentang minuman ini karena ingin memiliki bahan obrolan
ketika aku siap untuk mendekati perempuan yang kusukai, ternyata tidak
mengetahui apapun. Bahkan aku tidak bisa merasakan apapun atau mengatakan
sesuatu. Perlahan aku mendekatkan secangkir Cortado
itu ke bibir, memasukkan sedikit cairan ke dalam mulutku dan merasakannya. Diselimuti
dinginnya udara yang tidak normal, teman yang tergeletak di lantai dan seorang
perempuan kaku yang kusukai. Aku merasakannya. Antara pahit dan manis, antara
susu dan kopi bergabung menjadi satu. Perlahan memenuhi mulutku dan menjalar ke
otakku.
Di bayangi kehangatan
secangkir Cortado dingin, dalam diam
kota ini mulai membeku.
[Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory yang Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar