Mungkin beberapa hal di dunia ini kadang mustahil menurut
beberapa orang. Kadang orang-orang sering bertanya untuk apa melakukan hal
seperti itu ? Untuk apa menikmati hal seperti itu ?
Kadang pertanyaan itu muncul dalam diriku dan pertanyaan itu
tertuju kepada diriku sendiri.
--
Sudah 13 tahun berlalu sejak aku mengenal Angga dan sudah 3 tahun berlalu sejak kami menyatukan impian kami.
Di sebuah gua yang gelap, kami berdua berjalan di bawah
lindungan bebatuan yang teduh. Kami berjalan seakan kami sudah hafal setiap
sudut jalan menuju ujung lorong ini. Sebuah tempat yang bercahaya. Cahaya yang
dihasilkan oleh lampu minyak tanah yang kami letakkan di sana. Sedikit demi
sedikit terowongan ini menuju akhirnya dan saat kami sampai terlihatlah sebuah
kayu berlapis plitur yang sudah tersusun sedemikian rupa membentuk sebuah
rangka kapal yang akan mengantarkan kami ke Pulau Tengah. Sebuah rangka kapal
berukuran 3 kali 1 meter dengan tinggi 700 sentimeter. Di sampingnya tergeletak beberapa kayu yang belum
menempati posisinya dalam kapal, beberapa kabel yang kami dapat dari bekas
kabel lampu rumah tangga di kota ini, obeng, kunci pas, sekrup dan baut yang
masih belum tertata dengan rapi.
Kadang aku berpikir apakah mimpiku akan menjadi kenyataan.
Berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan kapal ini sebelum Orang Luar itu menguasai negara ini ? Kadang aku ragu dengan mimpiku sendiri. Tapi
untuk saat ini. Saat aku memandang rangka kapal ini. Aku merasa bahwa mimpiku
semakin dekat, sangat dekat bahkan aku bisa menjangkaunya.
Setelah lulus SMP, aku dan Angga akan melanjutkan sekolah di
SMA yang sama. Seperti yang kukatakan sebelumnya, Pulau Selatan adalah tempat
terbaik untuk menuntut ilmu. Setidaknya di Negara ini. Pada masa SMA itulah
kami berencana untuk bekerja paruh waktu di sebuah tempat pembuatan kapal untuk
nelayan milik paman Angga.
--
Sabtu, 31 Maret 2001.
Selama kurang lebih 3 tahun di sekolah ini aku merasa teman
yang paling dekat denganku hanya Angga. Ya walaupun aku berteman dengan
siapapun yang mau berteman denganku. Aku tidak terlalu akrab dengan Viola. Yang aku tau tentangnya, dia seorang gadis yang pandai bermain piano. Pernah suatu
saat aku sedang berjalan di depan ruangan musik, aku mendengar suara merdu
melantun dan membawaku tenggelam dalam nada-nada indahnya. Sebuah lantunan dari
jari-jari kecil yang menekan dengan lembut setiap tuts piano berwarna
hitam-putih itu. Saat aku mendengar lantunan itu perlahan hatiku mulai berdebar
dan terasa seperti memunculkan sebuah keinginan yang kuat untuk meraih suara
itu atau orang yang melantunkannya.
Beberapa bulan setelah itu, di sebuah acara kesenian sekolah, aku tau kalau orang yang melantunkan suara merdu itu adalah seorang gadis manis dengan bola mata biru dan rambut panjang hitam. Viola.
Beberapa bulan setelah itu, di sebuah acara kesenian sekolah, aku tau kalau orang yang melantunkan suara merdu itu adalah seorang gadis manis dengan bola mata biru dan rambut panjang hitam. Viola.
Aku berada di kelas yang sama dengan Viola. Aku kadang berjalan
dengannya saat pulang sekolah. Kebetulan arah rumah kami sama. Aku, Angga dan
Viola kadang berjalan bersama menuju rumah kami masing-masing.
Yang kulihat, Viola adalah gadis yang sangat ceria dan akrab dengan siapapun yang bertemu dengannya. Sepanjang perjalanan pulang kami bercerita tentang banyak hal. Mulai dari soal pelajaran sekolah sampai keluarga. Tapi saat kami membicarakan soal keluarga, kadang aku melihat ada sedikit perubahan pada mimik wajah Viola. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan keluarganya. Yang ku tau, untuk menuju rumah Viola aku masih membutuhkan lebih banyak waktu daripada untuk menuju rumahku.
Yang kulihat, Viola adalah gadis yang sangat ceria dan akrab dengan siapapun yang bertemu dengannya. Sepanjang perjalanan pulang kami bercerita tentang banyak hal. Mulai dari soal pelajaran sekolah sampai keluarga. Tapi saat kami membicarakan soal keluarga, kadang aku melihat ada sedikit perubahan pada mimik wajah Viola. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan keluarganya. Yang ku tau, untuk menuju rumah Viola aku masih membutuhkan lebih banyak waktu daripada untuk menuju rumahku.
Sore ini Viola memiliki jadwal untuk mengikuti aktivitas
klub piano. Aku tau jika aku mendekat ke ruangan musik, aku akan mendengar
lantunan indah itu lagi. Jadi sore ini aku dan Angga memutuskan untuk
mendengarkan suara piano yang dilantunkan Viola.
Kami berdiri di dekat pintu masuk ruangan musik. angin sore
itu juga matahari yang mulai berwarna kemerahan seakan memberi suasana yang
sesuai dengan alunan musik Viola. Saat daun-daun pohon di depan sekolah itu
diterpa angin sore musim panas, seakan terlihat menari bahagia seirama dengan
nada piano itu. Kehangatan sore itu semakin bertambah hangat.
--
--
Kami bertiga berjalan dengan hamparan sawah luas di kanan
dan kiri kami. Udara sore musim panas yang sejuk, pemandangan mentari sore yang
indah. Seakan aku bisa menghentikan waktu saat melihat Viola tertawa. Obrolan
yang tidak tau akan berakhir dimana.
“Viola.” Aku berhenti dan melihat Viola dan Angga yang
berhenti dan menoleh ke arahku.
“Minggu ini ikutlah denganku ke bukit di belakang sekolah.”
Saat aku mengatakannya, banyak keraguan yang terasa dalam hatiku.
Aku melihat Angga yang tampak kaget. Viola yang menatapku
dengan muka yang penasaran kemudian Angga tiba-tiba berjalan kearahku dan berbisik di
telingaku.
“Apa kau sudah gila ? Bagaimana kalau dia membocorkan
rahasia kita ?” Angga berbisik dengan nada menahan amarah.
Aku memegang pundak Angga dan mendorongnya perlahan agar
menjauh dariku.
“Aku mempercayainya.” Entahlah, tapi aku merasa kalau aku
harus mengungkapkan rahasiaku kepada Viola. Ada sesuatu yang ingin kuketahui
saat dia melihat mimpiku nanti.
Angga tampak memandangiku dengan muka tidak percaya kalau
aku akan mengajak orang lain untuk melihat mimpi kami. Aku juga melihat Viola
yang menatapku dengan mata yang melebar, seakan tidak percaya aku mengatakan
hal seperti itu di hadapannya.
“Kamu yang bertanggung jawab ya.” Angga mengatakan hal itu
sambil kembali berjalan.
Aku melihat Viola yang sedikit ketakutan saat melihat Angga
berjalan melewatinya. Aku berjalan mendekati Viola.
“Tidak apa-apa. Angga tidak marah kok. Setelah kamu ikut
dengan kami ke bukit itu, dia pasti akan baik-baik saja.” Aku memang
mengatakannya dengan banyak rasa ragu. Tapi, aku mengenal Angga dengan baik.
Dalam hatiku, aku berpikir bahwa itu tidak akan menjadi masalah. Karena hal ini
untuk orang yang kamu sukai.
--
Di sebuah pertigaan dengan tiang listrik menjulang tinggi
dan kabel yang saling mengait satu sama lain di atas kepala. Tiga manusia yang
memutuskan untuk berpisah di persimpangan jalan. Sang gadis seakan tidak mau
berjalan sendirian di jalan lurus panjang dan tampak jauh untuk sampai di
tempat dia akan berlindung dari dinginnya malam musim panas itu.
Aku selalu melihat Viola terlihat tidak senang dengan
keadaannya saat ini. Setidaknya di sore hari. Di saat sekolah sudah selesai dan
dia harus berpisah dengan teman-temannya. Seakan dia seperti anak kecil yang
merengek ketika dipaksa pulang oleh ibunya saat sedang bermain bersama
temannya. Kalau dia masih berumur 5 tahun, mungkin dia akan melakukan hal itu.
Tapi tidak untuk saat ini.
Aku melihatnya berjalan sendirian di jalan panjang itu.
Dengan menggenggam tali tas punggung berwarna biru muda dengan eratnya. Seakan
menahan air mata agar tidak keluar.
Apa yang terjadi dengan Viola ?
Saat aku menatap kertas putih kosong di meja belajarku.
Seakan tertulis kalimat perintah untuk menyelamatkannya. Atau sebuah suara.
Karena dalam bayanganku, aku melihat Viola selalu sendiri di jalan panjang itu.
Menghadapi ketakutan akan sesuatu dengan topeng tawanya yang manis.
--
Minggu, 1 April 2001
Seakan ada semangat baru yang membanjiri tubuhku pagi itu. Suara
renyah kerupuk yang digoreng ibuku membuatku tidak sabar untuk menyantapnya dan
bergegas menuju bukit belakang sekolah.
Sebuah perjalanan yang sudah kujanjikan
untuk Viola.
Suara Angga yang memanggilku dari luar rumah sedikit
mengagetkanku saat aku masih menyantap sarapanku. Ibuku berjalan menuju pintu
depan rumahku yang terbuat dari kayu jati tua dengan hiasan ukiran peninggalan
kakekku dulu. Terdengar ibuku menyuruh Angga untuk masuk ke rumah namun ditolak
olehnya.
Nasi dengan sayur, sedikit sambal dan kerupuk renyah buatan
ibuku memang santapan yang pas untuk mengisi perutku sebelum memulai perjalanan
pagi ini.
Aku melangkahkan kaki keluar pintu dan memakai alas kaki
yang sealu tertata rapi di depan rumah. Seakan terjadi perubahan kecepatan
degup jantung saat aku menatap ke depan dan melihat Angga bersama sosok
perempuan manis dengan rambut hitam panjang, bola mata biru. Dia mengenakan
kaos panjang hijau tua dengan celana panjang hitam dan ransel yang selalu dia
bawa ke sekolah yang saat ini mungkin berisi sesuatu yang berbeda.
Aku tidak pernah berpikir akan melihat Viola dengan baju
lain selain seragam sekolahnya. Karena dalam bayanganku, Viola adalah gadis
cantik dengan seragam sekolah.
--
Tanjakan yang terjal bagiku dan Angga adalah hal yang biasa.
Tapi, aku sedikit khawatir dengan keadaan Viola. Karena itulah aku berjalan di
posisi paling belakang, Viola di tengah dan Angga yang memimpin jalan. Beberapa
kerikil kadang menyulitkan perjalanan karena selain lumut, kerikil mampu
menjatuhkan manusia. Dan akibat dari hal itu tidak bisa diketahui. Kadang
sebuah kerikil kecil mampu membunuh manusia.
“Kalau jalan panjang
dan berliku itu mengganggumu, kenapa kamu tidak mencari jalan yang lain.
Terkadang manusia tidak sadar dengan apa yang telah dia miliki.” Sebuah
syair keluar dari mulut Viola. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan. Aku
tidak terlalu pandai dalam hal ini.
“Florensia nomor dua puluh enam.” Tiba-tiba sebuah kalimat keluar dari
mulut Angga yang masih berjalan sambil menatap lurus ke depan.
“Kamu tau syair itu ?” Viola tampak bersemangat setelah
mendengar ucapan Angga.
“Ya. Tadi malam aku membacanya.” Angga masih berjalan tanpa
melihat wajah Viola yang tersenyum lebar.
“Sebuah tempat yang
jauh. Sebuah tempat tanpa diriku. Saat aku meninggalkannya, semua orang tetap
berjalan, semua orang tetap tersenyum.”
“Euphernia nomor dua puluh tiga.” Aku mengatakannya tanpa ada pikiran
apapun. Aku hanya sekedar menjawab syair Viola. Seperti yang diajarkan di sekolah,
saat guru membaca sebuah syair maka murid harus menjawab nama pembuat dan nomor
urutan syair tersebut.
Seakan suasana hening. Angga tetap berjalan. Viola tetap
berjalan. Aku pun masih berjalan. Seakan tidak terjadi apa-apa.
--
Sebuah terowongan besar yang tidak asing bagiku dan Angga
sudah menganga lebar di depan mata kami bertiga. Aku melihat wajah Viola dengan
senyum lebarnya, tampak bahagia dengan pemandangan itu. Di belakang kami,
sebuah hamparan pohon hijau yang menutup setiap pemandangan atap rumah, langit
biru yang luas berhiaskan awan putih musim panas. Burung berkicau dan terbang
entah kemana. Angin yang menerbangkan aroma rumput dan tanah kering bukit itu.
Seakan menjadi momen paling menakjubkan selama aku membangun mimpi ini.
Kami berjalan dalam lorong dengan diterangi lampu minyak
yang Angga bawa. Sedikit demi sedikit menuju cahaya kecil di ujung lorong ini.
Saat cahaya itu semakin melebar dan terlihat semakin jelas
rangka kapal dan berbagai peralatan yang aku dan Angga gunakan untuk membuat
kapal itu.
Viola berlari mendekat dengan rangka kapal yang tidak lebih
tinggi dari kaki sampai perut Viola. Sebuah kapal yang mampu memuat dua orang di
atasnya. Sebuah kapal yang akan melaju dengan kecepatan enam puluh knot.
“Sejak kapan kalian membuat kapal ini ?” Viola menatapku
sambil membungkuk kan badannya ke arah rangka kapal itu.
“Sejak di tahun pertama SMP.” Aku menatapnya yang mulai
melihat kapal itu.
“Kami akan menuju Pulau Tengah dengan kapal ini. Kami
berharap bisa menaklukkan pulau tengah dengan kecepatan kapal ini.” Angga yang
terdiam lama, mulai berbicara dengan Viola.
“Kalian akan ke Pulau Tengah ?” Viola menatap aku dan Angga
dengan semangatnya.
“Ya. Sedikit demi sedikit kami membangun mimpi ini. Mimpi
untuk melihat sesuatu yang belum pernah kami lihat.” Aku mengatakannya sambil
melihat raut muka Viola yang tampak sangat bahagia mendengarnya.
“Kata kakek ku, dia pernah pergi ke Pulau Tengah. Dalam
samar-samar ingatannya, dia pernah melihat sebuah bangunan besar mirip menara
di Pulau Tengah. Keluargaku kadang hanya mendengarnya sambil lalu karena
kakek ku yang sudah tua dan banyak orang tidak mempercayai apa yang dia
katakan.” Viola menatap rangka kapal itu dalam-dalam, seakan bisa melihat apa
yang akan kami lihat di pulau tengah.
--
Kami bertiga duduk melingkar di samping rangka kapal itu
dengan dihiasi cahaya lampu minyak yang masih tetap menyala dengan terangnya
karena aku dan Angga mengganti minyaknya setiap minggu.
“Aku membawa sesuatu untuk kalian.” Viola membuka tas
punggungnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Aku melihat sebuah kotak makan dan sesuatu yang terbungkus
dengan kertas minyak. Viola membukanya dengan perlahan. Terlihat jelas di dalam
kotak makan itu beberapa kue lapis, kue bolu dan beberapa makanan manis tertata
dengan rapi. Viola kemudian membuka bungkusan kertas minyak itu, beberapa
makanan manis juga tertata di dalam bungkusan itu. Mungkin karena tidak muat
jika dimasukkan dalam sebuah kotak makan, Viola memasukkan nya ke bungkusan itu.
“Ini semua buatan ku sendiri. Silahkan dimakan.” Viola
tersenyum dengan ramahnya mempersilakan dua orang anak kecil yang masih
merengek dengan impiannya.
Kami bertiga memakan apa yang ada di dalam kotak makan dan
bungkusan itu dengan lahap nya. Aku memakannya seakan itu adalah masakan yang
dibuat oleh ibuku. Penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku bisa membayangkan
seperti apa saat Viola membuat makanan ini.
“Setelah lulus, aku akan melanjutkan pendidikan di luar
pulau ini.” Sesaat suasana hening menyelimuti seisi lorong itu.
Sesak nya nafas karena udara dalam lorong itu semakin terasa.
Aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku melanjutkan makan ku tapi entah kenapa seakan
rasa makanan itu berubah. Semakin lembut namun penuh dengan kesedihan.
--
Setelah selesai makan, kami minum air mineral yang dibawa
oleh Angga. Kami memutuskan untuk keluar dari lorong tersebut.
Entah kenapa aku selalu takut menceritakan mimpiku kepada
orang lain. Aku masih tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Aku takut saat ada
seseorang yang mempercayai ku dan aku tidak bisa mewujudkan apa yang
dipercayakan kepadaku.
Aku menatap Viola yang berada di tengah-tengah antara kau
dan Angga, sebuah bukit belakang sekolah pada pertengahan musim panas. Langit
biru berhiaskan awan putih dan matahari yang terik menyinari kami yang
dilindungi sebuah pohon besar. Bayangan daun-daun pohon dan sinar matahari yang
masih mampu menembus nya berada di bawah kaki kami. Angin segar musim panas
memang yang terbaik di pulau ini.
“Setelah lulus di sekolah selanjutnya kami akan meluncur ke Pulau Tengah. Walaupun kamu tidak ada di pulau ini lagi, aku berjanji akan membawa
kabar baik dari pulau tengah untukmu. Jadi, kembalilah kapanpun kamu mau dan
saat kamu kembali aku yakin kamu akan melihat kami yang tumbuh menjadi dewasa.”
Aku tidak berani menatap Viola yang masih menatap ku. Aku tidak mau dia melihat
cucuran air mataku walaupun aku tau bahwa dia melihatnya.
Angga masih menatap lurus ke depan. Aku tau bahwa dia juga
memiliki perasaan yang sama denganku saat ini karena dia juga menyukai Viola.
“Meskipun jauh di
sana. Langit luas masih membentang dan menghubungkan tempat kelahiran kita.
Tataplah langit itu karena saat itu aku juga melihatnya sebagai sesuatu yang
sama.”
“Ellios nomor enam belas.”
Sesaat, hanya suara gesekkan daun tertiup angin yang
terdengar menghiasi hari itu. Seekor burung hinggap di pohon besar yang melindungi
kami dari teriknya matahari. Burung kecil itu berkicau dan terbang menjauh
meninggalkan sebuah kenangan berupa kicauan indah yang memecah panas siang itu.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar