Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Minggu, 10 April 2016

[Read] #2 Di Tempat Yang Jauh - Circle

Mungkin beberapa hal di dunia ini kadang mustahil menurut beberapa orang. Kadang orang-orang sering bertanya untuk apa melakukan hal seperti itu ? Untuk apa menikmati hal seperti itu ?
Kadang pertanyaan itu muncul dalam diriku dan pertanyaan itu tertuju kepada diriku sendiri.

--

Sudah 13 tahun berlalu sejak aku mengenal Angga dan sudah 3 tahun berlalu sejak kami menyatukan impian kami.
Di sebuah gua yang gelap, kami berdua berjalan di bawah lindungan bebatuan yang teduh. Kami berjalan seakan kami sudah hafal setiap sudut jalan menuju ujung lorong ini. Sebuah tempat yang bercahaya. Cahaya yang dihasilkan oleh lampu minyak tanah yang kami letakkan di sana. Sedikit demi sedikit terowongan ini menuju akhirnya dan saat kami sampai terlihatlah sebuah kayu berlapis plitur yang sudah tersusun sedemikian rupa membentuk sebuah rangka kapal yang akan mengantarkan kami ke Pulau Tengah. Sebuah rangka kapal berukuran 3 kali 1 meter dengan tinggi 700 sentimeter. Di sampingnya tergeletak beberapa kayu yang belum menempati posisinya dalam kapal, beberapa kabel yang kami dapat dari bekas kabel lampu rumah tangga di kota ini, obeng, kunci pas, sekrup dan baut yang masih belum tertata dengan rapi.

Kadang aku berpikir apakah mimpiku akan menjadi kenyataan. Berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan kapal ini sebelum Orang Luar itu menguasai negara ini ? Kadang aku ragu dengan mimpiku sendiri. Tapi untuk saat ini. Saat aku memandang rangka kapal ini. Aku merasa bahwa mimpiku semakin dekat, sangat dekat bahkan aku bisa menjangkaunya.

Setelah lulus SMP, aku dan Angga akan melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Seperti yang kukatakan sebelumnya, Pulau Selatan adalah tempat terbaik untuk menuntut ilmu. Setidaknya di Negara ini. Pada masa SMA itulah kami berencana untuk bekerja paruh waktu di sebuah tempat pembuatan kapal untuk nelayan milik paman Angga.

--

Sabtu, 31 Maret 2001.

Selama kurang lebih 3 tahun di sekolah ini aku merasa teman yang paling dekat denganku hanya Angga. Ya walaupun aku berteman dengan siapapun yang mau berteman denganku. Aku tidak terlalu akrab dengan Viola. Yang aku tau tentangnya, dia seorang gadis yang pandai bermain piano. Pernah suatu saat aku sedang berjalan di depan ruangan musik, aku mendengar suara merdu melantun dan membawaku tenggelam dalam nada-nada indahnya. Sebuah lantunan dari jari-jari kecil yang menekan dengan lembut setiap tuts piano berwarna hitam-putih itu. Saat aku mendengar lantunan itu perlahan hatiku mulai berdebar dan terasa seperti memunculkan sebuah keinginan yang kuat untuk meraih suara itu atau orang yang melantunkannya.

Beberapa bulan setelah itu, di sebuah acara kesenian sekolah, aku tau kalau orang yang melantunkan suara merdu itu adalah seorang gadis manis dengan bola mata biru dan rambut panjang hitam. Viola.

Aku berada di kelas yang sama dengan Viola. Aku kadang berjalan dengannya saat pulang sekolah. Kebetulan arah rumah kami sama. Aku, Angga dan Viola kadang berjalan bersama menuju rumah kami masing-masing.

Yang kulihat, Viola adalah gadis yang sangat ceria dan akrab dengan siapapun yang bertemu dengannya. Sepanjang perjalanan pulang kami bercerita tentang banyak hal. Mulai dari soal pelajaran sekolah sampai keluarga. Tapi saat kami membicarakan soal keluarga, kadang aku melihat ada sedikit perubahan pada mimik wajah Viola. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan keluarganya. Yang ku tau, untuk menuju rumah Viola aku masih membutuhkan lebih banyak waktu daripada untuk menuju rumahku.

Sore ini Viola memiliki jadwal untuk mengikuti aktivitas klub piano. Aku tau jika aku mendekat ke ruangan musik, aku akan mendengar lantunan indah itu lagi. Jadi sore ini aku dan Angga memutuskan untuk mendengarkan suara piano yang dilantunkan Viola.

Kami berdiri di dekat pintu masuk ruangan musik. angin sore itu juga matahari yang mulai berwarna kemerahan seakan memberi suasana yang sesuai dengan alunan musik Viola. Saat daun-daun pohon di depan sekolah itu diterpa angin sore musim panas, seakan terlihat menari bahagia seirama dengan nada piano itu. Kehangatan sore itu semakin bertambah hangat.

--

Kami bertiga berjalan dengan hamparan sawah luas di kanan dan kiri kami. Udara sore musim panas yang sejuk, pemandangan mentari sore yang indah. Seakan aku bisa menghentikan waktu saat melihat Viola tertawa. Obrolan yang tidak tau akan berakhir dimana.

“Viola.” Aku berhenti dan melihat Viola dan Angga yang berhenti dan menoleh ke arahku.

“Minggu ini ikutlah denganku ke bukit di belakang sekolah.” Saat aku mengatakannya, banyak keraguan yang terasa dalam hatiku.

Aku melihat Angga yang tampak kaget. Viola yang menatapku dengan muka yang penasaran kemudian Angga tiba-tiba berjalan kearahku dan berbisik di telingaku.

“Apa kau sudah gila ? Bagaimana kalau dia membocorkan rahasia kita ?” Angga berbisik dengan nada menahan amarah.

Aku memegang pundak Angga dan mendorongnya perlahan agar menjauh dariku.

“Aku mempercayainya.” Entahlah, tapi aku merasa kalau aku harus mengungkapkan rahasiaku kepada Viola. Ada sesuatu yang ingin kuketahui saat dia melihat mimpiku nanti.

Angga tampak memandangiku dengan muka tidak percaya kalau aku akan mengajak orang lain untuk melihat mimpi kami. Aku juga melihat Viola yang menatapku dengan mata yang melebar, seakan tidak percaya aku mengatakan hal seperti itu di hadapannya.

“Kamu yang bertanggung jawab ya.” Angga mengatakan hal itu sambil kembali berjalan.

Aku melihat Viola yang sedikit ketakutan saat melihat Angga berjalan melewatinya. Aku berjalan mendekati Viola.

“Tidak apa-apa. Angga tidak marah kok. Setelah kamu ikut dengan kami ke bukit itu, dia pasti akan baik-baik saja.” Aku memang mengatakannya dengan banyak rasa ragu. Tapi, aku mengenal Angga dengan baik. Dalam hatiku, aku berpikir bahwa itu tidak akan menjadi masalah. Karena hal ini untuk orang yang kamu sukai.

--

Di sebuah pertigaan dengan tiang listrik menjulang tinggi dan kabel yang saling mengait satu sama lain di atas kepala. Tiga manusia yang memutuskan untuk berpisah di persimpangan jalan. Sang gadis seakan tidak mau berjalan sendirian di jalan lurus panjang dan tampak jauh untuk sampai di tempat dia akan berlindung dari dinginnya malam musim panas itu.

Aku selalu melihat Viola terlihat tidak senang dengan keadaannya saat ini. Setidaknya di sore hari. Di saat sekolah sudah selesai dan dia harus berpisah dengan teman-temannya. Seakan dia seperti anak kecil yang merengek ketika dipaksa pulang oleh ibunya saat sedang bermain bersama temannya. Kalau dia masih berumur 5 tahun, mungkin dia akan melakukan hal itu. Tapi tidak untuk saat ini.

Aku melihatnya berjalan sendirian di jalan panjang itu. Dengan menggenggam tali tas punggung berwarna biru muda dengan eratnya. Seakan menahan air mata agar tidak keluar.

Apa yang terjadi dengan Viola ?

Saat aku menatap kertas putih kosong di meja belajarku. Seakan tertulis kalimat perintah untuk menyelamatkannya. Atau sebuah suara. Karena dalam bayanganku, aku melihat Viola selalu sendiri di jalan panjang itu. Menghadapi ketakutan akan sesuatu dengan topeng tawanya yang manis.

--

Minggu, 1 April 2001

Seakan ada semangat baru yang membanjiri tubuhku pagi itu. Suara renyah kerupuk yang digoreng ibuku membuatku tidak sabar untuk menyantapnya dan bergegas menuju bukit belakang sekolah.

Sebuah perjalanan yang sudah kujanjikan untuk Viola.

Suara Angga yang memanggilku dari luar rumah sedikit mengagetkanku saat aku masih menyantap sarapanku. Ibuku berjalan menuju pintu depan rumahku yang terbuat dari kayu jati tua dengan hiasan ukiran peninggalan kakekku dulu. Terdengar ibuku menyuruh Angga untuk masuk ke rumah namun ditolak olehnya.

Nasi dengan sayur, sedikit sambal dan kerupuk renyah buatan ibuku memang santapan yang pas untuk mengisi perutku sebelum memulai perjalanan pagi ini.

Aku melangkahkan kaki keluar pintu dan memakai alas kaki yang sealu tertata rapi di depan rumah. Seakan terjadi perubahan kecepatan degup jantung saat aku menatap ke depan dan melihat Angga bersama sosok perempuan manis dengan rambut hitam panjang, bola mata biru. Dia mengenakan kaos panjang hijau tua dengan celana panjang hitam dan ransel yang selalu dia bawa ke sekolah yang saat ini mungkin berisi sesuatu yang berbeda.

Aku tidak pernah berpikir akan melihat Viola dengan baju lain selain seragam sekolahnya. Karena dalam bayanganku, Viola adalah gadis cantik dengan seragam sekolah.

--

Tanjakan yang terjal bagiku dan Angga adalah hal yang biasa. Tapi, aku sedikit khawatir dengan keadaan Viola. Karena itulah aku berjalan di posisi paling belakang, Viola di tengah dan Angga yang memimpin jalan. Beberapa kerikil kadang menyulitkan perjalanan karena selain lumut, kerikil mampu menjatuhkan manusia. Dan akibat dari hal itu tidak bisa diketahui. Kadang sebuah kerikil kecil mampu membunuh manusia.

Kalau jalan panjang dan berliku itu mengganggumu, kenapa kamu tidak mencari jalan yang lain. Terkadang manusia tidak sadar dengan apa yang telah dia miliki.” Sebuah syair keluar dari mulut Viola. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan. Aku tidak terlalu pandai dalam hal ini.

“Florensia nomor dua puluh enam.” Tiba-tiba sebuah kalimat keluar dari mulut Angga yang masih berjalan sambil menatap lurus ke depan.

“Kamu tau syair itu ?” Viola tampak bersemangat setelah mendengar ucapan Angga.

“Ya. Tadi malam aku membacanya.” Angga masih berjalan tanpa melihat wajah Viola yang tersenyum lebar.

Sebuah tempat yang jauh. Sebuah tempat tanpa diriku. Saat aku meninggalkannya, semua orang tetap berjalan, semua orang tetap tersenyum.

“Euphernia nomor dua puluh tiga.” Aku mengatakannya tanpa ada pikiran apapun. Aku hanya sekedar menjawab syair Viola. Seperti yang diajarkan di sekolah, saat guru membaca sebuah syair maka murid harus menjawab nama pembuat dan nomor urutan syair tersebut.

Seakan suasana hening. Angga tetap berjalan. Viola tetap berjalan. Aku pun masih berjalan. Seakan tidak terjadi apa-apa.

--

Sebuah terowongan besar yang tidak asing bagiku dan Angga sudah menganga lebar di depan mata kami bertiga. Aku melihat wajah Viola dengan senyum lebarnya, tampak bahagia dengan pemandangan itu. Di belakang kami, sebuah hamparan pohon hijau yang menutup setiap pemandangan atap rumah, langit biru yang luas berhiaskan awan putih musim panas. Burung berkicau dan terbang entah kemana. Angin yang menerbangkan aroma rumput dan tanah kering bukit itu. Seakan menjadi momen paling menakjubkan selama aku membangun mimpi ini.

Kami berjalan dalam lorong dengan diterangi lampu minyak yang Angga bawa. Sedikit demi sedikit menuju cahaya kecil di ujung lorong ini.

Saat cahaya itu semakin melebar dan terlihat semakin jelas rangka kapal dan berbagai peralatan yang aku dan Angga gunakan untuk membuat kapal itu.

Viola berlari mendekat dengan rangka kapal yang tidak lebih tinggi dari kaki sampai perut Viola. Sebuah kapal yang mampu memuat dua orang di atasnya. Sebuah kapal yang akan melaju dengan kecepatan enam puluh knot.

“Sejak kapan kalian membuat kapal ini ?” Viola menatapku sambil membungkuk kan badannya ke arah rangka kapal itu.

“Sejak di tahun pertama SMP.” Aku menatapnya yang mulai melihat kapal itu.

“Kami akan menuju Pulau Tengah dengan kapal ini. Kami berharap bisa menaklukkan pulau tengah dengan kecepatan kapal ini.” Angga yang terdiam lama, mulai berbicara dengan Viola.

“Kalian akan ke Pulau Tengah ?” Viola menatap aku dan Angga dengan semangatnya.

“Ya. Sedikit demi sedikit kami membangun mimpi ini. Mimpi untuk melihat sesuatu yang belum pernah kami lihat.” Aku mengatakannya sambil melihat raut muka Viola yang tampak sangat bahagia mendengarnya.

“Kata kakek ku, dia pernah pergi ke Pulau Tengah. Dalam samar-samar ingatannya, dia pernah melihat sebuah bangunan besar mirip menara di Pulau Tengah. Keluargaku kadang hanya mendengarnya sambil lalu karena kakek ku yang sudah tua dan banyak orang tidak mempercayai apa yang dia katakan.” Viola menatap rangka kapal itu dalam-dalam, seakan bisa melihat apa yang akan kami lihat di pulau tengah.

--

Kami bertiga duduk melingkar di samping rangka kapal itu dengan dihiasi cahaya lampu minyak yang masih tetap menyala dengan terangnya karena aku dan Angga mengganti minyaknya setiap minggu.

“Aku membawa sesuatu untuk kalian.” Viola membuka tas punggungnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

Aku melihat sebuah kotak makan dan sesuatu yang terbungkus dengan kertas minyak. Viola membukanya dengan perlahan. Terlihat jelas di dalam kotak makan itu beberapa kue lapis, kue bolu dan beberapa makanan manis tertata dengan rapi. Viola kemudian membuka bungkusan kertas minyak itu, beberapa makanan manis juga tertata di dalam bungkusan itu. Mungkin karena tidak muat jika dimasukkan dalam sebuah kotak makan, Viola memasukkan nya ke bungkusan itu.

“Ini semua buatan ku sendiri. Silahkan dimakan.” Viola tersenyum dengan ramahnya mempersilakan dua orang anak kecil yang masih merengek dengan impiannya.

Kami bertiga memakan apa yang ada di dalam kotak makan dan bungkusan itu dengan lahap nya. Aku memakannya seakan itu adalah masakan yang dibuat oleh ibuku. Penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku bisa membayangkan seperti apa saat Viola membuat makanan ini.

“Setelah lulus, aku akan melanjutkan pendidikan di luar pulau ini.” Sesaat suasana hening menyelimuti seisi lorong itu.

Sesak nya nafas karena udara dalam lorong itu semakin terasa. Aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku melanjutkan makan ku tapi entah kenapa seakan rasa makanan itu berubah. Semakin lembut namun penuh dengan kesedihan.

--

Setelah selesai makan, kami minum air mineral yang dibawa oleh Angga. Kami memutuskan untuk keluar dari lorong tersebut.

Entah kenapa aku selalu takut menceritakan mimpiku kepada orang lain. Aku masih tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Aku takut saat ada seseorang yang mempercayai ku dan aku tidak bisa mewujudkan apa yang dipercayakan kepadaku.

Aku menatap Viola yang berada di tengah-tengah antara kau dan Angga, sebuah bukit belakang sekolah pada pertengahan musim panas. Langit biru berhiaskan awan putih dan matahari yang terik menyinari kami yang dilindungi sebuah pohon besar. Bayangan daun-daun pohon dan sinar matahari yang masih mampu menembus nya berada di bawah kaki kami. Angin segar musim panas memang yang terbaik di pulau ini.

“Setelah lulus di sekolah selanjutnya kami akan meluncur ke Pulau Tengah. Walaupun kamu tidak ada di pulau ini lagi, aku berjanji akan membawa kabar baik dari pulau tengah untukmu. Jadi, kembalilah kapanpun kamu mau dan saat kamu kembali aku yakin kamu akan melihat kami yang tumbuh menjadi dewasa.” Aku tidak berani menatap Viola yang masih menatap ku. Aku tidak mau dia melihat cucuran air mataku walaupun aku tau bahwa dia melihatnya.

Angga masih menatap lurus ke depan. Aku tau bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku saat ini karena dia juga menyukai Viola.

“Meskipun jauh di sana. Langit luas masih membentang dan menghubungkan tempat kelahiran kita. Tataplah langit itu karena saat itu aku juga melihatnya sebagai sesuatu yang sama.”

“Ellios nomor enam belas.”


Sesaat, hanya suara gesekkan daun tertiup angin yang terdengar menghiasi hari itu. Seekor burung hinggap di pohon besar yang melindungi kami dari teriknya matahari. Burung kecil itu berkicau dan terbang menjauh meninggalkan sebuah kenangan berupa kicauan indah yang memecah panas siang itu.

-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story