Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Kamis, 31 Maret 2016

[Read] #1 Di Tempat Yang Jauh - Zouter

Semua orang memiliki potensi yang luar biasa dalam dirinya. Seiring berjalannya waktu segala ketidakmungkinan dalam kehidupan ini membuat manusia berkembang lebih dari yang mereka perkirakan.

Diluar perkiraan, perkembangan yang manusia miliki mampu mengikis akal baik mereka. Harta, kejayaan, kekuasaan. Hal-hal seperti itu mampu membutakan manusia.

--

Namaku Andi. Aku tinggal di Pulau Selatan. Saat ini Negara Pulau dibagi menjadi 5 bagian. Pulau Utara, Pulau Barat, Pulau Selatan, Pulau Timur dan Pulau Tengah. Kondisi negara ini sangat memprihatinkan. Kemiskinan, kelaparan, perbudakan dan banyak hal mengerikan yang terjadi di negara ini. Namun, di luar sana negara ini terkenal dengan peninggalan sejarahnya yang luar biasa. Bangunan yang sudah berusia lebih dari 3000 tahun masih mampu berdiri kokoh di negara ini.

Para pemegang kekuasaan di negara ini mengambil banyak keuntungan dari sejarah negara ini. Sejarah umat manusia. Artefak langka berusia ribuan tahun dijual ke luar negeri dengan harga tinggi untuk kepentingan negara. Begitu mereka bilang, pada kenyataannya rakyat bawah tanah tidak merasakan apapun. Kami hanya merasa kehilangan.

Sewaktu masih hidup, kakekku banyak bercerita tentang banyak hal. Sebelum banyak Orang Luar negeri datang ke negara ini anak-anak masih bisa bermain dengan bebas di bangunan-bangunan tua. Meraka bisa merasakan hangatnya sinar mentari saat berbaring di padang rumput yang luas. Sebelum mereka tau bahwa tempat bermain mereka bernilai sejarah yang luar biasa, kakekku dan teman-temannya masih bisa berlarian mengelilingi menara tua yang indah. Namun, setelah para petinggi itu sadar akan kekayaan negara ini, mereka dengan rakusnya membuat sebuah larangan bagi siapapun untuk mendekati setiap benda yang mengandung sejarah di negara ini.

Sebelum meninggal kakekku berkata behwa lebih baik mereka tidak pernah sadar tentang hal-hal konyol tersebut. Tindakan mereka tidak bisa dimengerti. Tindakan yang mengatas namakan ilmu pengetahuan.

Banyak hal yang belum kuketahui tentang negara ini. Bahkan aku belum pernah keluar dari pulau yang kutempati ini. Keluar dari pulau adalah hal yang sulit. Mereka menempatkan banyak pasukan militer di lepas pantai yang menjadi jalan menuju pulau lain. Walau begitu aku senang bisa hidup di pulau ini. Kondisi saat ini memang tidak memungkinkan untuk seseorang keluar dari pulau.

Orang Luar yang tidak puas dengan sistem jual beli yang diterapkan di negara ini mulai melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mendapatkan yang mereka mau, bahkan bisa dibilang perang dingin mulai terjadi antara negara ini dengan Orang Luar. Hal ini bisa diketahui dengan diperketatnya pertahanan laut di negara ini. Karena kapal adalah satu-satunya alat perang paling canggih saat ini.

“Aku dengar hari ini Orang Luar mulai masuk lewat Pulau Barat.” Angga berjalan di sampingku untuk menuju sekolah.
“Ya, kudengar di radio tadi pagi.” Aku menjawabnya tanpa melihat wajahnya yang masih menatapku.
“Apa kita akan baik-baik saja ya ?” Suaranya sedikit banyak mengharapkan sesuatu.
“Entahlah. Kalau kita tidak menjaga diri kita sendiri. Para petinggi itu juga tidak akan peduli kita hidup atau mati.” Aku mengatakannya seolah itu bukan kata-kata dari otakku.

Kami berdua berada di bangku kelas 3 SMP. Kami beruntung masih bisa menikmati pendidikan di pulau ini. Karena, kudengar di pulau lain pendidikan itu adalah sesuatu yang sulit didapatkan. Itulah mengapa Pulau Selatan sering memberikan sumbangan buku untuk pulau lain. Mereka yang masih butuh pendidikan biasanya rela untuk menembus barikade militer dan berlayar ke Pulau Selatan hanya untuk sekolah.

Pulau Barat yang saat ini mulai diduduki oleh Orang Luar sangat memprihatinkan. Mereka kekurangan makanan, pakaian, bahkan tanah dan rumah mereka dirampas oleh Orang Luar. Kalau ingin lari mereka hanya akan berakhir di lepas pantai. Hanya orang-orang tertentu yang berhasil lolos karena uang atau benda bersejarah yang mereka miliki. Mereka bisa menukar benda-benda itu untuk menyelamatkan nyawa mereka. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki apapun hanya bisa berharap ada bantuan atau menunggu kematian mereka.

Aku duduk sebangku dengan Angga untuk memulai pelajaran hari ini.
“Walau di alam mimpi, semua tampak nyata bagiku. Suara merdu yang mengandung suatu arti itu menggema dengan indahnya. Saat aku terbangun semua tampak masih berlanjut. Bayangan wajahmu yang syahdu menyapa dengan ramahnya saat mataku terbuka”
Selain peninggalan sejarah, negara ini memiliki hal lain yang sangat berharga.

Syair.

Sekolah masih dengan baiknya mengajarkan budaya syair yang menjadi peninggalan dari nenek moyang negara ini. Selama lantunan indah itu masih terdengar di negara ini, selama itu pula negara ini tidak akan berakhir. Itu yang pernah dikatakan ibuku.

“’Jika kau hanya bertemu denganku dalam mimpi, apa kau akan tetap mencintaiku?’. Hei, Andi. Apa jawaban syair itu ?” Suara Angga membangunkan ku dari lamunan.
“Coba lihat di halaman 31.” Aku menunjuk sebuah buku tua bertuliskan Syair Pulau itu.
Aku akan terus bermimpi sampai mimpi itu terasa lebih nyata dari pada kenyataan ini dan tentu aku akan selalu mencintaimu.’ Begitu kah ?” Angga tampak penasaran.
“Yah, kurang lebih seperti itu.” Kataku.

--

Di perjalanan pulang, kami melewati jalan yang terbentang hamparan sawah luas di setiap sisinya. Aku dan Angga sudah berteman sejak kecil. Bisa dibilang kami tidak terpisahkan, kami memiliki ketertarikan yang sama. Yang pertama adalah soal syair dan ilmu kapal. Yang berikutnya adalah tentang Pulau Tengah.

“Mengapa Orang Luar itu menyerang negara ini ?” Angga selalu bertanya seperti anak kecil. Walau begitu, dia anak yang pintar.
“Kudengar mereka mengincar Pulau Tengah.” Aku menatap ke depan. Melihat jalan yang masih membentang jauh untuk sampai di rumah.
“Pulau Tengah ? Maksudmu Pulau Kabut itu “ Angga masih menatapku penasaran.
“Ya, mereka biasa menyebutnya begitu. Kau tau, kata kakekku disana ada sebuah menara besar yang menyimpan sejarah tentang umat manusia.” Aku menatap Angga yang masih menatapku seperti anak kecil yang penasaran.
“Menara ?”
“Ya, menara itu disebut Zouter. Kalau seseorang bisa masuk kedalam menara itu, dia akan menemukan rahasia kehidupan. Ada juga yang bilang kalau orang itu akan mendapatkan ramuan hidup abadi.” Aku ingin membangkitkan rasa penasaran Angga.
“Apa itu benar ?” Dia berteriak kegirangan seperti anak kecil mendapat mainan baru.
“Itu cuma kata kakekku sih. Aku juga belum tau kebenarannya.”
“Bukankah impian kita adalah ke Pulau Tengah. Jika kita berusaha kita bisa kesana. Kita masih belum mengetahui apapun tentang dunia ini. Jika kita bisa kesana, kita akan selangkah lebih dekat dengan dunia yang sesungguhnya. Dunia ini luas, aku tidak ingin mati sebelum melihat luasnya dunia ini.” Angga sangat semangat, sampai dia menggenggam tangannya kuat-kuat.
“Yah, jika kita bisa menyelesaikannya lebih cepat, kita bisa ke Pulau Tengah sebelum Orang Luar itu mencapainya.” Tak kusangka semangatnya mempengaruhiku.
“Kalau begitu kita harus berjuang lebih keras lagi. Setelah hal itu selesai kita akan segera berangkat ke Pulau Tengah.” Angga menatapku dengan tawanya yang lebar.
“Ya. Kita akan segera menyelesaikannya.”
Perjalanan pun berlanjut, dan aku hampir kualahan menghadapi pertanyaan dari Angga yang luar biasa. Sampai tak terasa aku pun sudah sampai di rumah.

--

“Aku pulang, bu.” Ibuku selalu berada di dapur. Saat aku berangkat sekolah, saat aku pulang sekolah. Selalu begitu, bahkan saat aku merindukan pelukannya.
Tempat tinggalku dengan Angga tidak terlalu jauh. Setelah pulang sekolah aku akan keluar bersama Angga untuk membuat sesuatu yang menjadi impian kami. Bisa dibilang, kami membangun sesuatu yang berharga bagi kami. Itulah yang kami pikirkan.

--

Aku tinggal di Pulau Selatan. Orang Luar biasa menyebutnya Pulau Hijau. Di pulau ini berbagai tanaman hijau, mulai dari tanaman obat sampai tanaman beracun tumbuh dengan suburnya. Tanah yang ada di pulau ini adalah tanah terbaik di negara ini. Pulau ini juga merupakan akses terdekat untuk menuju Pulau Tengah.

Pulau ini sangat damai. Selama terjadi perselisihan antara negara ini dengan Orang Luar, pulau ini belum terjamah Orang Luar sedikitpun. Kurasa, pemerintah memperketat penjagaan di pantai bagian barat pulau ini karena Pulau Barat saat ini sedang mendapat serangan dari Orang Luar. Mereka sudah benar-benar menyatakan perang dengan negara ini dengan menguasai Pulau Barat terlebih dahulu. Pemerintah juga tidak akan tinggal diam dengan keadaan ini, mereka mengirim banyak militer ke Pulau Barat untuk merebut pulau itu, tapi Orang Luar sudah jauh berkembang dibanding negara ini.

Ini seperti rusa yang melawan singa. Bahkan mungkin rusa itu sudah kehilangan satu kaki.

Karena negara ini terdiri dari lima pulau besar, rakyat negara ini tidak bisa berbaur satu sama lain. Karena itulah negara ini lemah. Pemerintah juga hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri.
Orang Luar mulai mengenal negara ini secara tidak sengaja, mereka melakukan pelayaran dan tiba di Pulau Barat yang saat itu masih dipenuhi dengan artefak-artefak kuno yang tidak disadari oleh penduduk pulau itu. Orang Luar mulai menawarkan pertukaran, Orang Luar memberikan kapal kepada penduduk dan sebagai gantinya Orang Luar mengambil beberapa artefak untuk dibawa ke negara mereka. Penduduk yang saat itu sebagian besar adalah nelayan tidak mampu menolak tawaran itu. Dengan kapal mesin, penduduk bisa menangkap ikan lebih banyak. Itu lebih berguna dibanding dengan sebuah batu bercorak yang tidak dipandang berarti bagi penduduk.

Semakin lama, artefak-artefak itupun semakin sedikit. Penduduk tidak bisa melakukan pertukaran lagi. Kapal-kapal hasil pertukaran itu sebagian besar sudah mengalami kesurakan dan tidak mampu digunakan untuk melaut lagi. Saat itulah Orang Luar mulai mencari pulau lain yang memiliki peninggalan sejarah seperti Pulau Barat. Setelah beberapa lama, mereka tiba di Pulau Selatan yang menjadi pusat pemerintahan. Petinggi yang mendengar bahwa artefak bisa dijual dengan harga mahal, mulai mendekati Orang Luar untuk sebuah bisnis menguntungkan.

Karena Pulau Selatan tidak memiliki banyak peninggalan, para petinggi mulai menawarkan ekspedisi untuk meneliti Pulau Tengah.

Pulau Tengah adalah pulau yang berkabut. Tidak ada orang yang pernah datang ke pulau itu. Dengan memikirkan berbagai resiko, Orang Luar meminta ekspedisi itu dilakukan oleh penduduk pulau. Jika dirasa aman, maka Orang Luar akan menuju Pulau Tengah. Itu bisa disebut pengorbanan yang dibutuhkan untuk kemajuan negara ini.

Beberapa orang kemudian berangkat menuju Pulau Tengah dengan kapal bantuan dari Orang Luar. Mereka merencanakan ekspedisi itu akan berlangsung selama satu bulan. Jika dalam jangka waktu itu, penduduk tidak kembali maka ekspedisi dinyatakan gagal dan Orang Luar akan mencari pulau lain serta membatalkan kerjasama dengan petinggi.

Dan hal itupun terjadi. Satu bulan berlalu dan penduduk yang melakukan ekspedisi belum juga kembali. Sesuai kesepakatan, Orang Luar pun meninggalkan Pulau Selatan.

Namun, ternyata itu belum berakhir. Beberapa hari setelah ekspedisi dinyatakan gagal, seorang nelayan menemukan beberapa orang terdampar di pantai Pulau Timur. Pemerintah segera mengerahkan militer untuk menyelidiki identitas orang-orang tersebut. Setelah beberapa hari, diketahui bahwa mereka adalah penduduk yang melakukan ekspedisi ke Pulau Tengah. Dari lima orang yang terdampar, tiga dinyatakan meninggal. Dua orang yang selamat dibawa ke Pulau Selatan untuk dimintai informasi. Dari situlah diketahui sesuatu yang belum pernah disadari oleh negara ini, Pulau Tengah menyimpan sesuatu yang luar biasa. Dan informasi tentang itu dirahasiakan oleh pemerintah sampai saat ini. Dua orang yang selamat itu sekarang menjadi pasukan militer khusus dan diperintahkan untuk menutup mulut mereka selamanya.

Sebuah misteri besar yang disembunyikan pemerintah akhirnya terdengar oleh Orang Luar. Mereka kemudian kembali mengunjungi negara ini untuk memastikan apa yang mereka dengar. Setelah melalui beberapa perundingan, pemerintah menolak semua tawaran Orang Luar itu untuk melakukan ekspedisi ulang ke Pulau Tengah. Orang Luar tidak suka dengan kesombongan negara kecil ini. Mereka kemudian menyatakan untuk melakukan ekspedisi secara paksa, alhasil pemerintah negara ini memaksa Orang Luar untuk meninggalkan negara ini.

Dalam beberapa tahun setelah kejadian itu, negara ini masih hidup dengan normal. Sampai pada suatu hari dimana 2 kapal cepat milik Orang Luar melaju dengan cepat menuju Pulau Tengah tanpa disadari oleh pemerintah. Saat pemerintah sadar, Orang Luar sudah mendapat banyak informasi tentang Pulau Tengah dan memutuskan untuk merebut Pulau Tengah dari negara ini. Satu-satunya jalan yang ditempuh Orang Luar adalah dengan peperangan dan langkah pertama mereka telah tercapai yaitu menembus Pulau Barat.

--

Sekolah dimulai pukul 7 pagi. Aku sudah berjalan bersama Angga pada pukul 6 pagi. Seperti biasa, kami akan singgah di tempat rahasia kami sebelum kami pergi ke sekolah.
Tempat itu ada di sebuah bukit kecil yang terletak di belakang sekolah kami. Bukit itu dihiasi dengan pepohonan hijau di lerengnya dan tampak sedikit pohon di puncaknya. Di lereng bukit itu ada sebuah gua kecil. Di sana kami menyembunyikan harta karun kami. Sebuah harta yang mungkin kami akan melindunginya dengan mempertaruhkan apapun.

Kami menyembunyikan suku cadang yang berhasil kami kumpulkan dari kapal-kapal rusak yang dulu pernah disumbangkan oleh Orang Luar. Kami akan membuat sebuah kapal cepat dan kami akan meluncur ke Pulau Tengah. Itulah impian kami.

Mengapa kami bermimpi seperti itu ? Mungkin lebih tepatnya, mengapa aku bermimpi seperti itu ?
Aku ingin melihat dunia dari sudut lain. Seperti apa dunia yang masih tertutup kabut itu ? Apa yang ada di dalamnya ? Aku sudah penasaran jauh sebelum Orang Luar itu mulai menginginkannya. Aku tidak peduli kalau pada akhirnya misteri itu menjadi milik Orang Luar. Tapi sebelum itu aku ingin menjadi orang pertama yang mengungkap misteri itu.

Sebenarnya, ada dua hal di dunia ini yang menarik perhatianku. Mungkin ini juga berlaku untuk Angga. Yang pertama adalah Pulau Tengah dan yang kedua adalah Viola.

Viola. Seorang perempuan yang ada di kelas yang sama dengan kami. Dia selalu ceria setiap hari. Sejak aku mengenalnya, aku tidak pernah melihatnya memperlihatkan muka sedih satu kalipun. Mungkin memang sebuah hal yang wajar saat manusia harus memainkan banyak peran di dunia ini. Tapi yang kulihat, peran yang dimainkan Viola sangat luar biasa. Gadis kecil dengan rambut panjang berwarna hitam, hidung mancung dan kulit coklat muda itu mampu membawa setiap suasana  menjadi suasana gembira. Ini bukan persaingan antara aku dan Angga untuk menyukai Viola. Kalau untukku, aku hanya sekedar mengaguminya dan aku sedikit penasaran tentangnya.

Aku memang belum mengatakan kepada Angga atau pun Viola. Tapi, saat kapal cepat itu jadi aku ingin mengajak Viola bersama-sama menuju Pulau Tengah. Aku ingin mengajaknya melihat misteri itu. Misteri yang akan terlihat biasa dan kabut itu akan tersingkap oleh hembusan angin kapal cepat kami.

--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story