--
Sebuah ruangan di lantai dua sebuah Sekolah Menengah Atas.
Aku duduk di barisan nomor dua dari belakang di dekat
jendela. Tampak di luar suasana mulai berubah. Kumpulan awan hitam mulai
menumpuk menjadi satu. Aku tidak tau apakah akan keluar banyak tetesan air dari
dalam awan itu. Tapi seiring dengan berkembangnya pemikiran manusia, mungkin
mereka akan berpikir itulah yang akan terjadi dan saat tetesan air pertama
jatuh dari langit, pelajaran pertama hari itu dimulai.
“Sebuah dunia dimana
aku adalah orang lain dan orang lain adalah diriku. Sebuah dunia dimana apa
yang kuinginkan adalah yang seharusnya tidak kuinginkan dan apa yang terjadi
adalah yang seharusnya tidak terjadi. Sebuah dunia dimana apa yang kamu
harapkan adalah sesuatu yang tidak kamu harapkan. Setidaknya di dunia ini.”
“Pararel nomor tiga puluh satu.”
--
Sebuah ruangan luas. Di hadapanku tergeletak sebuah rangka
kapal berukuran panjang tiga meter, lebar satu setengah meter dan tinggi tujuh
ratus sentimeter. Sebuah rangka kapal dari kayu yang berpelitur warna maroon
gelap. Beberapa ikat kabel berserakan, aki yang belum bisa dipakai, baut, mur,
sekrup, obeng dan peralatan bengkel yang tidak tertata dengan rapi.
Aku duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu.
Tidak jauh di samping kananku duduk seorang laki-laki seumuran denganku yang aku
sangat mengenalnya dengan baik. Seorang laki-laki yang sudah berteman denganku
selama enam belas tahun dan sudah enam tahun berlalu sejak kami menyatukan
impian kami untuk membuat sebuah kapal cepat dan meluncur dengan kecepatan enam
puluh knot ke Pulau Tengah. Namanya Angga, dia sahabatku.
Aku melihatnya duduk memandangi rangka kapal itu. Kedua
tangannya bersatu dalam kepalan di depan dagu nya. Kalau dilihat dari sudut ini,
dia seperti sedang berdoa memohon sesuatu. Aku melihatnya termenung untuk
beberapa saat sampai dia mulai berdiri dan menghadap ke arahku. Pandangannya
masih merunduk, tangan kanannya mulai bergerak masuk ke saku celananya, dia
mengeluarkan sebuah benda hitam. Sebuah alat pembunuh yang paling mutakhir di
jaman ini.
Sebuah senapan.
Tangan kanannya menggenggam senapan laras pendek itu erat-erat, tangan
kirinya mulai bergerak menyentuh bagian atas senapan itu dan menariknya ke
belakang.
‘Krek.’
Aku tidak tau apa maksudnya. Aku memandangnya seakan aku tidak
mau tau apa yang akan terjadi.
Pandangannya mulai tertuju ke rangka kapal di sampingnya.
Tangan kanannya gemetar dengan jari telunjuk yang menyelinap di sela-sela
pelatuk senapan itu. Perlahan tangan kanannya bergerak dan saat itu aku mulai
mengerti. Saat moncong senapan itu mengarah tepat di depan mataku. Angga
menatap ku dengan tajam. Dia menggeretakkan giginya seperti menahan air mata.
Aku tau apa yang akan terjadi ketika dia menarik pelatuk senapan itu.
--
Nafas ku tersengal seperti aku sudah berlari sejauh lima
kilometer. Keringat ku bercucuran deras. Aku merunduk menatap kedua tanganku di
atas ranjang putih, aku masih berselimut saat aku terbangun dari mimpi buruk
pagi itu. Di sebuah ruangan di lantai dua sebuah apartemen yang berada di pusat
kota Pulau Selatan.
Namaku Andi, umur ku 23 tahun. Aku berada jauh dari tempat
kelahiranku. Setelah lulus dari Universitas Ilmu Perkapalan aku bekerja sebagai
perancang kapal di pusat kota yang terletak 120 kilometer dari kampung
halaman ku.
Aku berjalan dengan menggendong sebuah ransel berat berisi
sebuah komputer mini dengan beberapa lembar gambar rangka kapal. Aku berjalan
di tepi jalan raya yang mulai ramai dengan pejalan kaki yang berangkat menuju
tempat kerja mereka.
Sebuah jalan dengan pohon-pohon yang berderet di tepinya
sejauh mata memandang, tidak jauh berbeda dengan tempat kelahiranku. Selangkah
demi selangkah menuju impian tapi pada akhirnya berhenti karena kata-kata orang
lain. Karena dikatakan sebagai orang bodoh.
Aku sangat ingin meraih janji itu. Tapi entah kenapa semakin
hari keinginan itu semakin lemah, seakan dikalahkan oleh kekaguman terhadap
keindahan materi dunia ini.
Bayangan Viola yang kian menjauh dan pada akhirnya hilang
serta terlupakan.
Angga, sahabatku. Dia keluar dari sekolah pada tahun kedua
dan sampai saat ini aku tidak tau dimana keberadaannya. Terakhir kali aku
bertemu dengannya adalah pada tahun ketiga saat aku di perjalanan pulang dari
sekolah. Aku melihatnya di sisi jalan yang lain. Berlawanan arah denganku. Aku
melihatnya berjalan bersama ayahnya dengan cepat. Saat aku memanggil namanya,
dia hanya menoleh ke arah ku dengan tatapan yang kaget disertai dengan sesuatu
yang menahannya untuk bicara. Setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya
lagi.
--
Tadi malam aku bermimpi tentang hal yang sama, berulang kali
sampai mimpi itu perlahan terasa nyata dan terjadi. Walaupun sudah mengalami
mimpi itu setiap malam, namun rasa takut itu tidak pernah berubah sama sekali.
Perlahan menyelimuti. Bahkan sampai saat aku terbangun pun rasa takut itu
seakan masih menetap dalam diriku.
Saat itu. Saat Angga sudah pergi. Aku memutuskan untuk tetap
berada di jalan menuju impian kami. Aku masih bekerja paruh waktu di tempat paman Angga yang biasa kupanggil Paman Tomi. Aku mengumpulkan uang untuk
membeli suku cadang dari pabrik Paman Tomi untuk kapal cepat itu. Perlahan,
bahan untuk membuat kapal itu terasa sudah mencukupi walaupun kemungkinan kapal
itu belum bisa melaju sesuai keinginan kami.
Setelah lulus, aku masih menunggu kabar dari Ibu Kota soal Universitas
yang ingin kumasuki. Aku mengatakan impian ku kepada Paman Tomi. Dia tampak
sangat mendukung hal itu, bahkan dia menyuruh beberapa orang karyawan nya untuk
membantuku memindahkan semua perlengkapan kapal dari bukit itu ke sebuah gudang
luas yang disiapkan Paman Tomi.
Aku tidak tau bagaimana membalas semua kebaikan Paman Tomi.
Satu hal yang bisa kulakukan saat itu adalah secepat mungkin menyelesaikan
kapal itu dan meluncur ke Pulau Tengah.
Itulah yang ku pikirkan.
Itulah yang ku pikirkan.
Sampai pada suatu hari di jalan pulang dari rumah Paman
Tomi, aku bertemu dengan Angga. Dia berjalan berlawanan arah denganku tapi
berada di sisi jalan yang sama. Kami berpapasan di bawah sebuah pohon besar.
Dia berkata bahwa dia saat itu melanjutkan pendidikan di Sekolah Khusus
Penelitian Radar milik Orang Luar di Pulau Barat. Aku sangat senang
mendengarnya, karena hal itu akan sangat berguna untuk perjalanan ke Pulau
Tengah. Aku mengatakan hal itu kepada Angga. Namun saat aku selesai bicara, aku
melihatnya menundukkan kepala dan mengatakan bahwa dia tidak akan kembali ke
Pulau Selatan, bahkan dia akan pergi ke Luar Negeri untuk bekerja di sana. Aku
tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan ku saat itu.
“Lupakan impian itu.” Saat aku mendengar hal itu keluar dari
mulut Angga secara langsung, semua terasa lebih jelas. Apa yang menahannya
untuk bicara waktu itu dan kejelasan tentang janji kami. Janji saat musim panas
di atas bukit itu.
Tanpa terasa, tangan kananku melayang jatuh ke pipi kiri Angga.
Sebuah pukulan yang penuh dengan perasaan yang tidak bisa kukatakan.
Angga terjatuh tidak jauh dari tempatku berada dan saat dia
mulai berdiri, aku masih mendapati nafas ku sangat cepat diiringi degup jantung
yang kencang seakan menahan agar tidak keluar pukulan yang kedua.
“Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Keluargaku
sangat bergantung kepadaku. Kau tau kan, perekonomian negara ini seperti apa.
Aku tau kau sadar dengan kondisi kita saat ini. Apa yang akan kita lakukan
untuk masa depan ? Bukankah suatu saat kau akan berkeluarga juga. Aku tidak
bisa lagi melakukan hal kekanakan itu lagi.” Angga mengatakan hal itu dengan
serius.
Saat itu nafas ku perlahan mulai melambat. Aku ingin menangis
tapi air mataku tidak keluar.
“Ya. Lupakan semuanya dan berjalanlah untuk masa depanmu.”
Aku mengatakannya sambil berjalan melewati Angga yang masih berdiri di tempat
itu.
Awan mendung mulai berkumpul dan hawa dingin mulai
menyelimuti tempat itu. Saat aku berjalan meninggalkan Angga yang masih berdiri
di belakang sana, aku berpikir bahwa mungkin itu yang disebut dengan kedewasaan
dan aku di mata Angga, masih seperti anak-anak yang merengek saat keinginannya
tidak terwujud.
--
Sesaat aku tersadar di sebuah jalan luas dengan deretan
pohon hijau di pinggirnya.
Keadaan ekonomi negara ini sangat buruk. Perlahan tapi
pasti, Orang Luar itu mulai menguasai perekonomian negara ini. Seluruh sektor
industri terutama yang berhubungan dengan kelautan mulai dikuasai oleh Orang Luar.
Mereka tidak lagi melakukan serangan nyata seperti beberapa tahun yang lalu.
Mereka mulai melakukan serangan diplomasi dan cara-cara yang halus untuk
melumpuhkan negara ini.
Pulau Barat sudah menjadi milik Orang Luar secara tidak
resmi. Pemerintah sudah menyerah untuk memperjuangkan Pulau Barat. Penduduk
Pulau Barat mulai berpindah ke Pulau Utara dan Pulau Timur.
Aku sekarang bekerja di sebuah industri kapal milik Orang Luar.
Sebuah pabrik pembuat kapal perang yang setiap bulan mengirim kapal ke Pulau
Barat dengan alasan pengamanan pulau. Padahal mereka sedang membangun sebuah
armada besar di sana. Itulah yang dikatakan Paman Tomi saat aku berpamitan
untuk pergi ke Ibu Kota.
“Rumah ini selalu terbuka untukmu. Saat kau sudah siap untuk
meluncurkan kapal itu, kembalilah. Paman akan selalu membantu mu.” Itulah
kata-kata yang paman ucapkan sebelum memelukku erat saat aku akan pergi.
Paman Tomi pernah bercerita bahwa dia kehilangan anak
laki-lakinya saat mereka ada di Pulau Barat. Saat itu mereka sedang berkunjung
ke rumah saudara mereka dan saat bersamaan sebuah bom meledak di sebuah toilet
pusat perbelanjaan. Anak Paman Tomi berada di dalam toilet tersebut. Sekitar tujuh
puluh orang tewas dan salah satunya adalah anak Paman Tomi.
Setelah beberapa bulan, Pemerintah memastikan bahwa ledakan
itu adalah perbuatan Orang Luar.
--
Malam itu di lantai dua sebuah apartemen di Ibu Kota, aku
membaca secarik kertas berisi tulisan Paman Tomi yang mengatakan bahwa dia
ingin bicara padaku tentang sebuah hal penting yang akan mengubah impian ku.
Aku merapikan semua pakaian yang kubawa kemari ke dalam
sebuah ransel berwarna hitam. Aku mengumpulkan semuanya seperti aku tidak akan
kembali lagi ke tempat ini.
Sebuah halte di bawah pohon besar. Aku duduk melihat
beberapa orang berjalan di depanku dengan tidak menghiraukan apa yang terjadi
di sekitarnya. Seperti mereka hidup sendirian di dunia ini. Sebuah bus berwarna
biru berhiaskan beberapa garis putih melintas dan berhenti di depanku. Aku tau
kalau bus itu yang akan mengantarkanku ke kampung halaman ku.
Aku duduk di barisan kedua dari belakang dan kursi di
samping ku kosong. Tampak hanya sekitar sepuluh orang yang mengisi bus itu dan
semuanya duduk sendirian. Goncangan bus sangat terasa karena aku duduk tepat di
atas lapisan besi yang terhubung langsung dengan ban belakang. Aku masih
terjaga pada sore itu, matahari sore musim hujan itu bersinar jauh di
belakangku, pikiran ku masih melayang jauh seakan aku sudah berada di depan
teras rumah Paman Tomi. Aku tidak memiliki bayangan apapun tentang apa yang
akan dia katakan. Pikiran itu tiba-tiba menghilang seiring dengan mataku yang
tertutup.
--
Aku berada di sebuah halte di pinggir sebuah jalan luas
dengan pohon yang berderet di tepinya. Beberapa saat yang lalu, mendung masih
menyelimuti langit kota ini. Kota tempat aku dilahirkan. Saat ini, matahari
pagi masih malu-malu untuk menampakkan diri, tapi sinar nya sudah lebih dahulu
memancar, menembus kumpulan mendung tipis di angkasa.
Aku berjalan di trotoar yang terbuat dari ubin yang ditata
secara rapi membentuk barisan kotak-kotak sejauh mata memandang. Deretan rumah
penduduk berdiri tidak jauh dari trotoar itu. Sampai pada sebuah rumah berwarna
biru langit dengan atap yang mulai menghitam di makan waktu. Rumah Paman Tomi.
Sebuah gerbang berwarna merah dengan sebuah tombol putih di
sampingnya. Aku menekan tombol itu. Seorang ibu yang terlihat gemuk namun
sesuai dengan usianya yang sepertinya sudah menginjak lima puluh tahun, berlari
keluar dari rumah itu menuju gerbang yang aku berdiri di depannya. Rambutnya
yang di ikat ke belakang dan dibentuk seperti bola tenis tampak membuatnya
terlihat tua dengan pakaian nya yang panjang bergambar bunga-bunga yang
terlihat lebih besar dari ukuran badannya.
“Nak Andi, ayo masuk.” Bibi Tuti begitu aku memanggilnya,
membuka gerbang dan dengan senyuman nya yang selalu ramah menarik tanganku
seperti ada sesuatu yang tidak sabar ingin dia sampaikan.
“Paman mu sudah menunggu.” Aku mengikuti arah jalan Bibi Tuti
karena tanganku seperti tidak akan dia lepaskan.
Aku memasuki rumah yang tidak tampak berubah itu. Pintu yang
berwarna kuning tua itu dibuka oleh Bibi Tuti dengan perlahan dan mengeluarkan
suara berderit yang kadang membuat gigi ku menggeretak. Saat memasuki rumah itu
yang pertama kali kulihat adalah sebuah lukisan landscape kapal yang sedang
berlabuh di sebuah dermaga dengan banyak orang yang mengangkut barang dari atas
kapal itu. Sebuah kursi kayu tua bersandar di bawah lukisan itu.
Seorang lelaki paruh baya keluar dari balik tembok yang
memisahkan ruang tamu, tempat lukisan itu berada dengan ruang keluarga yang di
batasi dengan sebuah kain berwarna biru tua yang tersibak oleh tangan lelaki
itu. Dia Paman Tomi. Rambutnya lebih putih dari sebelum aku meninggalkan kota
ini. Paman memakai baju lengan panjang yang dihiasi garis kotak-kotak abu-abu
dengan celana panjang hitam. Dia berjalan cepat ke arah ku dan memelukku erat. Aku
bisa mendengar suara isakan nya dari telinga kananku. Aku juga merasakan bahu
kananku mulai basah dengan air matanya.
“Syukurlah kamu baik-baik saja, Andi.” Paman mencengkeram
kedua bahuku dengan kencang. Senyumnya tidak pernah berubah.
“Apa kamu sudah siap untuk meluncur bersama kapal cepat itu
?”
“..”
Aku tidak bisa mengatakan apapun tentang pertanyaan yang
paman ajukan saat itu. Pandanganku hanya tertuju pada raut muka paman yang
sangat serius menutupi semua keriput yang mulai muncul di setiap sudut
wajahnya.
“Sudah-sudah. Ayo kita makan dulu. Pembicaraan seperti itu
tidak bagus saat orang sedang kelelahan.” Aku setuju dengan apa yang dikatakan
Bibi Tuti yang mendekat dan melepaskan cengkeraman Paman Tomi dari pundak ku.
Aku duduk dan di depanku terdapat sebuah meja makan persegi
panjang yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua. Hidangan berupa nasi dengan
lauk yang lengkap seperti daging, ikan dan sayur tersedia di depanku.
Sepertinya keluarga ini sangat menunggu kedatanganku.
Setelah selesai makan aku diantar oleh Bibi Tuti menuju
kamar yang telah dia siapkan untuk aku menginap malam ini. Aku merebahkan
diriku di sebuah kasur putih yang empuk dengan bantal yang terlihat masih baru
di sebuah ruangan yang tertata rapi dengan lemari di sudut kamar menghadap ke tempat tidur,
sebuah jam dinding tertempel di tembok tepat di atas lemari itu.
Saat aku hampir menutup mataku, aku kembali teringat dengan
pertanyaan Paman Tomi tadi. Apa maksudnya ? Apa kapal cepat itu sudah siap
untuk diluncurkan ?
--
“Aku akan mempersiapkan bahan untuk body kapal itu, untuk
masalah program kendali aku serahkan semua kepada kalian berdua.” Aku dan Paman
Tomi berada di gudang kapal. Sebuah ruangan luas dengan atap yang tinggi
terbuat dari asbes keras yang mampu ditembus oleh panas musim panas ini.
“Kalian berdua ?” Aku hanya bersama Paman saat itu.
“Kita akan menjemput Angga di Pulau Barat.”
Aku tidak tau apa maksud Paman Tomi, tapi kegembiraan ku
sudah mengalahkan rasa keingintahuan ku tentang bagaimana melakukannya.
“Aku ingin kamu bergabung dengan paman untuk melakukan
sebuah pekerjaan.”
“Apa maksud paman ?”
“Kita akan merebut kemerdekaan negara ini...”
Paman terdiam sejenak dan melanjutkan.
“Aku ingin kamu bergabung dengan Pasukan Kemerdekaan Pulau
Selatan. Saat ini Pasukan Kemerdekaan sudah terbentuk di setiap pulau di negara
ini. Tugas Pasukan Kemerdekaan adalah untuk mengusir Orang Luar dari negara
ini. Pasukan dari Pulau Selatan memiliki tugas untuk mencuri trinitrotoluena yang
sekarang sedang diproduksi di Pulau Barat. Akan sangat sulit untuk memasuki
Pulau Barat secara ilegal kalau tidak punya koneksi orang dalam, karena itulah
aku butuh bantuanmu, Andi.”
Aku memang bisa masuk ke Pulau Barat secara resmi dengan
kartu dari industri tempat aku bekerja.
“Aku tidak punya alasan untuk melakukan itu, paman.”
Sesaat paman menatapku dengan serius dan mulai menempelkan
punggungnya ke sandaran kursi.
“Apa kamu tidak mau menjemput Angga ?”
Aku terdiam sejenak dan menyimpulkan bahwa Angga ada di
Pulau Barat.
“Kami memiliki tugas untuk mencuri trinitrotoluena dan juga
menghancurkan sebuah laboratorium radar di Pulau Barat. Angga sekarang sedang
bekerja di sana.”
“Itu sangat berbahaya, paman –“
“Sudah seribu orang yang mengatakan bahwa hal itu berbahaya.
Itu adalah hal yang mustahil. Bahkan Pemerintah menganggap bahwa kami adalah
teroris yang akan mengganggu kestabilan negara.”
Paman terlihat sangat marah. Dia mengepalkan kedua tangannya
menjadi satu dan menggenggamnya sangat erat seperti menahan kesedihan yang
tidak berujung.
“Kau tau, Andi. Ketika mimpimu ditentang oleh banyak orang
dan kamu pada akhirnya menyerah dan mengatakan bahwa mimpi itu adalah hal yang
bodoh dan kekanakan, apa kamu tidak sadar bahwa kamu sedang menganggap dirimu
sendiri bodoh ?”
Mataku terbelalak mendengar kata-kata Paman Tomi. Seorang
pria tua yang sudah bukan waktunya lagi untuk berbicara soal mimpi dan tinggal
duduk tenang menikmati kehidupan menurut pemikiran dewasa saat ini. Dia mampu
mengatakan hal yang tidak terpikirkan sedikitpun oleh anak muda seperti ku.
Ya. Aku memang sudah terpengaruh dengan arus kehidupan. Aku
sudah terpengaruh apa yang dikatakan oleh Angga beberapa tahun yang lalu. Aku
menganggap ini adalah hal yang wajar saat kamu beranjak dewasa kemudian
menemukan apa yang dimaksud kehidupan itu. Sesuatu yang dianggap umum oleh
sebagian besar manusia. Kamu harus berjuang ketika masih muda untuk masa depan
yang lebih baik. Aku mengikuti kata-kata itu, tapi pada akhirnya aku mulai
terjebak dalam angan-angan tiada akhir tentang kehidupan yang normal. Pada akhirnya
aku melupakan semua mimpi yang pernah kubangun saat aku masih anak-anak. Pada
saat aku bermimpi tentang sesuatu yang besar. Untuk melihat dunia yang belum
pernah dilihat oleh siapapun di dunia ini. Saat aku sangat yakin ketika
mengucapkan janji itu. Dan saat ini aku menganggapnya sebagai sebuah janji
anak-anak yang tidak perlu ditepati.
“Aku akan ikut pasukan itu, paman.”
Aku mengatakannya seperti perasaan ku sangat lega. Aku ingin
mencurahkan semua kegelisahan dalam diriku yang masih terpendam sampai saat
ini. Aku ingin mencurahkannya dalam peperangan ini. Kalau pada akhirnya aku
mati, itu tidak akan menjadi masalah karena aku sudah berusaha untuk mewujudkan
mimpi itu.
Aku tidak ingin berakhir dengan sebuah penyesalan dan pada
saatnya aku mengatakan, ‘apa yang sudah kulakukan selama ini ?’
Aku tidak ingin mengucapkan hal semacam itu.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar