--
Kepada Andra Wibawa,
Aku sudah menerima suratmu kemarin, aku baik-baik saja disini. Semoga
kau juga begitu. Disini musim mulai berganti. Hujan sering turun seharian
penuh. Kemarin aku memakai payung pertamaku di musim ini. Sekolah mulai sibuk belakangan
ini. Aku bergabung dengan klub karate, aku sedang mempersiapkan diriku untuk
mengikuti kejuaran disini. Aku selalu menanti kabar darimu. Kabar dari
pemandangan itu. Suasana itu. Aku akan selalu merindukan itu semua.
Salam
Aya
Aku menggenggam kertas
ini seerat mungkin, seakan aku tidak ingin melepasnya. 6 bulan berlalu sejak
Aya pergi dari sini. Seperti jutaan kosmos yang memudar.
Aku sangat
merindukannya.
KOSMOS
Memudar Dan Tidak Di Ketahui
Saat itu umurku belum genap 11 tahun saat aku bertemu
dengannya.
Nattasha Aya Nugroho
Rambutnya yang hitam panjang sampai menutup sebagian
punggungnya, pipinya yang hampir menutupi hidungnya. Dia tidak lebih tinggi
dariku, manis, dan cantik.
Saat itu aku tidak terlalu suka berbicara dengan orang lain,
aku menghabiskan banyak waktuku untuk membaca di perpustakaan. Begitu juga
dengannya. Kami menjadi semakin dekat. Kadang anak-anak di kelas kami sering
mengejek kami. Sampai hampir membuat Aya tampak ingin menangis. Kadang saat hal
itu terjadi aku akan menghampirinya, menggenggam erat tangannya dan kami akan
berakhir di perpustakaan itu.
Apakah kau masih ingat
kucing kecil yang kita temukan saat kita pulang sekolah waktu itu ?
Apakah seperti ini
perasaan yang dirasakan oleh kucing itu ? Apakah dia juga kesepian ?
Aku menerima surat dari Aya setiap bulan. Jarak yang sangat
jauh memisahkan kami. Surat-surat itulah yang menjadi rantai penghubungnya. Aku
sangat ingin bertemu dengannya.
Aku sudah memasukki bangku SMP, Aya pun begitu.aku masuk di
SMP yang agak jauh dari rumahku. Setelah Aya pergi, surat pertamanya baru tiba
setelah 6 bulan.
Terakhir kita bertemu
saat acara kelulusan itu. Tak terasa sudah 6 bulan berlalu.
Andra, apakah kau
masih mengingatku ?
Aku tidak akan pernah lupa saat itu. Saat Aya bilang dia
harus pergi. Saat aku masih mampu menahan air mata itu. Saat kulihat senyuman
yang mengandung tangisan terlukis di wajahnya.
Setelah lulus dari SMP ini aku akan melanjutkan pendidikan
di tempat yang lebih jauh dari tempat tinggalku. Aku akan tinggal bersama
saudaraku di sana. Aku mungkin akan lebih menjauh darinya. Saat ini jarak kami
sekitar 100 km. Jarak yang tidak bisa ku jangkau dengan kondisiku saat ini.
Tapi, aku masih ingin melihat pemandangan itu bersamanya. Lagi.
Aku senang mendengar
kau mau datang kemari, satu minggu lagi tanggal 31 pukul 19.00 aku akan
menunggumu di halte terdekat. Jaraknya cukup jauh, jadi hati-hati ya.
Aku sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Sebentar lagi ujian
akan berlangsung. Sebelum itu aku ingin bertemu dengannya.
Aku harus naik angkot untuk sampai di terminal bus terdekat
sebelum melanjutkan perjalan ke tempatnya. Waktu yang kubutuhkan untuk sampai
disana sekitar 4 jam dengan bus. Aku akan berangkat pukul tiga sore, jadi seharusnya
aku bisa sampai tepat waktu.
Saat bel itu berbunyi, kakiku melangkah dengan sangat cepat
keluar dari bangunan itu. Aku mengenakan jaket yang cukup tebal karena saat ini
sedang mendung, aku berharap hujan tidak turun saat ini.
Aku menaiki angkot berwarna hijau yang melaju cukup cepat ke
terminal. Aku sampai di terminal pukul 3 tepat. Saat itu bus jurusan ke daerah
tempat Aya tinggal sudah terpampang jelas di mataku. Aku bergerak kesana seakan
langkahku tidak bisa di hentikan lagi. Aku masuk ke dalamnya dan mencari tempat
kosong. Semuanya kosong.
Aku duduk di tempat nomor 2 dari belakang sebelah kiri. Aku
mendekat ke jendela dan menatap langit yang mulai menghitam. Bus itu akan
menunggu setidaknya sampai kursi didalamnya terisi penuh.
15.20
20 menit aku duduk di kursi itu, dan beberapa kursi mulai
terisi. Bus mulai bergerak perlahan. Semakin cepat saat meninggalkan terminal
itu.
Air dari langit mulai terasa membasahi jendela di sampingku.
Mengalir semakin deras. Dan suara gemuruh itu mulai terdengar. Udara dingin
mulai mnusuk masuk ke tulang-tulangku. Aku menyingkapkan kerudung jaketku
menutupi kepalaku untuk melawan kedinginan itu.
16.15
Bus itu berhenti di sebuah terminal. Aku turun dari bus itu.
Berlari melawan hujan yang semakin deras menuju bus lain yang akan langsung
mengantarkanku ke tempat Aya berada.
16.30
Bus itu mulai bergerak. Seperti menerjang badai. Ya, memang
seperti itulah keadaannya. Sangat deras. Hujan itu sangat deras. Aku sudah tak
mampu menahan rasa dingin itu. Kedua tanganku masuk ke kantong jaketku, tangan
kananku menggenggam erat secarik kertas yang berisi semua yang ingin aku
ungkapkan kepada Aya.
18.00
Bus tiba-tiba berhenti. Suara nyaring terdengar dari
pengeras suara itu.
Kami akan berhenti untuk
sementara waktu karena angin yang sangat kencang sedang terjadi di daerah
terdekat. Bus akan berjalan kembali setelah keadaan dinyatakan aman. Mohon maaf
atas ketidaknyamanan ini.
Jarak kami masih jauh. Dan rasa dingin ini mulai semakin
terasa dingin. Sangat dingin.
18.30
Bus mulai bergerak kembali.
19.00
Waktu mulai semakin bergerak sangat cepat melebihi kecepatan
bus ini. Keadaan semakin suram, angin berhembus sangat kencang. Hujan semakin
terasa menjadi musuh bagiku. Yang bisa kulakukan saat ini hanya menggeretakkan
gigiku dan menahan agar air mata ini tidak menetes.
19.45
Malam semakin cepat bergerak menuju puncaknya. Aku tidak tau
apa yang dirasakannya, kuharap dia tidak terlalu khawatir.
20.00
Bus mulai bergerak melambat, semakin lambat dan berhenti.
Tulisan halte itu tidak terlalu tampak dari dalam sini, air hujan masih
menyelimuti kaca ini dan perlahan bergerak turun. Dari luar sana mungkin aku
terlihat menangis.
Angin berhembus kencang saat aku melangkahkan kakiku turun dari bus itu. Angin
menyingkapkan kerudung jaket yang ku kenakan. Aku berjalan menyusuri lorong
halte itu. Perasaanku tidak meyakinkanku bisa bertemu dengannya. Sesaat
pandanganku memudar.
Seorang gadis kecil duduk di pojok halte dengan jaket pink
yang dihiasi bulu-bulu yang menghangatkan, rambutnya tertutup kerudung
jaketnya, wajahnya tertutup oleh tundukkannya, kulit putihnya tertutup rapat
oleh pakaian yang ia kenakan.
Rasanya seperti ada yang menetes ke pipiku. Apakah atapnya
bocor ?
Aku berjalan perlahan menuju gadis itu. Aku takut
membangunkan tidur pulasnya. Aku menatap tubuh mungil itu. Sesaat bibirku
bergerak perlahan memanggil namanya.
Wajah itu sedikit demi sedikit mengarah ke wajahku. Wajahnya
masih tampak sama, tidak berubah sedikit pun. Paras cantik itu tidak akan
pernah kulupakan. Tangan mungilnya perlahan mendekat ke tanganku,
menggenggamnya seakan tidak akan pernah dia lepaskan. Wajahnya kembali
menunduk, suara isakan kecil terdengar memecah suara derasnya hujan. Aku
menatapnya dalam-dalam. Air mata ini tidak bisa kutahan lagi. Isakan kami
berdua sesaat memecah dingin malam itu.
Aku duduk disampingnya. Rasanya aku tidak sanggup menatap
wajahnya. Detak jantungku perlahan mulai menurun. Aya mengeluarkan sesuatu dari
tas hijau muda yang dia bawa. Sebuah kotak bekal yang terisi penuh ia letakkan
diantara kami berdua. Makanan yang dia buat dengan tangan mungilnya itu entah
seperti apa rasanya. Rasa laparku tak tertahankan lagi. Saat makanan itu masuk
ke dalam mulutku, isakan itu mulai terdengar kembali. Isakan dariku. Itu adalah
makanan terenak yang pernah kumakan selama ini.
Aya masih menatapku sanagat dalam. Senyuman di bibirnya
tidak berubah, menambah kecantikan malam itu. Hujan seakan menjadi musik
romantis yang mengiringi pertemuan kami.
Seorang laki-laki dewasa berpakaian rapi mengahampiri kami.
Menagatakan bahwa halte akan segera tutup. Saat itu pukul 21.00.
Kami keluar dari halte itu, berjalan menyusuri jalan besar
yang sepi di bawah payung besar yang Aya bawa. Hujan masih turun. Tidak sederas
sebelumnya. Hawa dingin itu masih menusuk tulangku.
Kami masih menyusuri jalan yang ada sawah disampingnya.
Angin berhembus dan menerbangkan air dari langit itu membasahi tubuh kami.
Payung besar itu tidak kuasa menahan air hujan.
Sesaat hujan mulai reda. Kami sampai di sebuah tempat luas
yang kami bisa melihat hamparan sawah dengan leluasa. Mendung di langit
perlahan bergerak menjauh dari bulan. Tampak sinar kuning itu menerangi jalan
kami. Di bawah pohon besar aku menatapnya. Saat wajahnya mengarah kepadaku.
Senyuman itu.
“Hey, Andra. Akhirnya kita bisa melihat pemandangan indah
ini sekali lagi. “
Aya mengatakannya dengan sinar bulan yang menyinari
wajahnya. Tampak sangat cantik.
Tubuhku bergerak perlahan dan memeluknya. Kupeluk dengan
sangat erat. Aku tidak ingin melepas tubuh mungil itu. Udara dingin itu menjadi
semakin hangat. Isakan itu semakin terdengar. Terdengar kembali. Saat itu Sang
Penguasa hati, jiwa dan kebahagiaan terasa sangat dekat. Aku hampir mampu
meraihnya. Sedikit demi sedikit kosmos itu memudar menjadi butiran yang lebih kecil
menuju kegelapan yang sempurna. Sesaat, aku berpikir. Kami akan menjauh lagi
setelah ini. Lebih jauh melintasi beribu kilometer. Lalu, mau kubawa kemana
perasaan ini. Perasaan rindu ini. Perasaan cinta ini.
Kami tidur disebuah gubuk kecil di tengah persawahan yang
membuat kami mampu melihat jutaan bintang di angkasa raya. Bersinar dalam
kegelapan. Seanggun warna senja, bersambut musim yang kami jalani, semekar
bintang penuh harapan, mencoba tuk terangi dalam gelapnya malam.
Setelah ini entah berapa waktu panjang yang harus kami
lewati untuk menikmati kebersamaan seperti ini. Dalam kecamuk pikiran itu, aku
menyerahkan secarik kertas itu kepada Aya.
Kami bercerita tentang banyak hal sepanjang malam. Tak
terasa kami pun tertidur.
Pagi itu aku harus kembali ke daerahku. Pergi menjauh
darinya. Aku melangkahkan kakiku ke dalam bus itu. Aya masih menatapku di
depanku. Dalam halte itu. Dia masih memeluk tas hijau muda itu dengan erat.
Tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Andra.”
Dia menatapku dengan tatapan yang luar biasa.
“Setelah ini, aku yakin kau akan baik-baik saja. Lebih baik
dari saat ini.”
Saat dia mengatakannya. Pintu otomatis itu mulai tertutup.
Aku menyentuh kaca pintu itu seperti aku mampu menghentikan waktu.
“Aku akan sering mengirim surat, dan telepon juga—“
Saat aku mengatakannya. Bus melaju dengan perlahan dan
semakin cepat, menjauh dari gadis kecil yang masih berdiri menatap dari
kejauhan.
Aku pergi, Aya.
KOSMOS
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar