Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Kamis, 24 Maret 2016

[Read] #2 Setengah Kilometer - Kosmos

--
Kepada Andra Wibawa,
Aku sudah menerima suratmu kemarin, aku baik-baik saja disini. Semoga kau juga begitu. Disini musim mulai berganti. Hujan sering turun seharian penuh. Kemarin aku memakai payung pertamaku di musim ini. Sekolah mulai sibuk belakangan ini. Aku bergabung dengan klub karate, aku sedang mempersiapkan diriku untuk mengikuti kejuaran disini. Aku selalu menanti kabar darimu. Kabar dari pemandangan itu. Suasana itu. Aku akan selalu merindukan itu semua.
Salam
Aya
Aku menggenggam kertas ini seerat mungkin, seakan aku tidak ingin melepasnya. 6 bulan berlalu sejak Aya pergi dari sini. Seperti jutaan kosmos yang memudar.
Aku sangat merindukannya.









KOSMOS
Memudar Dan Tidak Di Ketahui










Saat itu umurku belum genap 11 tahun saat aku bertemu dengannya.
Nattasha Aya Nugroho
Rambutnya yang hitam panjang sampai menutup sebagian punggungnya, pipinya yang hampir menutupi hidungnya. Dia tidak lebih tinggi dariku, manis, dan cantik.
Saat itu aku tidak terlalu suka berbicara dengan orang lain, aku menghabiskan banyak waktuku untuk membaca di perpustakaan. Begitu juga dengannya. Kami menjadi semakin dekat. Kadang anak-anak di kelas kami sering mengejek kami. Sampai hampir membuat Aya tampak ingin menangis. Kadang saat hal itu terjadi aku akan menghampirinya, menggenggam erat tangannya dan kami akan berakhir di perpustakaan itu.
Apakah kau masih ingat kucing kecil yang kita temukan saat kita pulang sekolah waktu itu ?
Apakah seperti ini perasaan yang dirasakan oleh kucing itu ? Apakah dia juga kesepian ?
Aku menerima surat dari Aya setiap bulan. Jarak yang sangat jauh memisahkan kami. Surat-surat itulah yang menjadi rantai penghubungnya. Aku sangat ingin bertemu dengannya.
Aku sudah memasukki bangku SMP, Aya pun begitu.aku masuk di SMP yang agak jauh dari rumahku. Setelah Aya pergi, surat pertamanya baru tiba setelah 6 bulan.
Terakhir kita bertemu saat acara kelulusan itu. Tak terasa sudah 6 bulan berlalu.
Andra, apakah kau masih mengingatku ?
Aku tidak akan pernah lupa saat itu. Saat Aya bilang dia harus pergi. Saat aku masih mampu menahan air mata itu. Saat kulihat senyuman yang mengandung tangisan terlukis di wajahnya.
Setelah lulus dari SMP ini aku akan melanjutkan pendidikan di tempat yang lebih jauh dari tempat tinggalku. Aku akan tinggal bersama saudaraku di sana. Aku mungkin akan lebih menjauh darinya. Saat ini jarak kami sekitar 100 km. Jarak yang tidak bisa ku jangkau dengan kondisiku saat ini. Tapi, aku masih ingin melihat pemandangan itu bersamanya. Lagi.
Aku senang mendengar kau mau datang kemari, satu minggu lagi tanggal 31 pukul 19.00 aku akan menunggumu di halte terdekat. Jaraknya cukup jauh, jadi hati-hati ya.
Aku sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Sebentar lagi ujian akan berlangsung. Sebelum itu aku ingin bertemu dengannya.
Aku harus naik angkot untuk sampai di terminal bus terdekat sebelum melanjutkan perjalan ke tempatnya. Waktu yang kubutuhkan untuk sampai disana sekitar 4 jam dengan bus. Aku akan berangkat pukul tiga sore, jadi seharusnya aku bisa sampai tepat waktu.
Saat bel itu berbunyi, kakiku melangkah dengan sangat cepat keluar dari bangunan itu. Aku mengenakan jaket yang cukup tebal karena saat ini sedang mendung, aku berharap hujan tidak turun saat ini.
Aku menaiki angkot berwarna hijau yang melaju cukup cepat ke terminal. Aku sampai di terminal pukul 3 tepat. Saat itu bus jurusan ke daerah tempat Aya tinggal sudah terpampang jelas di mataku. Aku bergerak kesana seakan langkahku tidak bisa di hentikan lagi. Aku masuk ke dalamnya dan mencari tempat kosong. Semuanya kosong.
Aku duduk di tempat nomor 2 dari belakang sebelah kiri. Aku mendekat ke jendela dan menatap langit yang mulai menghitam. Bus itu akan menunggu setidaknya sampai kursi didalamnya terisi penuh.
15.20
20 menit aku duduk di kursi itu, dan beberapa kursi mulai terisi. Bus mulai bergerak perlahan. Semakin cepat saat meninggalkan terminal itu.
Air dari langit mulai terasa membasahi jendela di sampingku. Mengalir semakin deras. Dan suara gemuruh itu mulai terdengar. Udara dingin mulai mnusuk masuk ke tulang-tulangku. Aku menyingkapkan kerudung jaketku menutupi kepalaku untuk melawan kedinginan itu.
16.15
Bus itu berhenti di sebuah terminal. Aku turun dari bus itu. Berlari melawan hujan yang semakin deras menuju bus lain yang akan langsung mengantarkanku ke tempat Aya berada.
16.30
Bus itu mulai bergerak. Seperti menerjang badai. Ya, memang seperti itulah keadaannya. Sangat deras. Hujan itu sangat deras. Aku sudah tak mampu menahan rasa dingin itu. Kedua tanganku masuk ke kantong jaketku, tangan kananku menggenggam erat secarik kertas yang berisi semua yang ingin aku ungkapkan kepada Aya.
18.00
Bus tiba-tiba berhenti. Suara nyaring terdengar dari pengeras suara itu.
Kami akan berhenti untuk sementara waktu karena angin yang sangat kencang sedang terjadi di daerah terdekat. Bus akan berjalan kembali setelah keadaan dinyatakan aman. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Jarak kami masih jauh. Dan rasa dingin ini mulai semakin terasa dingin. Sangat dingin.
18.30
Bus mulai bergerak kembali.
19.00
Waktu mulai semakin bergerak sangat cepat melebihi kecepatan bus ini. Keadaan semakin suram, angin berhembus sangat kencang. Hujan semakin terasa menjadi musuh bagiku. Yang bisa kulakukan saat ini hanya menggeretakkan gigiku dan menahan agar air mata ini tidak menetes.
19.45
Malam semakin cepat bergerak menuju puncaknya. Aku tidak tau apa yang dirasakannya, kuharap dia tidak terlalu khawatir.
20.00
Bus mulai bergerak melambat, semakin lambat dan berhenti. Tulisan halte itu tidak terlalu tampak dari dalam sini, air hujan masih menyelimuti kaca ini dan perlahan bergerak turun. Dari luar sana mungkin aku terlihat menangis.
Angin berhembus kencang saat aku melangkahkan  kakiku turun dari bus itu. Angin menyingkapkan kerudung jaket yang ku kenakan. Aku berjalan menyusuri lorong halte itu. Perasaanku tidak meyakinkanku bisa bertemu dengannya. Sesaat pandanganku memudar.
Seorang gadis kecil duduk di pojok halte dengan jaket pink yang dihiasi bulu-bulu yang menghangatkan, rambutnya tertutup kerudung jaketnya, wajahnya tertutup oleh tundukkannya, kulit putihnya tertutup rapat oleh pakaian yang ia kenakan.
Rasanya seperti ada yang menetes ke pipiku. Apakah atapnya bocor ?
Aku berjalan perlahan menuju gadis itu. Aku takut membangunkan tidur pulasnya. Aku menatap tubuh mungil itu. Sesaat bibirku bergerak perlahan memanggil namanya.
Wajah itu sedikit demi sedikit mengarah ke wajahku. Wajahnya masih tampak sama, tidak berubah sedikit pun. Paras cantik itu tidak akan pernah kulupakan. Tangan mungilnya perlahan mendekat ke tanganku, menggenggamnya seakan tidak akan pernah dia lepaskan. Wajahnya kembali menunduk, suara isakan kecil terdengar memecah suara derasnya hujan. Aku menatapnya dalam-dalam. Air mata ini tidak bisa kutahan lagi. Isakan kami berdua sesaat memecah dingin malam itu.
Aku duduk disampingnya. Rasanya aku tidak sanggup menatap wajahnya. Detak jantungku perlahan mulai menurun. Aya mengeluarkan sesuatu dari tas hijau muda yang dia bawa. Sebuah kotak bekal yang terisi penuh ia letakkan diantara kami berdua. Makanan yang dia buat dengan tangan mungilnya itu entah seperti apa rasanya. Rasa laparku tak tertahankan lagi. Saat makanan itu masuk ke dalam mulutku, isakan itu mulai terdengar kembali. Isakan dariku. Itu adalah makanan terenak yang pernah kumakan selama ini.
Aya masih menatapku sanagat dalam. Senyuman di bibirnya tidak berubah, menambah kecantikan malam itu. Hujan seakan menjadi musik romantis yang mengiringi pertemuan kami.
Seorang laki-laki dewasa berpakaian rapi mengahampiri kami. Menagatakan bahwa halte akan segera tutup. Saat itu pukul 21.00.
Kami keluar dari halte itu, berjalan menyusuri jalan besar yang sepi di bawah payung besar yang Aya bawa. Hujan masih turun. Tidak sederas sebelumnya. Hawa dingin itu masih menusuk tulangku.
Kami masih menyusuri jalan yang ada sawah disampingnya. Angin berhembus dan menerbangkan air dari langit itu membasahi tubuh kami. Payung besar itu tidak kuasa menahan air hujan.
Sesaat hujan mulai reda. Kami sampai di sebuah tempat luas yang kami bisa melihat hamparan sawah dengan leluasa. Mendung di langit perlahan bergerak menjauh dari bulan. Tampak sinar kuning itu menerangi jalan kami. Di bawah pohon besar aku menatapnya. Saat wajahnya mengarah kepadaku. Senyuman itu.
“Hey, Andra. Akhirnya kita bisa melihat pemandangan indah ini sekali lagi. “
Aya mengatakannya dengan sinar bulan yang menyinari wajahnya. Tampak sangat cantik.
Tubuhku bergerak perlahan dan memeluknya. Kupeluk dengan sangat erat. Aku tidak ingin melepas tubuh mungil itu. Udara dingin itu menjadi semakin hangat. Isakan itu semakin terdengar. Terdengar kembali. Saat itu Sang Penguasa hati, jiwa dan kebahagiaan terasa sangat dekat. Aku hampir mampu meraihnya. Sedikit demi sedikit kosmos itu memudar menjadi butiran yang lebih kecil menuju kegelapan yang sempurna. Sesaat, aku berpikir. Kami akan menjauh lagi setelah ini. Lebih jauh melintasi beribu kilometer. Lalu, mau kubawa kemana perasaan ini. Perasaan rindu ini. Perasaan cinta ini.
Kami tidur disebuah gubuk kecil di tengah persawahan yang membuat kami mampu melihat jutaan bintang di angkasa raya. Bersinar dalam kegelapan. Seanggun warna senja, bersambut musim yang kami jalani, semekar bintang penuh harapan, mencoba tuk terangi dalam gelapnya malam.
Setelah ini entah berapa waktu panjang yang harus kami lewati untuk menikmati kebersamaan seperti ini. Dalam kecamuk pikiran itu, aku menyerahkan secarik kertas itu kepada Aya.
Kami bercerita tentang banyak hal sepanjang malam. Tak terasa kami pun tertidur.
Pagi itu aku harus kembali ke daerahku. Pergi menjauh darinya. Aku melangkahkan kakiku ke dalam bus itu. Aya masih menatapku di depanku. Dalam halte itu. Dia masih memeluk tas hijau muda itu dengan erat. Tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Andra.”
Dia menatapku dengan tatapan yang luar biasa.
“Setelah ini, aku yakin kau akan baik-baik saja. Lebih baik dari saat ini.”
Saat dia mengatakannya. Pintu otomatis itu mulai tertutup. Aku menyentuh kaca pintu itu seperti aku mampu menghentikan waktu.
“Aku akan sering mengirim surat, dan telepon juga—“
Saat aku mengatakannya. Bus melaju dengan perlahan dan semakin cepat, menjauh dari gadis kecil yang masih berdiri menatap dari kejauhan.
Aku pergi, Aya.


KOSMOS
end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story