--
“Hei, Andra”
Aku menatapnya
seperti aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Seorang laki-laki yang mampu
mengetuk pintu hatiku.
“Kau tau kan, jarak
tempat tinggal tidak lebih dari lima ratus meter ? “
Aku masih menatapnya.
Melihat wajahnya yang serius menatapku, rambutnya yang hitam bergaya harajuku
pendek, hidungnya yang tidak mancung namun proporsional, bibirnya yang sedikit
tebal tampak tidak mampu mengucapkan apapun.
“Mungkin tidak akan
seperti itu lagi “
Aku mengatakannya
sambil menahan air mata dengan senyuman.
“Namun aku harap bisa
menikmati musim panas seperti ini tahun depan bersamamu.”
Saat itu kami berada
di sebuah tempat yang sangat tinggi, dari tempat itu kami bisa melihat alam
yang membentang luas, barisan pohon menghijau sejauh mata memandang.
SETENGAH KILOMETER
Sebuah Kisah Singkat Tentang Jarak Mereka
Namaku Aya. Nattasha Aya Nugroho. Aku mendapat nama marga
Nugroho dari ayahku. Keluargaku sering pindah tempat tinggal karena urusan
pekerjaan. Itu membuatku sering pindah sekolah. Aku bertemu banyak orang baru.
Aku juga bertemu dengannya.
Tahun ini aku pindah ke sebuah daerah yang terpencil, ini
karena pekerjaan ayahku yang menuntut kami sekeluarga untuk pindah ke daerah
itu. Aku masih berumur 10 Tahun. Aku masih duduk di bangku Kelas 4 Sekolah
Dasar. Aku melanjutkan pendidikanku di daerah itu.
Waktu berlalu dan aku sudah mengenal banyak teman baru.
Terutama dia.
Andra Wibawa.
Dia teman sekelasku, rumahku dengan rumah Andra berjarak
tidak lebih dari lima ratus meter. Aku sering bermain dengannya. Didekat
rumahku berdiri sebuah gunung yang tinggi, dari atasnya aku bisa melihat
bentangan alam luas nan indah. Aku bisa mengetahui semua itu berkat Andra.
Setiap minggu kami selalu mendaki gunung itu. Alam ini tampak lebih indah saat
aku melihatnya bersama Andra.
Minggu ini aku akan mendaki gunung bersama Andra lagi. Aku
membawa bekal masakan ibuku. Orang tua kami sudah saling mengenal dan tampak
sudah akrab. Itu sebabnya aku di bolehkan untuk bermain bersama Andra.
Aku membawa ransel kecil yang membuatku tampak pendek. Aku
bertemu dengan Andra di persimpangan jalan antara rumahku dengan rumahnya.
Andra orangnya tidak banyak bicara, namun aku selalu mengerti sesingkat apapun
yang dia katakan. Kami mendaki seperti biasa, ransel yang kubawa tadi berpindah
ke punggung Andra, aku berjalan di sampingnya, sesekali aku menatapnya. Dia
selalu tampak serius, dia selalu menatap ke atas. Menatap ke puncak.
Kadang aku yang menunduk karena tidak mampu menyamai
kecepatan langkahnya. Kami beristirahat di bawah pohon besar nan rindang. Pohon
itu entah mengapa mampu menyejukkan hati, ditambah dengan pemandangan ini.
Bukan semua itu. Tapi orang disampingku ini lah yang membuatnya. Membuatnya
semakin indah.
Andra sesekali menatapku saat kami melanjutkan perjalanan.
Berhenti untuk memastikan bahwa aku masih kuat menyamainya. Walau aku tidak
mampu mengejarnya atau melampauinya, aku masih diampingnya. Kami masih berjalan
berdampingan. Entah apakah Andra merasakannya atau tidak. Tapi perasaanku
mengatakan, hatiku tidak bergeser dari hatinya satu sentimeter pun.
Di puncak gunung itu, kami memakan bekal yang kubawa tadi.
Masakan ibuku memang masakan yang paling lezat di dunia. Menjadi lebih lezat
dari pada apapun saat bersamanya. Pemandangan ini, makanan ini, dan semua yang
kurasakan saat bersamanya seperti jutaan micro kosmos yang bersatu menjadi
gumpalan yang entah apa namanya. Aku tidak bisa menyebutkannya, hanya saja saat
ini aku sangat bahagia.
Waktu berlalu dan tak terasa aku sudah duduk di bangku kelas
6. Kebersamaanku dengan Andra berkurang drastis. Kami jarang mendaki gunung
bersama. Orang tuaku tidak mengijinkan kalau aku ingin mendaki gunung
bersamanya. Aku harus belajar untuk menghadapi Ujian Nasional.
Aku keluar dari ruangan kelas. Aku membawa ransel di
punggungku. Andra bilang aku sangat imut saat menggunakan ransel berwarna hijau
muda itu.
Saat aku berjalan keluar dari area sekolah itu untuk
menunggu ibuku menjemputku, aku mendengar suara yang tidak akan pernah aku lupa
suara siapa itu. Andra berlari ke arahku. Aku menoleh, saat itu ibuku datang
membawa sepeda motor matic nya. Andra berdiri di hadapanku, dia tampak
berkeringat. Hari itu adalah hari terakhir aku masuk sekolah sebelum ujian
nasional di laksanakan.
“Aya, “
Andra menatapku dengan serius seperti biasanya.
“Sukses untuk ujiannya yah “
Andra tersenyum kepadaku. Aku masih menatapnya, tampak di
matanya ada sesuatu yang tidak mampu dia sampaikan.
“Iya, kamu juga, Andra “
Aku tersenyum padanya, dan melangkah menaiki motor ibuku.
Mesin motor itu menyala dengan lembut seperti otor matic
pada umumnya. Ibuku mulai menarik gasnya perlahan. Andra masih menatapku, aku
juga tidak bisa berhenti menatapnya. Motor ini
mulai bergerak perlahan, saat Andra melangkahkan kakiknya mendekat
kepadaku. Motor ini mulai bergerak cepat saat Andra mengucapkan sesuatu.
“Aya, setelah ujian aku ingin-- “
Saat itu aku sudah bergerak menjauhi Andra yang masih
mengucapkan sesuatu.
“mendaki gunung bersamamu “
Aku mendengarnya dengan sangat jelas walaupun jarak kami
saat itu mungkin sekitar lima ratus meter, aku tetap mengerti apa yang Andra
katakan hanya dengan menatap wajahnya. Matanya selalu mengatakan apapun isi
hatinya.
Ujian Nasional pun berlalu dengan cepat. Mungkin karena aku
tidak sabar untuk menikmati indahnya alam itu bersamanya.
Hari sebelum aku mendaki gunung bersama Andra. Aku sudah
siap untuk berangkat sekolah saat ayahku menerima telephon dengan suara keras.
Aku mengerti betul apa yang sedang ayah bicarakan. Aku selalu mengerti bahwa
akan ada saat seperti ini. Lagi.
Hari ini aku bersama Andra di puncak itu.
“Hei, Andra”
Aku menatapnya seperti aku tidak akan bisa melihatnya lagi.
Seorang laki-laki yang mampu mengetuk pintu hatiku.
“Kau tau kan, jarak tempat tinggal tidak lebih dari setengah
kilometer ? “
Aku masih menatapnya. Melihat wajahnya yang serius
menatapku, rambutnya yang hitam bergaya harajuku pendek, hidungnya yang tidak
mancung namun proporsional, bibirnya yang sedikit tebal tampak tidak mampu
mengucapkan apapun.
“Mungkin tidak akan seperti itu lagi “
Aku mengatakannya sambil menahan air mata dengan senyuman.
“Namun aku harap bisa menikmati musim panas seperti ini
tahun depan bersamamu.”
Saat itu kami berada di sebuah tempat yang sangat tinggi,
dari tempat itu kami bisa melihat alam yang membentang luas, barisan pohon
menghijau sejauh mata memandang.
Aku tidak tau apa yang Andra rasakan. Aku menatapnya
dalam-dalam. Andra menatap alam nan indah itu. Sesaat udara menjadi semakin
dingin di puncak itu. Tidak seperti biasa, hembusan angin sejuk itu bagai
berubah menjadi udara dingin yang menusuk hati. Hatiku.
Aku masih menatapnya sangat dalam. Aku tau kalau dia menhan
semua tangisan itu seperti yang kulakukan. Sesaat Andra menatapku sangat dalam.
Aku melihat matanya. Sebuah linangan air itu sangat deras membasahi matanya.
Pandanganku mulai kabur, aku tidak menyadarinya pipiku mulai basah, air itu
mengalir ke mulutku, aku merasakannya. Kesedihan itu. Kesedihan yang sangat
dalam.
Aku tidak tau apa yang harus aku lakuakan. Kami masih saling
menatap, sampai saat Andra mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku tidak merasakan apapun. Dinginnya
hembusan angin itu. Derasnya air mata ini. Semuanya pudar. Yang tersisa
hanyalah kehangatan bibir Andra yang menyentuh bibirku. Ciuman itu sangat
dalam. Aku bisa merasakan semua kesedihan itu.
Saat semua itu berlalu, Andra memelukku dengan sangat erat.
Sampai aku bisa merasakan degup jantungnya. Sangat cepat, berirama dengan degup
jantungku yang lebih cepat. Limaratus meter per jam.
Sesaat aku tidak ingin semua itu berlalu. Tidak ada lagi
yang aku inginkan selain dirinya.
Mungkin setelah ini jarak kami akan lebih jauh dari lima
ratus meter, tapi hatiku tidak akan bergeser satu sentimeter pun darinya.
SETENGAH KILOMETER
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar