Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Kamis, 24 Maret 2016

[Read] #1 Setengah Kilometer

--

“Hei, Andra”
Aku menatapnya seperti aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Seorang laki-laki yang mampu mengetuk pintu hatiku.
“Kau tau kan, jarak tempat tinggal tidak lebih dari lima ratus meter ? “
Aku masih menatapnya. Melihat wajahnya yang serius menatapku, rambutnya yang hitam bergaya harajuku pendek, hidungnya yang tidak mancung namun proporsional, bibirnya yang sedikit tebal tampak tidak mampu mengucapkan apapun.
“Mungkin tidak akan seperti itu lagi “
Aku mengatakannya sambil menahan air mata dengan senyuman.
“Namun aku harap bisa menikmati musim panas seperti ini tahun depan bersamamu.”

Saat itu kami berada di sebuah tempat yang sangat tinggi, dari tempat itu kami bisa melihat alam yang membentang luas, barisan pohon menghijau sejauh mata memandang.








SETENGAH KILOMETER
Sebuah Kisah Singkat Tentang Jarak Mereka








Namaku Aya. Nattasha Aya Nugroho. Aku mendapat nama marga Nugroho dari ayahku. Keluargaku sering pindah tempat tinggal karena urusan pekerjaan. Itu membuatku sering pindah sekolah. Aku bertemu banyak orang baru. Aku juga bertemu dengannya.
Tahun ini aku pindah ke sebuah daerah yang terpencil, ini karena pekerjaan ayahku yang menuntut kami sekeluarga untuk pindah ke daerah itu. Aku masih berumur 10 Tahun. Aku masih duduk di bangku Kelas 4 Sekolah Dasar. Aku melanjutkan pendidikanku di daerah itu.
Waktu berlalu dan aku sudah mengenal banyak teman baru. Terutama dia.
Andra Wibawa.
Dia teman sekelasku, rumahku dengan rumah Andra berjarak tidak lebih dari lima ratus meter. Aku sering bermain dengannya. Didekat rumahku berdiri sebuah gunung yang tinggi, dari atasnya aku bisa melihat bentangan alam luas nan indah. Aku bisa mengetahui semua itu berkat Andra. Setiap minggu kami selalu mendaki gunung itu. Alam ini tampak lebih indah saat aku melihatnya bersama Andra.
Minggu ini aku akan mendaki gunung bersama Andra lagi. Aku membawa bekal masakan ibuku. Orang tua kami sudah saling mengenal dan tampak sudah akrab. Itu sebabnya aku di bolehkan untuk bermain bersama Andra.
Aku membawa ransel kecil yang membuatku tampak pendek. Aku bertemu dengan Andra di persimpangan jalan antara rumahku dengan rumahnya. Andra orangnya tidak banyak bicara, namun aku selalu mengerti sesingkat apapun yang dia katakan. Kami mendaki seperti biasa, ransel yang kubawa tadi berpindah ke punggung Andra, aku berjalan di sampingnya, sesekali aku menatapnya. Dia selalu tampak serius, dia selalu menatap ke atas. Menatap ke puncak.
Kadang aku yang menunduk karena tidak mampu menyamai kecepatan langkahnya. Kami beristirahat di bawah pohon besar nan rindang. Pohon itu entah mengapa mampu menyejukkan hati, ditambah dengan pemandangan ini. Bukan semua itu. Tapi orang disampingku ini lah yang membuatnya. Membuatnya semakin indah.
Andra sesekali menatapku saat kami melanjutkan perjalanan. Berhenti untuk memastikan bahwa aku masih kuat menyamainya. Walau aku tidak mampu mengejarnya atau melampauinya, aku masih diampingnya. Kami masih berjalan berdampingan. Entah apakah Andra merasakannya atau tidak. Tapi perasaanku mengatakan, hatiku tidak bergeser dari hatinya satu sentimeter pun.
Di puncak gunung itu, kami memakan bekal yang kubawa tadi. Masakan ibuku memang masakan yang paling lezat di dunia. Menjadi lebih lezat dari pada apapun saat bersamanya. Pemandangan ini, makanan ini, dan semua yang kurasakan saat bersamanya seperti jutaan micro kosmos yang bersatu menjadi gumpalan yang entah apa namanya. Aku tidak bisa menyebutkannya, hanya saja saat ini aku sangat bahagia.
Waktu berlalu dan tak terasa aku sudah duduk di bangku kelas 6. Kebersamaanku dengan Andra berkurang drastis. Kami jarang mendaki gunung bersama. Orang tuaku tidak mengijinkan kalau aku ingin mendaki gunung bersamanya. Aku harus belajar untuk menghadapi Ujian Nasional.
Aku keluar dari ruangan kelas. Aku membawa ransel di punggungku. Andra bilang aku sangat imut saat menggunakan ransel berwarna hijau muda itu.
Saat aku berjalan keluar dari area sekolah itu untuk menunggu ibuku menjemputku, aku mendengar suara yang tidak akan pernah aku lupa suara siapa itu. Andra berlari ke arahku. Aku menoleh, saat itu ibuku datang membawa sepeda motor matic nya. Andra berdiri di hadapanku, dia tampak berkeringat. Hari itu adalah hari terakhir aku masuk sekolah sebelum ujian nasional di laksanakan.
“Aya, “
Andra menatapku dengan serius seperti biasanya.
“Sukses untuk ujiannya yah “
Andra tersenyum kepadaku. Aku masih menatapnya, tampak di matanya ada sesuatu yang tidak mampu dia sampaikan.
“Iya, kamu juga, Andra “
Aku tersenyum padanya, dan melangkah menaiki motor ibuku.
Mesin motor itu menyala dengan lembut seperti otor matic pada umumnya. Ibuku mulai menarik gasnya perlahan. Andra masih menatapku, aku juga tidak bisa berhenti menatapnya. Motor ini  mulai bergerak perlahan, saat Andra melangkahkan kakiknya mendekat kepadaku. Motor ini mulai bergerak cepat saat Andra mengucapkan sesuatu.
“Aya, setelah ujian aku ingin-- “
Saat itu aku sudah bergerak menjauhi Andra yang masih mengucapkan sesuatu.
“mendaki gunung bersamamu “

Aku mendengarnya dengan sangat jelas walaupun jarak kami saat itu mungkin sekitar lima ratus meter, aku tetap mengerti apa yang Andra katakan hanya dengan menatap wajahnya. Matanya selalu mengatakan apapun isi hatinya.
Ujian Nasional pun berlalu dengan cepat. Mungkin karena aku tidak sabar untuk menikmati indahnya alam itu bersamanya.
Hari sebelum aku mendaki gunung bersama Andra. Aku sudah siap untuk berangkat sekolah saat ayahku menerima telephon dengan suara keras. Aku mengerti betul apa yang sedang ayah bicarakan. Aku selalu mengerti bahwa akan ada saat seperti ini. Lagi.
Hari ini aku bersama Andra di puncak itu.
“Hei, Andra”
Aku menatapnya seperti aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Seorang laki-laki yang mampu mengetuk pintu hatiku.
“Kau tau kan, jarak tempat tinggal tidak lebih dari setengah kilometer ? “
Aku masih menatapnya. Melihat wajahnya yang serius menatapku, rambutnya yang hitam bergaya harajuku pendek, hidungnya yang tidak mancung namun proporsional, bibirnya yang sedikit tebal tampak tidak mampu mengucapkan apapun.
“Mungkin tidak akan seperti itu lagi “
Aku mengatakannya sambil menahan air mata dengan senyuman.
“Namun aku harap bisa menikmati musim panas seperti ini tahun depan bersamamu.”
Saat itu kami berada di sebuah tempat yang sangat tinggi, dari tempat itu kami bisa melihat alam yang membentang luas, barisan pohon menghijau sejauh mata memandang.
Aku tidak tau apa yang Andra rasakan. Aku menatapnya dalam-dalam. Andra menatap alam nan indah itu. Sesaat udara menjadi semakin dingin di puncak itu. Tidak seperti biasa, hembusan angin sejuk itu bagai berubah menjadi udara dingin yang menusuk hati. Hatiku.
Aku masih menatapnya sangat dalam. Aku tau kalau dia menhan semua tangisan itu seperti yang kulakukan. Sesaat Andra menatapku sangat dalam. Aku melihat matanya. Sebuah linangan air itu sangat deras membasahi matanya. Pandanganku mulai kabur, aku tidak menyadarinya pipiku mulai basah, air itu mengalir ke mulutku, aku merasakannya. Kesedihan itu. Kesedihan yang sangat dalam.
Aku tidak tau apa yang harus aku lakuakan. Kami masih saling menatap, sampai saat Andra mendekatkan wajahnya ke wajahku,  aku tidak merasakan apapun. Dinginnya hembusan angin itu. Derasnya air mata ini. Semuanya pudar. Yang tersisa hanyalah kehangatan bibir Andra yang menyentuh bibirku. Ciuman itu sangat dalam. Aku bisa merasakan semua kesedihan itu.
Saat semua itu berlalu, Andra memelukku dengan sangat erat. Sampai aku bisa merasakan degup jantungnya. Sangat cepat, berirama dengan degup jantungku yang lebih cepat. Limaratus meter per jam.
Sesaat aku tidak ingin semua itu berlalu. Tidak ada lagi yang aku inginkan selain dirinya.
Mungkin setelah ini jarak kami akan lebih jauh dari lima ratus meter, tapi hatiku tidak akan bergeser satu sentimeter pun darinya.



SETENGAH KILOMETER
end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story