Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Kamis, 24 Maret 2016

[Read] #3 Setengah Kilometer - Jet

--
Andra selalu bergerak sangat cepat. Selalu berada di depanku. Aku tidak akan pernah mampu mengejarnya. Bahkan untuk berjalan disampingnya.
Andra selalu menatap jauh ke depan, jauh melebihi jangkauanku. Menatap sesuatu nun jauh disana. Sesuatu yang tidak bisa kusamai. Sesuatu yang mampu memberikan apa yang dia mau. Sesuatu yang sangat berharga.
Andra selalu berjalan lurus, mungkin tidak sedikitpun dia melihatku.
Dia.
Seperti jet.








JET
Lebih Cepat Dari Apapun










Aku mengenalnya setelah dia pindah ke daerahku, saat itu aku bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Namanya Andra Wibawa.
Dia pendiam, mungkin setengah dari harinya dia habiskan untuk duduk diam di perpustakaan sambil membaca banyak buku. Walau begitu dia sangat baik.
Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah atas. Aku berada di kelas yang sama dengan Andra. Setelah beberapa saat, kami menjadi semakin dekat.
Namaku Putri. Atika Putri.
Aku tinggal di sebuah desa yang berada di dekat sebuah pusat latihan tempur militer. Setiap saat suara pesawat besar selalu terdengar. Terdengar dekat sampai terasa aku mampu menjangkaunya. Entah apa yang mereka lakukan, mencari kedamaian, atau mencari alasan untuk sebuah kedamaian dengan menghancurkan yang lain.
Seperti mereka. Aku juga sedang mencari kedamaian, kedamaian yang mungkin bisa kudapatkan dengan bersama seseorang.
Saat ini sedang musim panas. Wilayah pertempuran itu semakin panas oelh sengatan matahari. Jalan-jalan menuju sekolah tampak berkilau menguapkan air ke udara. Sebuah pemandangan yang mempesona. Kilauan langit biru berhiaskan awan putih dan tiupan angin serta aroma rumput di pinggir jalan itu mengiringi langkahku menuju rumah. Aku selalu disambut oleh kucing kecilku yang bernama Shiro, setiap aku menginjakkan kaki di halaman rumah. Rumahku berjarak tidak lebih dari 1 kilometer dari sekolah.
Shiro berlari kecil menyambutku seakan-akan Shiro telah menahan kerinduan selama satu hari ini. Kini giliranku untuk menahan kerinduan untuk kembali bertemu dengannya besok. Rumahku dengan rumah Andra tidak terlalu jauh. Kami sering berjalan pulang bersama. Di saat seperti itu, waktu berjalan kian cepat, dan panas matahari itu kian menyejuk. Setidaknya aku ingin segera beristirahat agar malam cepat berlalu.
Aku berjalan bersama dengan angin sejuk yang berhembus indah pagi itu. Sebuah semangat yang entah datang dari mana. Sekolah sudah tampak dari kejauhan, aku tidak sabar untuk segera sampai disana.
Aku bersembunyi di balik sebuah gudang yang bersampingan dengan sebuah bangunan yang digunakan untuk berlatih menembak. Andra berada disana. Dia selalu berangkat pagi ke sekolah dan melakukan rutinitasnya. Berlatih.
Aku kadang bersembunyi untuk menunggunya mengakhiri aktifitasnya, saat dia selesai aku akan berjalan seolah aku baru berangkat dan kebetulan bertemu dengannya. Aku menyapanya, dia tersenyum padaku. Senyum yang selalu aku nantikan setiap pagi. Saat mukaku memerah karena senyumannya aku akan segera berlari kecil menuju kelasku. Aku sudah 3 tahun menjadi teman sekelasnya. Sejak saat itu. Saat pertama aku melihatnya, hatiku sudah menyentuh kehatinya dan tidak akan bergerak satu mikron pun. Sampai saat ini aku tidak pernah bisa mengungkapkannya. Perasaan ini.
Setelah semua selesai, aku akan kembali ke gudang itu. Mengintip dari balik bangunan itu dan menunggu Andra selesai berlatih. Aku akan kembali berjalan saat dia selesai, bertemu dengannya layaknya sebuah kebetulan. Aku kembali menyapanya. Dia tersenyum padaku, berjalan perlahan mendekat. Mukaku kembali memerah.
Kami berjalan bersama melewati jalan penuh kehangatan itu. Terik matahari tidak lagi terasa, hanya kesejukan. Sesaat aku melihatnya selalu berada di depanku, mungkin dia menyimpan sesuatu dalam setiap senyumannya. Terkadang dia tampak seperti menangis. Mungkin dia tidak akan pernah menatapku. Entah mengapa, aku selalu melihatnya. Sendirian dengan ponselnya, dia selalu mengirim pesan entah kepada siapa. Saat dia melakukan hal itu, aku salalu berharap ponselku berdering karena pesan darinya. Tapi, itu tidak pernah terjadi.
Setelah lulus Andra akan melanjutkan kuliah di ibu kota dan bekerja disana. Sebelum saat itu aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Tanpa keraguan sedikitpun.
Lamunanku terpecah oleh pasukan militer yang lewat di jalan itu, mereka sangat banyak. Mempersiapkan diri untuk apapun kondisinya. Bahkan kematian.
Andra tampak sangat kagum melihat pemandangan itu.
“Mereka bilang 500 meter”
Aku menatap Andra yang tampak kaget mendengar ucapanku.
“Pesawat yang mereka kerjakan mampu terbang 500 meter per detik.”
Betapa sebuah proyek luar biasa, dengan dana yang luar biasa hanya untuk lebih maju dari pada angin atau udara. Untuk lebih hebat dari yang lainnya. Mengalahkan yang lainnya. 
Rumahku sudah tampak menyambutku, Shiro kecil berlari ke arahku. Aku melambaikan tangan pada Andra yang mulai menjauh. Sangat jauh.
Waktu berlalu, sampai saat ujian akan berlangsung.
Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya apapun yang terjadi. Aku menatap wajahku di cermin, kuhapus semua rasa takut dalam raut mukaku dengan air itu. Aku kembali menatap wajahku, berpikir bahwa aku bisa melakukannya. Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Sepulang sekolah, seperti biasa. Aku pergi ke tempat Andra berlatih. Melihatnya dari balik bangunan tua itu. Andra tampak sudah selesai dan berjalan mendekat ke tempatku. Memanggil namaku. Aku tidak tau bagaimana dia mengetahuinya.
Aku keluar dengan muka memerah.
Kami berjalan di jalan itu, rumput ilalang nan hijau menghiasi sepanjang pinggiran jalan. Tiang listrik yang tampak berdekatan juga berdiri kokoh disana. Aku tetap tidak bisa mengatakan apapun. Andra masih tetap berjalan di depanku.
Tanpa sadar tanganku bergerak menahan bajunya. Andra menoleh ke arahku. Aku segera melepaskan tanganku dari bajunya. Aku melangkah mundur saat Andra menatapku penuh penasaran. Aku tetap tidak bisa mengatakan apapun. Yang bisa kulakukan hanya menggelengkan kepala dan berharap agar waktu tidak cepat berlalu.
Rumahku tidak jauh lagi. Shiro kecil pasti sudah menungguku di halaman itu. Sesaat langkahku terhenti. Entah mengapa. Air mata keluar dari kedua mataku. Isakan itu terdengar kian mengeras. Menghentikan langkah Andra. Dia menatapku, mendekatiku. Aku tidak sanggup menatapnya. Dalam isakan itu, hatiku mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah bisa mulutku ucapkan.
Andra, tolong.
Jangan terlalu baik kepadaku.
Angin sore itu berhembus kencang. Menerbangkan bunga ilalang ke atas langit. Dalam isakan itu. Terdengar suara keras dari atas sana. Angin berubah menjadi lebih cepat. Sebuah benda besar meluncur sangat cepat di atas kami. Lebih cepat daripada rasa kaget yang kurasakan. Sebuah benda yang mengawali perubahan teknologi. Menjadi lebih maju lagi. Menuju era baru. Era kedamaian. Dengan perjuangan mati-matian untuk meluncurkan benda sebesar itu di angkasa. Lebih cepat dari pada angin. Sebuah Jet.
Kekaguman kami terasa sangat panjang akibat benda itu.
Meskipun Andra baik, sangat baik namun, Andra selalu menatap jauh ke depan, jauh melebihi jangkauanku. Menatap sesuatu nun jauh disana. Sesuatu yang tidak bisa kusamai. Sesuatu yang mampu memberikan apa yang dia mau. Sesuatu yang sangat berharga.
Tapi aku sadar akan suatu hal. Setelah ini, besok, lusa atau sampai kapanpun aku tidak akan pernah berdaya dengan rasa cintaku padanya.


JET
end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story