--
Andra selalu bergerak
sangat cepat. Selalu berada di depanku. Aku tidak akan pernah mampu
mengejarnya. Bahkan untuk berjalan disampingnya.
Andra selalu menatap
jauh ke depan, jauh melebihi jangkauanku. Menatap sesuatu nun jauh disana.
Sesuatu yang tidak bisa kusamai. Sesuatu yang mampu memberikan apa yang dia
mau. Sesuatu yang sangat berharga.
Andra selalu berjalan
lurus, mungkin tidak sedikitpun dia melihatku.
Dia.
Seperti jet.
JET
Lebih Cepat Dari Apapun
Aku mengenalnya setelah dia pindah ke daerahku, saat itu aku
bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Namanya Andra Wibawa.
Dia pendiam, mungkin setengah dari harinya dia habiskan
untuk duduk diam di perpustakaan sambil membaca banyak buku. Walau begitu dia
sangat baik.
Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah atas.
Aku berada di kelas yang sama dengan Andra. Setelah beberapa saat, kami menjadi
semakin dekat.
Namaku Putri. Atika Putri.
Aku tinggal di sebuah desa yang berada di dekat sebuah pusat
latihan tempur militer. Setiap saat suara pesawat besar selalu terdengar.
Terdengar dekat sampai terasa aku mampu menjangkaunya. Entah apa yang mereka
lakukan, mencari kedamaian, atau mencari alasan untuk sebuah kedamaian dengan
menghancurkan yang lain.
Seperti mereka. Aku juga sedang mencari kedamaian, kedamaian
yang mungkin bisa kudapatkan dengan bersama seseorang.
Saat ini sedang musim panas. Wilayah pertempuran itu semakin
panas oelh sengatan matahari. Jalan-jalan menuju sekolah tampak berkilau
menguapkan air ke udara. Sebuah pemandangan yang mempesona. Kilauan langit biru
berhiaskan awan putih dan tiupan angin serta aroma rumput di pinggir jalan itu
mengiringi langkahku menuju rumah. Aku selalu disambut oleh kucing kecilku yang
bernama Shiro, setiap aku menginjakkan kaki di halaman rumah. Rumahku berjarak
tidak lebih dari 1 kilometer dari sekolah.
Shiro berlari kecil menyambutku seakan-akan Shiro telah
menahan kerinduan selama satu hari ini. Kini giliranku untuk menahan kerinduan
untuk kembali bertemu dengannya besok. Rumahku dengan rumah Andra tidak terlalu
jauh. Kami sering berjalan pulang bersama. Di saat seperti itu, waktu berjalan
kian cepat, dan panas matahari itu kian menyejuk. Setidaknya aku ingin segera
beristirahat agar malam cepat berlalu.
Aku berjalan bersama dengan angin sejuk yang berhembus indah
pagi itu. Sebuah semangat yang entah datang dari mana. Sekolah sudah tampak
dari kejauhan, aku tidak sabar untuk segera sampai disana.
Aku bersembunyi di balik sebuah gudang yang bersampingan
dengan sebuah bangunan yang digunakan untuk berlatih menembak. Andra berada
disana. Dia selalu berangkat pagi ke sekolah dan melakukan rutinitasnya.
Berlatih.
Aku kadang bersembunyi untuk menunggunya mengakhiri
aktifitasnya, saat dia selesai aku akan berjalan seolah aku baru berangkat dan
kebetulan bertemu dengannya. Aku menyapanya, dia tersenyum padaku. Senyum yang
selalu aku nantikan setiap pagi. Saat mukaku memerah karena senyumannya aku
akan segera berlari kecil menuju kelasku. Aku sudah 3 tahun menjadi teman sekelasnya.
Sejak saat itu. Saat pertama aku melihatnya, hatiku sudah menyentuh kehatinya
dan tidak akan bergerak satu mikron pun. Sampai saat ini aku tidak pernah bisa
mengungkapkannya. Perasaan ini.
Setelah semua selesai, aku akan kembali ke gudang itu.
Mengintip dari balik bangunan itu dan menunggu Andra selesai berlatih. Aku akan
kembali berjalan saat dia selesai, bertemu dengannya layaknya sebuah kebetulan.
Aku kembali menyapanya. Dia tersenyum padaku, berjalan perlahan mendekat.
Mukaku kembali memerah.
Kami berjalan bersama melewati jalan penuh kehangatan itu.
Terik matahari tidak lagi terasa, hanya kesejukan. Sesaat aku melihatnya selalu
berada di depanku, mungkin dia menyimpan sesuatu dalam setiap senyumannya.
Terkadang dia tampak seperti menangis. Mungkin dia tidak akan pernah menatapku.
Entah mengapa, aku selalu melihatnya. Sendirian dengan ponselnya, dia selalu
mengirim pesan entah kepada siapa. Saat dia melakukan hal itu, aku salalu
berharap ponselku berdering karena pesan darinya. Tapi, itu tidak pernah
terjadi.
Setelah lulus Andra akan melanjutkan kuliah di ibu kota dan
bekerja disana. Sebelum saat itu aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.
Tanpa keraguan sedikitpun.
Lamunanku terpecah oleh pasukan militer yang lewat di jalan
itu, mereka sangat banyak. Mempersiapkan diri untuk apapun kondisinya. Bahkan
kematian.
Andra tampak sangat kagum melihat pemandangan itu.
“Mereka bilang 500 meter”
Aku menatap Andra yang tampak kaget mendengar ucapanku.
“Pesawat yang mereka kerjakan mampu terbang 500 meter per
detik.”
Betapa sebuah proyek luar biasa, dengan dana yang luar biasa
hanya untuk lebih maju dari pada angin atau udara. Untuk lebih hebat dari yang
lainnya. Mengalahkan yang lainnya.
Rumahku sudah tampak menyambutku, Shiro kecil berlari ke
arahku. Aku melambaikan tangan pada Andra yang mulai menjauh. Sangat jauh.
Waktu berlalu, sampai saat ujian akan berlangsung.
Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya apapun yang
terjadi. Aku menatap wajahku di cermin, kuhapus semua rasa takut dalam raut
mukaku dengan air itu. Aku kembali menatap wajahku, berpikir bahwa aku bisa
melakukannya. Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Sepulang sekolah, seperti biasa. Aku pergi ke tempat Andra
berlatih. Melihatnya dari balik bangunan tua itu. Andra tampak sudah selesai
dan berjalan mendekat ke tempatku. Memanggil namaku. Aku tidak tau bagaimana
dia mengetahuinya.
Aku keluar dengan muka memerah.
Kami berjalan di jalan itu, rumput ilalang nan hijau
menghiasi sepanjang pinggiran jalan. Tiang listrik yang tampak berdekatan juga
berdiri kokoh disana. Aku tetap tidak bisa mengatakan apapun. Andra masih tetap
berjalan di depanku.
Tanpa sadar tanganku bergerak menahan bajunya. Andra menoleh
ke arahku. Aku segera melepaskan tanganku dari bajunya. Aku melangkah mundur
saat Andra menatapku penuh penasaran. Aku tetap tidak bisa mengatakan apapun.
Yang bisa kulakukan hanya menggelengkan kepala dan berharap agar waktu tidak
cepat berlalu.
Rumahku tidak jauh lagi. Shiro kecil pasti sudah menungguku
di halaman itu. Sesaat langkahku terhenti. Entah mengapa. Air mata keluar dari
kedua mataku. Isakan itu terdengar kian mengeras. Menghentikan langkah Andra.
Dia menatapku, mendekatiku. Aku tidak sanggup menatapnya. Dalam isakan itu,
hatiku mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah bisa mulutku ucapkan.
Andra, tolong.
Jangan terlalu baik kepadaku.
Angin sore itu berhembus kencang. Menerbangkan bunga ilalang
ke atas langit. Dalam isakan itu. Terdengar suara keras dari atas sana. Angin
berubah menjadi lebih cepat. Sebuah benda besar meluncur sangat cepat di atas
kami. Lebih cepat daripada rasa kaget yang kurasakan. Sebuah benda yang
mengawali perubahan teknologi. Menjadi lebih maju lagi. Menuju era baru. Era
kedamaian. Dengan perjuangan mati-matian untuk meluncurkan benda sebesar itu di
angkasa. Lebih cepat dari pada angin. Sebuah Jet.
Kekaguman kami terasa sangat panjang akibat benda itu.
Meskipun Andra baik, sangat baik namun, Andra selalu menatap
jauh ke depan, jauh melebihi jangkauanku. Menatap sesuatu nun jauh disana.
Sesuatu yang tidak bisa kusamai. Sesuatu yang mampu memberikan apa yang dia
mau. Sesuatu yang sangat berharga.
Tapi aku sadar akan suatu hal. Setelah ini, besok, lusa atau
sampai kapanpun aku tidak akan pernah berdaya dengan rasa cintaku padanya.
JET
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar