--
Saat aku tersadar, matahari pagi sudah menusuk
tulang-tulangku.
“Kenapa kalian tidak masuk ?”
Suara lelaki yang terdengar seperti sudah berumur sekitar
enam puluh tahun masuk ke telingaku dan membuat kesadaranku mulai berkumpul.
Aku melihat seorang lelaki yang berumur tidak jauh dari
perkiraanku berdiri membungkuk di hadapanku. Dia memakai kemeja putih panjang
dengan celana panjang hitam.
“Angga bangunlah.” Aku menggerakkan tangan kananku menepuk
pundak Angga yang mulai bergerak.
“Waaa.” Angga berteriak sambil memundurkan dirinya.
“Anda siapa ?” Aku bertanya kepada lelaki itu.
“Namaku Hendra. Apa kalian baru sampai di sini ?”
“I-iya. Kami baru sampai kemarin, pak.” Aku menjawab dengan
penuh keraguan.
Berarti orang ini sudah ada di sini sejak semalam. Tapi
kenapa kami tidak melihat siapapun saat itu ?
“Oh iya. Apa maksud bapak dengan ‘tidak masuk’ ?” Aku
teringat pertanyaannya tadi.
“Masuk ke dalam menara. Lewat pintu yang ada di sana.”
Sambil menunjuk sisi lain menara yang merupakan tempat lubang misterius itu
berada.
“Tadi malam kami mencoba memasukinya tapi kami tidak bisa
masuk.”
“Tidak bisa masuk ?”
“Ya. Seperti ada gelombang yang menahan kami untuk masuk.”
Angga yang ada di samping ku masih diam menatap Pak Hendra
sambil mendengarkan perbincangan kami.
“Jangan-jangan kalian –
Pak Hendra tidak melanjutkannya dan hanya terbelalak kaget
melihat ku dan Angga yang masih duduk penasaran.
“Apa kalian sudah mati ?”
Sebuah pertanyaan aneh yang muncul dari lelaki paruh baya
tersebut.
“Apa maksud bapak ?” Aku memiringkan kepalaku sedikit karena
penasaran.
“Kalau begitu bagaimana kalian bisa masuk ke tempat ini ?”
“Kami menggunakan kapal cepat untuk menembus kabut pulau
ini.”
Pak Hendra sekali lagi membuka mulutnya sedikit seperti
kaget dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Kalian berhasil menembus kabut Pulau Tengah ?”
“Ya. Kami berhasil melakukannya kemarin.”
“Apa tujuan kalian ?”
“Kami ingin bertemu dengan sahabat kami yang kemungkinan ada
di pulau ini.”
“Apa sahabat kalian sudah meninggal ?” Pak Hendra bertanya
dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia mengetahui sesuatu.
“Ya. Satu bulan yang lalu.” Aku menundukkan kepalaku.
“Bagaimana kalian bisa tau kalau dia ada di tempat ini ?”
“Aku adalah peneliti dari Pulau Selatan. Aku bertugas untuk meneliti
Pulau Tengah dan memperkirakan bahwa sahabat kami ada di tempat ini.” Angga
yang dari tadi diam mulai bicara.
Pak Hendra menghela nafas dan mulai duduk bersila di depan
kami.
“Seperti dugaan kalian, kemungkinan sahabat kalian masih di
tempat ini.”
Saat mendengar hal itu, jantung ku berdebar kencang. Seperti
anak kecil yang tidak sabar mendengar lanjutan cerita yang dibacakan ibunya
saat dia akan tidur.
“Aku dan sekian banyak orang yang ada di Pulau Tengah adalah
jiwa yang sedang menunggu untuk hilang dari dunia ini.” Mataku mulai terbelalak
mendengar kata-kata Pak Hendra.
“Bisa dibilang kami singgah untuk sementara waktu sebelum
kami benar-benar hilang. Hal ini terjadi kepada mereka yang sudah merasakan
kematian.”
Aku tidak bisa berkata apapun, karena pikiran dan akal
sehat ku memberi sinyal logika bahwa seseorang yang ku hadapi saat ini adalah
sebuah roh.
“Selama empat puluh hari kami akan hidup dan merasakan
kedamaian di pulau ini. Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah kami
menghilang. Karena hal inilah, Pulau Tengah tidak bisa dimasuki oleh manusia
yang masih hidup dan kami yang sudah mati pun tidak akan bisa keluar dari pulau
ini.”
“Kabut di Pulau Tengah terbagi menjadi dua lapisan, yaitu
lapisan luar dan lapisan dalam. Lapisan luar akan memantulkan segala sesuatu
yang mencoba masuk ke pulau ini dan lapisan dalam akan memantulkan segala
sesuatu yang akan keluar dari pulau ini. Dengan alasan itulah seseorang tidak
bisa masuk ke Pulau Tengah dan yang sudah masuk tidak akan pernah bisa keluar.”
Pak Hendra menarik nafas dan menghembuskannya sebelum
melanjutkan.
“Setelah beberapa hari tinggal di tempat ini, kami merasa
sudah terbebas dari dunia nyata yang penuh dengan kesulitan itu, meskipun saat
masih hidup aku tidak merasakannya atau lebih tepatnya aku tidak mau
merasakannya.”
“Sewaktu masih hidup aku adalah pegawai swasta dari Pulau
Barat. Aku memiliki impian yang besar untuk membangun keluarga yang sejahtera.
Aku juga memiliki keinginan untuk membangun industri milikku sendiri. Aku
berjuang mati-matian untuk mewujudkan mimpiku tersebut. Sampai pada akhirnya aku
berhasil menciptakan keluarga yang sejahtera, anakku bisa mendapat pendidikan
yang layak di Pulau Selatan, istriku mendapatkan apa yang dia mau dengan kerja
keras ku. Industri pakaian yang akhirnya bisa kubangun sendiri mulai berkembang
menjadi industri besar.”
“Sampai pada saat aku berumur 50 tahun, tubuhku mulai lemah
dan aku sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Akhirnya aku mewariskan
industri ku kepada anakku yang paling tua. Aku tidak terlalu mengenal sifat
ketiga anakku karena saat mereka masih kecil aku sibuk dengan segala urusanku
saat itu. Aku bahkan tidak tau kalau istriku memiliki penyakit berat yang pada
akhirnya membuatnya meninggal lebih dulu daripada diriku.”
Pak Hendra bercerita sambil menundukkan pandangannya. Itu
seperti sebuah perasaan yang dia simpan selama ini untuk diceritakan kepada
seseorang.
“Setelah seseorang meninggal dan masuk ke tempat ini, segala
emosi negatif orang tersebut akan dihapus. Itulah yang membuat kami bisa
berfikir jernih. Karena hal itulah saat aku sampai di tempat ini, aku kembali
berfikir tentang kehidupan yang sudah kujalani dengan susah payah mengorbankan
segalanya demi keluarga yang tanpa sadar bahkan sudah ku abaikan.”
Air matanya terlihat menetes satu demi satu ke rerumputan.
“Apa yang kuusahakan dengan alasan demi kebahagiaan
keluargaku ternyata itu semua salah. Semuanya hanyalah untuk kebahagiaanku
sendiri. Karena aku akan puas saat mencapai tujuanku.”
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya bisa duduk
terdiam mengikuti alur cerita yang disampaikan Pak Hendra.
“Karena itulah semua orang yang masuk ke tempat ini tidak
akan memiliki satu keinginanpun untuk keluar. Kami merasa bahwa inilah yang
benar. Saat kami merasakan kebahagiaan karena kami berkumpul sebagai satu
keluarga tanpa berfikir apa yang akan terjadi hari esok.”
“Bukankah kalian juga percaya akan adanya Tuhan.”
Kata-kata itu memecah pikiranku yang terdiam dari tadi. Aku
tetap tidak bisa menanggapi hal itu. Pikiranku melayang jauh menerawang ke
angkasa, menari tanpa batas sampai logikaku tidak bisa menjangkau pertanyaan
itu.
--
Pak Hendra bercerita tentang banyak hal sambil memandu kami
menemui beberapa orang yang memakai pakaian yang sama seperti yang Pak Hendra
kenakan. Ada yang terlihat seumuran denganku ada juga yang sudah lebih tua dari
Pak Hendra. Semua orang di tempat ini sangat ramah, mereka tersenyum kepada kami
setiap kami berjalan melewati mereka. Seakan mereka tidak mau tau kami berasal
dari mana ataupun apakah kami masih hidup atau sudah mati.
“Kami mencari seorang gadis yang bernama Viola.” Aku yang
dari tadi berjalan di belakang Pak Hendra mulai mempercepat langkah untuk
berjalan di sampingnya.
“Viola ya..”
Pak Hendra menyentuh dagunya dengan tangan kanan sambil
sedikit memejamkan matanya.
“Sepertinya aku pernah mengenal nama itu. Sebaiknya aku
mencarinya di dalam menara karena kalian tidak bisa masuk.”
Ya. Kami tidak bisa masuk ke dalam menara. Tapatnya kami
tidak diijinkan masuk. Orang-orang di tempat ini akan hilang pada malam hari
karena masuk ke dalam menara, karena itulah malam itu kami tidak menemukan
siapapu.
--
Pak Hendra keluar dari gelapnya bagian dalam pintu menara
itu. Aku melihatnya sebagai sosok lelaki tua yang mulai berjalan membungkuk.
Mungkin semua orang di tempat ini meninggal pada usia yang sama seperti keadaan
mereka saat ini.
Tiba-tiba. Dari balik sosok Pak Hendra yang lebih tinggi
dari pada diriku, muncul sosok seorang gadis dengan rambut hitam yang memanjang
menutupi punggungnya. Mengenakan pakaian panjang berwarna putih. Matanya yang
sesaat terpejam mulai menatap ke arah kami dengan ekspresi sedih bercampur
dengan kegembiraan karena sesaat kemudian air mata kecil mulai keluar dari matanya.
Dia Viola.
Seorang gadis yang sangat kurindukan. Dia berjalan ke arah
kami dengan langkah yang cepat, hampir seperti berlari. Sesaat sebelum sampai
di tempat kami dia melompat kecil ke arah kami sampai dia berhasil memeluk kami
berdua dengan erat.
Aku bisa merasakan degup jantung Viola saat itu. Suara isakan
tangisnya terdengar di telingaku. Suara itu semakin keras dan tidak bisa lagi
disebut sebagai isakan.
Viola melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan kami.
“Kalian berhasil sampai di sini.” Viola tersenyum dengan air
mata yang masih menetes.
“Ya. Kami sudah menepati janji kami, Viola.”
Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang pas saat itu. Aku
bahkan tidak berpikir untuk mengatakan bahwa aku menyukainya.
“Aku ingin menceritakan banyak hal kepada kalian.”
Saat itu Viola masih tersenyum.
--
Kami duduk di hamparan rumput yang hijau nan lembut. Hembusan
angin yang menerbangkan aroma rumput musim panas juga beberapa orang berpakaian
putih yang juga duduk di sekitar kami.
Viola duduk di antara aku dan Angga. Di belakang kami,
sebuah menara besar menjulang tinggi ke angkasa. Aku tidak bisa melihat
ujungnya karena tertutup awan putih di langit. Sebuah menara tua yang menjadi
peninggalan sejarah terbesar di negara ini.
“Namanya Zouter.” Viola duduk sambil menatap jauh ke langit
biru.
“Aku pernah mendengar nama itu dari kakekku.” Aku
memandanginya. Seorang gadis yang terakhir kali aku melihatnya di bukit itu
masih seperti anak kecil. Sekarang telah tumbuh menjadi sosok wanita dewasa
dengan gaun putihnya yang indah.
“Aku pernah memasukkan nama itu ke dalam penelitianku. Itu
adalah menara yang mengirimkan gelombang aneh pada radar di laboratorium.” Angga
mencoba menjelaskan sesuatu.
“Saat malam tiba gelombang kuat terpancar di radar
mengindikasikan bahwa ada energi besar di Pulau Tengah, namu pada pagi hari
gelombang itu akan hilang. Sejauh yang kupikirkan saat ini, gelombang itu
berasal dari menara itu.” Lanjut Angga.
“Bagian dalam menara itu tidak tampak seperti bagian
luarnya. Di dalam sana terdapat sebuah ruangan luas dengan tempat tidur
berwarna putih yang berderet dibatasi dengan selambu sutra. Kami memiliki
tempat berkumpul berupa meja makan besar berbentuk bulat dan kami akan duduk
melingkar seperti sebuah keluarga. Semua yang kami inginkan ada di tempat ini. Tapi,
karena keinginan kami sepertinya sudah di ubah oleh sesuatu, kami tidak lagi
memiliki keinginan seperti saat kami masih hidup.
Keinginan seperti harta dan
kekuasaan sudah sepenuhnya hilang dari diri kami. Satu hal yang kami inginkan
adalah beristirahat dengan tenang, jauh dari semua kerumitan yang ada di dunia
ini. Kerumitan yang berarti mengejar angan-angan kosong.”
Aku menoleh ke arah Viola yang merundukkan pandangannya
sambil tersenyum.
“Apa yang akan terjadi jika seseorang yang telah tiada bisa
keluar dari tempat ini ?” Pertanyaan dari Angga membuka pikiranku yang dari tadi telah
dibekukan oleh wajah Viola.
“Aku tidak tau. Tapi selama ini, tidak ada orang yang
memiliki keinginan untuk keluar dari tempat ini. Kami hanya menunggu selama
empat puluh hari sebelum jiwa kami akan dipindahkan ke suatu tempat yang jauh.”
“Kenapa, Viola ?” Aku menatapnya yang tampak kaget dengan
pertanyaanku yang cepat kulontarkan.
“Karena aku memiliki kehidupan yang bahagia di tempat ini ?”
Viola masih menampilkan senyuman manis di wajahnya.
“Kenapa ? Bukankah kehidupanmu sangat bahagia ?”
“Sudah kuduga kamu akan menganggap seperti itu. Padahal
tidak semua manusia benar-benar seperti apa yang dia tampilkan.”
Aku tau apa yang dia maksud, tapi aku tidak tau apa dia
membicarakan dirinya sendiri.
“Apa yang sebenarnya terjadi ?” Aku ingin tau lebih jelas.
“Aku hidup bersama ibuku setelah dia bercerai dengan ayahku.
Saat itu aku masih kelas 4 SD dan aku tidak mengerti apa-apa. Beberapa bulan
setelah perceraian, ibuku baik-baik saja. Ada nenekku yang membantu kami di
rumah yang baru. Tapi setelah nenekku kembali ke rumahnya, ibuku mulai berubah.
Dia mulai sering marah-marah kepadaku karena hal yang sepele. Setelah beberapa
lama dia mulai memukul dan menendangku saat aku tidak mengerjakan PR atau saat
aku tidak menghabiskan makananku.”
Viola tertunduk lesu mengingat semua hal itu.
“Lalu pada suatu hari aku merasakan sakit yang hebat di
kepalaku. Hal itu terjadi ketika aku kelas 5 SD. Aku mulai menjadi anak yang
pendiam, tidak ada yang mau bergaul denganku. Sakit di kepalaku semakin menjadi
saat malam hari sebelum tidur. Aku tetap menutup mulutku karena takut kalau
ibuku mengetahuinya.”
“Saat aku kelas 6 SD aku harus menghadapi ujian kelulusan. Pada
malam sebelum ujian aku belajar sampai larut malam, tiba-tiba kepalaku terasa
sangat sakit, tidak seperti sebelumnya. Ini adalah perasaan yang belum pernah
aku rasakan. Saat itu aku menangis. Ibuku terbangun dari tidurnya dan masuk ke
kamarku. Dia melihatku yang terbaring di lantai. Aku tidak tau seperti apa dia
saat menatapku waktu itu. Dia hanya terdiam sejenak kemudian pergi. Saat dia
kembali aku mendengar suara langkahnya yang cepat menuju kamarku. Aku merasa
lega karena dia mengkhawatirkanku. Aku masih memegang kepalaku erat-erat saat sebuah
cairan dingin mengenai kulitku dan masuk melalui pori-pori bajuku, sebuah
aliran air yang deras tersiram ke sekujur tubuhku. Aku hanya bisa menutup
mataku serta meringkuk kedinginan. Saat aku memalingkan wajahku ke arah ibuku
yang berdiri menggenggam sebuah ember, aku melihat tatapannya yang kosong
seakan tidak peduli aku hidup atau mati.”
“Aku tidak bisa mengikuti ujian kelulusan pada hari
berikutnya. Aku hanya terbaring di kasurku yang kuraih dengan susah payah
sendirian. Aku tidak bisa bergerak selama beberapa hari. Ibuku hanya menaruh
sepiring nasi putih di meja belajarku. Aku masih bisa meraihnya dengan sedikit
usaha. Selama satu minggu aku tidak masuk sekolah. Sampai suatu hari, wali
kelasku datang mengunjungiku. Dia duduk di bangku di dekat tempat tidurku. Tadinya
aku hanya diam saat dia menanyakan banyak hal, sampai dia bertanya ‘apa
impianmu saat besar nanti’ sambil tersenyum tanpa menghiraukan sikapku saat
itu. Tiba-tiba air mataku mulai menetes jatuh dan satu kata yang keluar dari
mulutku adalah ‘nenek’.”
“Ya. Aku sangat merindukan nenekku. Aku ingin bertemu
dengannya. Aku ingin tinggal bersamanya. Jauh dari ibuku. Dan aku menceritakan
semuanya kepada wali kelasku dan menyuruhnya untuk tidak mengatakan apapun
kepada ibuku. Wali kelasku kemudian berusaha mencari tempat tinggal nenekku. Sampai
dia menemukannya dan memberitahu kondisiku saat itu.”
“Nenekku dengan tergopoh-gopoh berlari ke arah ku. Aku
memeluknya dengan erat. Dia mengatakan ‘sekarang semuanya akan baik-baik saja’
dan aku mendengar ibuku seperti mengatakan ‘bagaimana ibu bisa ada di sini’.
Saat itu aku melihat wali kelas ku yang berdiri di samping mobilnya sambil
tersenyum melihat ku yang tidak bisa menghentikan air mata. Setelah itu aku tinggal
bersama nenekku dan pindah ke sekolah di daerah kalian. Aku mengulang di kelas
6 SD dan masih tetap pendiam seperti sebelumnya. Sampai saat nenekku mengatakan
‘selama kamu tersenyum orang lain akan tersenyum bersamamu’. Tadinya aku tidak
menghiraukannya, tapi setelah beberapa minggu sekolah aku mulai tersenyum
kepada setiap orang yang ku temui dan mereka pun membalas senyuman ku dengan
senyuman. Mulai saat itu aku mulai mengubah diriku menjadi lebih ceria sampai
aku bertemu dengan kalian di SMP itu. Banyak hal yang telah membaik, namun satu
hal yang tidak pernah membaik adalah penyakit di kepalaku ini. Nenekku
berkali-kali mencarikan obat yang bisa menyembuhkan penyakit ku namun tidak ada
dokter yang bisa menjelaskan penyakit apa yang kuderita.”
“Aku masih merasakan sakit yang luar biasa setiap malam. Nenekku
yang sangat lembut merawatku dengan baik.”
Aku tidak tau apa yang harus kukatakan setelah mendengar
cerita panjangnya. Satu kata yang terlintas dalam pikiranku –
“Maaf, Viola. Aku benar-benar tidak tau keadaanmu saat itu.”
“Ya. Itu tidak masalah.” Viola tertunduk dengan senyum tipis
menghiasi wajahnya.
Sejenak semuanya terdiam.Hanya terdengra hembusan angin yang
menerpa rerumputan dan tawa orang-orang yang sedang bercengkerama jauh di
belakang kami.
“Apa kau tidak ingin kembali ke dunia itu, Viola ?” Sejenak
suara Angga memecah keheningan saat itu.
Viola dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Angga.
“Apa kau tidak ingin melanjutkan hidupmu di dunia itu ?” Angga
melanjutkan pertanyaannya.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu.” Viola tampak tidak senang
dengan pertanyaan Angga.
“Sejak saat itu. Saat aku melihatmu memainkan piano di ruang
musik tepat di bawah sinar matahari sore musim panas. Aku bisa melihat banyak
hal, tepatnya aku bisa merasakan banyak hal mulai hidup di sekelilingku. Kemudian
hari-hari berikutnya, aku mulai mengamatimu. Dirimu yang selalu tersenyum ceria
itu bagaikan sebuah misteri yang tidak bisa kupecahkan. Ada sesuatu yang
membuatku tertarik padamu. Seperti aku melihat ada sesuatu yang kamu
sembunyikan. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya karena kamu menutupi
semuanya dengan senyumanmu. Senyuman yang membuat semua orang berfikir kalau
kamu adalah orang yang paling bahagia di muka bumi.”
“Setelah aku menyadari hal itu, aku mulai merubah pola
pikirku. Aku mulai berteman dengan banyak orang karena sebelumnya temanku
satu-satunya adalah Andi. Aku mulai merasa bahwa dengan begitu, aku bisa
sedikit menyamaimu. Karena saat itu aku telah dibuat kagum oleh peran yang kau
mainkan.”
Angga tampak merunduk seperti menutupu rasa malunya yang
pasti sangat luar biasa.
“Aku sangat bersyukur jika senyumanku membawa kebaikan bagi
orang lain, karena itulah yang diajarkan nenekku. Tapi, manusia tidak mungkin
bisa bertahan lama dengan peran yang dimainkannya. Ada batas dimana manusia akan
mulai lelah dan mulai menyerah. Pada saat itu manusia mulai jujur kepada
dirinya sendiri dan mengatakan ‘seharusnya ini bukan diriku’.”
“Aku pun merasakan hal yang sama. Setelah semua rasa sakit
yang kurasakan, aku mulai menyerah dengan semua senyuman itu.”
Viola kembali tertunduk.
“Bukankah saat itu kamu memiliki suatu keinginan ?” Tanpa sadar aku mengatakan halyang dari tadi
berputar-putar di kepalaku.
“Bukankah kamu belum menjawab dengan benar pertanyaan yang
diajukan oleh wali kelasmu.” Aku melanjutkan pertanyaanku dan melihat Viola
yang tampak kaget mendengar pertanyaanku.
“Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini, aku tidak
lagi menginginkan apapun.” Viola
menatapku dengan senyumannya.
“Bukankah kau ingin menjadi sesu – ..
“Sudah kubilang kan. Aku sudah melupakan semuanya.”
Saat aku belum selesai bicara, Viola menatapku dengan senyum
kecil yang tampak menahan sesuatu. Senyumannya tiba-tiba berubah, dia menggigit
bibir kecilnya. Air matanya mulai keluar perlahan. Dia mulai menangis.
“Se-sebenarnya.. Aku tidak ingin menjadi seperti ini. Aku
selalu bertanya kenapa ? Kenapa aku dilahirkan dengan nasib seperti ini ? Saat
itu. Saat aku melihat kalian. Sepasang sahabat yang dengan cerianya menjalani
kehidupan. Dan saat kalian mengatakan kepadaku tentang mimpi kalian. Aku sangat
bahagia. Aku benar-benar bahagia. Aku selalu ingin menjadi seperti kalian,
bermimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya. Tapi, aku tau kalau waktuku
tidak banyak dan aku mengurungkan niatku tersebut. Saat itu aku berharap kalian
benar-benar mewujudkan impian kalian dan menceritakannya kepadaku. Karena aku
sudah bahagia dengan mendengar semua hal itu.” Viola masih melanjutkan
kata-katanya dengan terisak-isak.
“Aku.. Meskipun saat ini mengatakan bahwa kau telah menjadi
diriku sendiri, pada kenyataannya aku masih memainkan peran yang lain. Aku
masih berbohong kepada diriku sendiri.” Viola menghentikan ucapannya. Kedua
tangannya mengusap kedua matanya, seperti berusaha menghentikan air mata yang
mengalir begitu deras.
“Viola.” Suara Angga sedikit merubah tangisan Viola.
“Saat kamu mengatakan semua hal itu. Kamu sudah jujur kepada
dirimu sendiri.”
Viola yang mendengar kata-kata Angga langsung menoleh ke
arah Angga dengan air mata yang mulai berhenti dan diganti dengan ekspresi
wajah yang tidak bisa kugambarkan. Dia seperti melihat sesuatu yang
menyadarkannya dari mimpi panjang.
“Sekarang kamu hanya perlu mengatakannya lebih banyak lagi.
Semua yang tidak pernah kamu ungkapkan selama kamu hidup.”
Viola sedikit mengerutkan matanya, bibirnya sedikit
melengkung ke atas. Dia seperti menekan giginya sekuat mungkin. Tangisan yang
sangat keras keluar dari mulut Viola. air matanya kembali mengalir lebih deras
dari sebelumnya. Dengan keadaan seperti itu, dia mengatakan sesuatu dengan
sangat keras.
“Aku hanya.. Aku hanya ingin menjadi seperti wali kelasku
saat itu. Saat dia tersenyum puas di dekat mobilnya, melihatku yang menangis
bahagia di pelukan nenek. Aku ingin merasakan apa yang dia rasakan saat itu. Saat
dia berhasil menyelamatkan orang lain. Membuat orang lain terbebas dari
penderitaannya. Aku ingin melakukan semua itu. Aku tau di luar sana banyak
orang yang menderita, karena itulah aku ingin menyelamatkan mereka. Aku ingin
merasa puas saat melihat mereka tersenyum karena apa yang kulakukan.”
Ada sesuatu yang menggerakanku untuk berdiri. Aku berjalan
dan berhenti di depan Viola yang masih mencoba menghentikan tangisannya.
“Kalau begitu, kami akan mengantarkanmu menuju mimpi itu. Selama
kamu masih punya harapan berarti kamu belum pantas untuk mati. Sekarang ayo
kita keluar dari pulau ini.”
Aku menjulurkan tanganku ke arah Viola.
Viola menatapku dengan matanya yang berwarna biru dan tampak
lebih bersinar karena aliran air matanya. Tangannya mulai menjulur meraih
tanganku. Aku menariknya sedikit untuk membantunya berdiri.
“Aku akan membawa Ellie Marciela ke bagian utara pulau ini.
Kalian tunggulah di sana.” Angga mulai berdiri dan menatap aku dan Viola.
“Kenapa di utara ?” Viola mengusap kedua matanya dan menatap
Angga.
“Pulau di bagian selatan sudah tidak aman untuk di huni,
kemungkinan sekarang Pulau Selatan sedang diserang oleh Orang Luar.” Aku
melihat Angga yang menunduk. Aku tau apa yang dia rasakan karena aku juga
merasakan hal yang sama.
Bagaimana mungkin aku akan tinggal diam saja melihat kampung
halamanku dihancurkan. Tapi, apa yang harus kulakukan saat ini adalah membuat
Viola aman kemudian aku akan menyelesaikan urusanku dengan Orang Luar itu.
“Baiklah, aku akan pergi mengambil Ellie.” Angga membalikkan
tubuhnya mengarah keselatan.
“Kami tunggu di bagian utara.” Aku menggenggam erat tangan
Viola seperti berjanji bahwa aku akan melindunginya apapun yang terjadi.
Saat Angga mulai melangkahkan kakinya untuk mengambil Ellie
Marciela, aku menarik perlahan tangan Viola dan pergi ke bagian utara.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar