--
Aku berboncengan dengan Angga menuju bagian timur pulau ini.
Di sepanjang perjalanan kami bertemu dengan segerombolan pasukan dengan mobil
menuju bagian barat.
Itu artinya Pasukan Kemerdekaan sedang menggempur bagian
barat pulau ini.
Kami sampai di bagian timur. Tidak ada siapapun di sana. Dua
penjaga yang bertemu denganku saat masuk tadi, sudah terkapar berlumuran darah.
“Krssskk.. Andi, apa kau dengar ?” Suara terdengar dari
radio komunikasi kecil yang ada di kantongku.
“Paman Tomi. Kami sudah ada di sisi timur.” Aku menjawabnya
dengan menekan tombol yang berada tepat di jempol tanganku saat aku menggenggam
radio itu.
“Aku sudah berada seratus kilometer dari Pulau Barat.
Tinggal kalian dan dua orang lagi yang belum sampai ke sini.”
Aku melihat kapal cepatku berada di daratan sedikit ke utara
dari tempatku berada. Aku berlari ke kapal itu bersama Angga.
Kami mendorongnya sampai menyentuh air laut di pantai berpasir
putih itu.
“Kau berhasil, Andi.” Angga menatapku dengan senyumannya
yang tidak pernah berubah.
“Tidak. Kita berhasil.”
Kami berdua melihat bentangan laut biru yang luas sejauh
mata memandang. Matahari musim panas yang mulai meninggi memantulkan cahayanya
menjadi gemerlap berkilau di lautan.
“Aku butuh bantuanmu untuk memasang radar di kapal ini. Aku
yang akan mengurus kendali otomatisnya.” Aku mendekati kapal itu.
“Baiklah.”
Kami berdua menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk
membuat sebuah radar dan kendali otomatis. Aku sedikit mengkombinasikan program
kendali otomatis jarak jauh dengan chip yang dimiliki oleh Angga. Mungkin akan
berguna pada saatnya.
“Berapa kecepatan kapal ini ?” Angga masih mencoba
menyambungkan sebuah kabel yang akan menjadi aliran listrik untuk menghidupkan
radar.
“Enam puluh knot.”
“Bagaimana bisa kita menembus kabut Pulau Tengah ?”
“Memangnya kenapa ?”
“Kita butuh minimal seratus knot untuk menembus setengah
kabut dan setelah kita berhasil menembus setengahnya, kita akan ditarik oleh
gelombang aneh di Pulau Tengah untuk sampai ke dalam pulau.”
Aku masih mencoba mengencangkan baut pada mesin yang kubongkar untuk ditanami chip kendali.
Aku masih mencoba mengencangkan baut pada mesin yang kubongkar untuk ditanami chip kendali.
“Berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kabut itu dari
tempat ini ?” Tanyaku.
“Sekitar satu menit dengan kecepatan seratus knot.”
“Itu cukup.” Aku kembali menatap mesin kapal di depanku.
“Apa maksudmu ?”
“Kita akan memanfaatkan gelombang ledakan pulau ini. Kita
akan terhempas dengan kecepatan lebih dari seratus knot.”
“Kau gila. Tubuhmu akan hancur.”
Aku menatapnya sejenak. Aku tidak bisa menyangkal
perkataannya, tapi aku tetap akan melakuakannya.
“Haaaah..” Angga menghela nafas panjang seperti menyerah meladeni
sikapku.
“Ini pakaian yang akan melindungi tubuh kita dari kehancuran
dengan kecepatan seperti itu.” Angga
mengeluarkan sebuah pakaian panjang hitam dimana bagian atas dan bawahnya
bersatu. Sangat tebal seperti rompi anti peluru. Pakaian itu sangat ketat untuk
menjaga tubuh tidak terpisah akibat hempasan angin.
Kapal sudah siap dan kami sudah mengenakan pakaian yang aku
tidak tau namanya itu.
“Namanya Ellie Marciela.”
“Apa ?” Angga menatapku penuh penasaran.
“Nama kapal ini Ellie Marciela.” Aku menatapnya yang masih
sedikit kebingungan.
Kami menaiki kapal itu dengan aku sebagai pengemudinya. Aku
menggenggam gas kapal yang berbentuk seperti gas pada sepeda motor. Kakiku
masuk ke dalam sebuah lubang yang pas dengan kakiku saat diluruskan.
Angga duduk di belakangku.
Baju pelindung ini di gabungkan dengan badan kapal
menggunakan sebuah alat perekat yang kuat jadi kami tidak akan terhempas karena
kecepatan kapal ini.
“Krsssskk..” Suara radio yang terpasang di kapal ini
berbunyi.
“Andi, apa kau dengar. Waktunya sudah habis. Pasukan kita
sudah meninggalkan pulau. Ledakkan trinitrotoluena
nya.”
Suara Paman Tomi terdengar serak dari radio. Aku segera
menghidupkan mesin kapal dan memutar gas yang membuat semburan air lalu kapal
ini bergerak. Aku memacu kapal ini sampai sekitar lima puluh meter ke arah
timur laut dari Pulau Barat. Tepat menghadap ke arah Pulau Tengah.
Tanganku sedikit gemetar ketika mengangkat benda hitam
dengan tombol merah itu. Aku memposisikan jempol tangan kananku di bagian atas
tombol itu. Dengan tekanan yang besar aku menekan tombol merah itu.
Sekejap setelah aku menekan tombol itu, aku menaruhnya di
sebuah lubang kecil yang bisa dibuka tutup di bagian depan kapal.
Suasana diam beberapa detik kemudian suara dari tempat yang
jauh itu mulai terdengar perlahan.
Aku menggenggam erat-erat gas kapal dan
memutarnya sekuat tenaga. Angga memelukku dari belakang dengan erat saat kapal
itu melaju dengan kecepatan bertahap sampai enam puluh knot menuju Pulau Tengah
diiringi suara ledakan dan goncangan yang mulai membesar. Sebuah hembusan angin
besar menerpa dari belakang. Aku sudah menyalakan baling-baling kapal dengan
mode maksimal. Gelombang laut yang mulai meninggi mulai menghempaskan kapal
lebih cepat dari sebelumnya.
Di depanku sebuah asap putih yang mulai terlihat semakin
menebal sedikit menghalangi pengelihatanku. Sedikit demi sedikit semakin
mengganggu dan akhirnya menutup sepenuhnya. Sebuah angin kencang berhembus dari
belakang dan menerbangkan kabut itu. Ledakan demi ledakan pasti sedang terjadi
di Pulau Barat. Pulau Selatan sekarang pasti dilanda gempa yang besar. Angin
kencang yang ditimbulkan dari ledakan itu membuka jalan bagi kami untuk
menembus kabut yang tidak ada habisnya ini.
Tubuhku seperti tergoncang hebat sesaat setelah kabut mulai
kembali menutupi pengelihatan. Aku hanya memacu kapal ini lurus tanpa berbelok
sedikitpun. Tekanan hebat ini sedikit tertahan karena tubuhku menyatu dengan
kapal akibat memakai pakaian pelindung ini. Tapi tetap saja dadaku terasa sesak
dan tubuhku seperti akan terhempas keluar dari kendali ini. Tiba-tiba
pandanganku mulai kabur. Helm dan kaca mata yang kupakai mulai ditutup cairan
embun dari kabut. Aku tidak bisa melihat apapun.
Sesaat setelah itu, kecepatan kapal mulai melambat.
Gelombang yang kuprediksi akan bertahan lebih lama perlahan mulai menghilang.
Kapal mulai terasa tertahan oleh gelombang aneh yang memancar dari Pulau Tengah.
Aku memutar gas sampai titik dimana tidak bisa diputar lagi. Putaran
baling-baing yang kencang sudah tidak terdengar lagi. Tubuh Angga gemetar masih
memelukku erat.
Tiba-tiba dari arah belakang rasanya seperti terdorong.
Tidak. Ini seperti ditarik. Kecepatan kapal berubah drastis. Lebih cepat dari
seratus knot. Melaju kencang menuju Pulau Tengah. Aku mulai kehilangan kendali.
Bahkan ketika aku menurunkan putaran gasku, kapal tetap malaju dengan kencang
seperti ada gelombang dari Pulau Tengah yang menarik kapal menuju daratan. Aku
mematikan sistem baling-baling dan mengaktifkan kendali otomatis. Semburan air
diperkecil secara otomatis.
Kapal ini terhempas hebat ke daratan yang berupa pasir
lembut. Aku menekan tombol pelepasan pakaian pelindung itu. Kami terlempar jauh
tapi secara otomatis pakaian itu mengembang seperti ditiup, tubuhku terjatuh
dengan keras tapi masih terlindungi pakaian itu. Angga terlempar tidak jauh
dari tempatku berada. Sepertinya dia pingsan.
Aku mulai berdiri dan menjaga pikiranku untuk tetap sadar.
Aku mendekati Angga dengan sempoyongan. Pandanganku berputar. Sebelum sampai di
tempat Angga berada, aku terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi. Tubuhku lemas
dan nafasku tersengal.
“Andi, apa kau masih sadar ?” Suara Angga perlahan terdengar
sangat lemah.
“Ya. Tubuhku tidak bisa digerakkan.” Aku mencoba berbicara
dengan nafas yang tidak teratur.
“Aku juga.”
“Sepertinya kita harus menerima kondisi ini beberapa saat.”
Lanjut Angga.
Setelah mendengar kata-kata itu, perlahan pandanganku mulai
dipenuhi kegelapan.
--
“Andi.” Suara Angga samar-samar terdengar.
Aku membuka mataku perlahan. Kilauan bulan purnama tepat di
atas langit membuatku menutup mataku kembali. Seakan ingin melihatnya sekali lagi,
aku membuka mataku. Cahaya kuning lembut menusuk mataku. Langit yang berubah
menjadi hitam dan dihiasi dengan bintang-bintang bagaikan pasir yang tercerai
berai.
Aku memalingkan pandanganku ke arah kanan dan aku melihat Angga
yang sedang duduk di sampingku.
Aku mulai berusaha untuk bangkit. Punggungku benar-benar
sakit. Suara gemeretak tulang punggungku saat aku duduk perlahan terdengar.
Seperti ada perasaan lega, aku menyentuh bagian belakang leherku yang terasa
seperti habis dipukul.
“Kita pingsan seharian.” Angga mengatakan hal itu sambil
menatap langit malam.
“Kita harus segera masuk ke pulau ini.” Lanjut Angga sambil
menoleh ke arah kanannya, memperhatikan jalan masuk ke Pulau Tengah.
Di sana terlihat hutan yang lebat membentang diselimuti
kegelapan karena cahaya bulan tidak bisa menembus dedaunan.
“Ayo kita segera berangkat.” Aku mulai berdiri dengan susah
payah. Sebelum bisa berdiri tegak, aku merunduk sambil menyentuh kedua lututku.
Aku berusaha melepaskan pakaian pelindung yang masih
kupakai. Aku melihat Angga sudah berhasil melepaskannya.
Aku melihat kapal cepat kami terdampar di daratan pantai
tapi tampak tidak mengalami kerusakan. Aku mengalihkan pandanganku ke dalam
hutan yang gelap. Setelah beberapa saat aku mulai berdiri tegak dan berjalan
menuju hutan itu. Angga mengikuti di belakangku.
Setelah beberapa saat berjalan kami berhasil menyibakkan
banyak tanaman liar dengan aroma daunnya yang pernah kucium sebelumnya. Cahaya
rembulan sedikit mampu menembus dedauan pohon yang menjulang tinggi,
meninggalkan gambaran cahaya kuning di tanah.
Di hadapan kami terpampang jelas sebuah aliran sungai yang
tidak terlalu dalam. Air beningnya mampu di tembus cahaya bulan sampai aku
mampu melihat dasar sungai itu. Aku mulai melangkahkan kakiku masuk ke dalam
sungai itu. Kakiku tenggelam hingga batas lutut. Air yang dingin mulai terasa
masuk melalui celah-celah kecil sepatu yang kupakai. Suara gemericik air yang
damai mengiringi perjalanan kami untuk beberapa saat menyeberangi sungai yang
lebarnya kurang lebih 3 meter itu.
Setelah sampai di tepian kami harus berjalan melewati hutan
kembali. Perjalanan yang sama seperti sebelumnya. Anehnya, apa yang ku
khawatirkan tidak muncul di tempat ini. Hewan buas. Biasanya mereka berburu
pada malam hari. Tapi, di hutan ini tidak ada suara apapun selain suara
gemerisik dedaunan yang bergesekan karena tertiup angin dan suara gemericik air
jauh di belakang sana.
“Sampai dimana hutan ini akan berakhir ?”
Angga tetap diam mendengar pertanyaanku yang tidak tertuju
pada siapapun.
Setelah beberapa saat, ada seberkas cahaya putih yang
terlihat di kejauhan dari hutan gelap tempat kami berada saat ini. Aku dan Angga
saling bertatapan. Aku tau kalau saat itu kami memikirkan hal yang sama.
Itu adalah ujung hutan ini.
Kami mulai berlari. Menyibakkan ratusan daun dari tanaman
yang tidak kami kenal. Melupakan sesaat kelelahan yang kami rasakan. Seperti
anak kecil yang melihat tempat bermainnya. Tawa mulai terlihat di wajah kami
disinari cahaya bulan purnama tipis yang mampu menembus gelapnya hutan.
Sampai pada saat kami menyibakkan tanaman terakhir sebelum
cahaya itu benar-benar jelas terlihat, kami melihat sebuah hamparan tanah lapang
yang luas sejauh mata memandang. Rumput yang pasti berwarna hijau berubah
menjadi kekuningan karena cahaya bulan. Sangat luas sampai pikiranku tidak bisa
menjangkau ujung dari padang rumput ini. Udara malam yang berhembus mengirimkan
aroma khas rumput musim panas ke penciumanku. Aku menutup mataku dan menatap
langit sambil menghirup nafas dalam-dalam.
Aku bergumam dalam hati.
“Aku bersyukur bisa hidup sampai saat ini.”
Setelah beberapa saat aku kembali membuka mataku. Kembali
menatap ke depan dan melihat sesuatu yang belum kusadari. Aku tidak percaya
dengan apa yang aku lihat. Aku menatap Angga yang matanya terbelalak karena
melihat hal yang sama denganku, tapi aku yakin kekagumannya sudah berlangsung
lebih lama dariku.
Kamu pasti tidak akan percaya.
Di tengah-tengah padang rumput yang mempesona ini, sebuah
bangunan berbentuk tabung menjulang tinggi ke atas langit. Aku tidak bisa
melihat ujungnya karena tertutup langit malam. Sebuah bangunan yang lebih cocok
disebut sebagai menara yang tingginya mungkin sama seperti gedung dua ratus
lantai.
Terlihat megah disinari cahaya bulan purnama. Jarak antara kami dengan
menara itu mungkin sekitar lima ratus meter.
Tanpa sadar aku mulai kembali melangkah. Pandanganku tetap
lurus ke depan dan aku tidak menghiraukan apa yang dilakukan Angga, tapi aku
yakin dia melakukan hal yang sama denganku. Sebuah langkah pelan yang berubah
menjadi sedikit lebih cepat, mulai berlari dan berlari sekencang kencangnya di
bawah lembutnya cahaya kuning malam itu. Angin segar nan dingin menusuk kulitku
yang berbalut kemeja panjang warna putih. Rambutku berkibar hebat, suara rumput
yang kuinjak memecah keheningan malam itu.
Sampai kami berhasil mencapai menara itu. Aku menyentuhnya.
Sebuah menara yang terbuat dari batu yang keras. Aku bisa memperkirakan kalau
dilihat pada siang hari, menara ini berwarna coklat tua. Aku melihat ke atas. Terlihat
menara ini sangat rapat dan tidak memiliki lubang sedikitpun di tubuhnya. Aku
juga tidak bisa melihat ujung dari bangunan yang tampak tua ini. Aku masih
menyentuhnya, batu itu terasa dingin. Aku berjalan mengitari menara yang
diameternya mungkin sepuluh meter itu. Setelah sampai di sisi lain menara itu,
aku melihat sebuah lubang yang terdapat di kaki menara itu. Sebuah lubang yang
bisa disebut sebuah pintu masuk. Aku mendekati lubang yang berbentuk seperti
kubah yang tingginya kira-kira dua setengah meter itu. Saat aku hendak
menyentuh bagian depan lubang yang dalamnya tampak sangat gelap itu, sebuah
gelombang aneh seperti memancar dan memantulkan diriku terlempar jauh
kebelakang sekitar dua meter. Aku jatuh di atas lembutnya rumput dan terseret tidak
jauh.
Angga berlari ke arahku.
“Hey. Kau tidak apa-apa ?”
“Ya. Aku baik-baik saja. Yang lebih penting, apa-apaan
lubang itu. Ada gelombang aneh dari dalamnya.”
Angga menatap lubang itu dan mulai mendekat ke arahnya.
“Jangan –
Saat aku belum selesai mengatakannya, tubuh Angga sudah
terjatuh tidak jauh dari tempatku berada.
“Lebih baik kita tidak mendekatinya.” Aku mulai berdiri dan
melangkah mendekati Angga.
Kami melihat di sekeliling. Tidak ada apapun selain hutan
lebat yang tumbuh melingkar seperti melindungi pulau ini, padang rumput yang
sangat luas dan menara besar ini.
“Apa yang akan kita lakukan ?” Angga menatapku.
“Kita bermalam di sini.” Aku mulai berjalan menuju kaki
menara itu.
Aku duduk sambil bersandar di menara besar itu. Angga duduk
di samping kananku.
Saat aku kembali melihat langit malam itu, sebenarnya aku
belum sadar dengan apa yang sudah terjadi.
Apa benar aku sudah mewujudkan
mimpiku ?
Lalu apa ini ? Dimana Viola ? Apa benar tempat ini adalah
dunia lain seperti yang dikatakan oleh Angga ?
Tiba-tiba kelelahan tubuhku membuatku tidak sadar. Aku pun
tertidur diiringi semua pertanyaan yang bergelantungan di kepalaku.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar