Stoorle

Tidak ada yang perlu dibagikan lagi. Terimakasih. :)

Minggu, 01 Mei 2016

[Read] #5 Di Tempat Yang Jauh

--
Aku berboncengan dengan Angga menuju bagian timur pulau ini. Di sepanjang perjalanan kami bertemu dengan segerombolan pasukan dengan mobil menuju bagian barat.

Itu artinya Pasukan Kemerdekaan sedang menggempur bagian barat pulau ini.

Kami sampai di bagian timur. Tidak ada siapapun di sana. Dua penjaga yang bertemu denganku saat masuk tadi, sudah terkapar berlumuran darah.

“Krssskk.. Andi, apa kau dengar ?” Suara terdengar dari radio komunikasi kecil yang ada di kantongku.
 
“Paman Tomi. Kami sudah ada di sisi timur.” Aku menjawabnya dengan menekan tombol yang berada tepat di jempol tanganku saat aku menggenggam radio itu.

“Aku sudah berada seratus kilometer dari Pulau Barat. Tinggal kalian dan dua orang lagi yang belum sampai ke sini.”

Aku melihat kapal cepatku berada di daratan sedikit ke utara dari tempatku berada. Aku berlari ke kapal itu bersama Angga.

Kami mendorongnya sampai menyentuh air laut di pantai berpasir putih itu.

“Kau berhasil, Andi.” Angga menatapku dengan senyumannya yang tidak pernah berubah.

“Tidak. Kita berhasil.”

Kami berdua melihat bentangan laut biru yang luas sejauh mata memandang. Matahari musim panas yang mulai meninggi memantulkan cahayanya menjadi gemerlap berkilau di lautan.

“Aku butuh bantuanmu untuk memasang radar di kapal ini. Aku yang akan mengurus kendali otomatisnya.” Aku mendekati kapal itu.

“Baiklah.”

Kami berdua menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk membuat sebuah radar dan kendali otomatis. Aku sedikit mengkombinasikan program kendali otomatis jarak jauh dengan chip yang dimiliki oleh Angga. Mungkin akan berguna pada saatnya.

“Berapa kecepatan kapal ini ?” Angga masih mencoba menyambungkan sebuah kabel yang akan menjadi aliran listrik untuk menghidupkan radar.

“Enam puluh knot.”

“Bagaimana bisa kita menembus kabut Pulau Tengah ?”

“Memangnya kenapa ?”

“Kita butuh minimal seratus knot untuk menembus setengah kabut dan setelah kita berhasil menembus setengahnya, kita akan ditarik oleh gelombang aneh di Pulau Tengah untuk sampai ke dalam pulau.”

Aku masih mencoba mengencangkan baut pada mesin yang kubongkar untuk ditanami chip kendali.

“Berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kabut itu dari tempat ini ?” Tanyaku.

“Sekitar satu menit dengan kecepatan seratus knot.”

“Itu cukup.” Aku kembali menatap mesin kapal di depanku.

“Apa maksudmu ?”

“Kita akan memanfaatkan gelombang ledakan pulau ini. Kita akan terhempas dengan kecepatan lebih dari seratus knot.”

“Kau gila. Tubuhmu akan hancur.”

Aku menatapnya sejenak. Aku tidak bisa menyangkal perkataannya, tapi aku tetap akan melakuakannya.

“Haaaah..” Angga menghela nafas panjang seperti menyerah meladeni sikapku.

“Ini pakaian yang akan melindungi tubuh kita dari kehancuran dengan kecepatan seperti itu.”  Angga mengeluarkan sebuah pakaian panjang hitam dimana bagian atas dan bawahnya bersatu. Sangat tebal seperti rompi anti peluru. Pakaian itu sangat ketat untuk menjaga tubuh tidak terpisah akibat hempasan angin.

Kapal sudah siap dan kami sudah mengenakan pakaian yang aku tidak tau namanya itu.

“Namanya Ellie Marciela.”

“Apa ?” Angga menatapku penuh penasaran.

“Nama kapal ini Ellie Marciela.” Aku menatapnya yang masih sedikit kebingungan.

Kami menaiki kapal itu dengan aku sebagai pengemudinya. Aku menggenggam gas kapal yang berbentuk seperti gas pada sepeda motor. Kakiku masuk ke dalam sebuah lubang yang pas dengan kakiku saat diluruskan.

Angga duduk di belakangku.

Baju pelindung ini di gabungkan dengan badan kapal menggunakan sebuah alat perekat yang kuat jadi kami tidak akan terhempas karena kecepatan kapal ini.

“Krsssskk..” Suara radio yang terpasang di kapal ini berbunyi.

“Andi, apa kau dengar. Waktunya sudah habis. Pasukan kita sudah meninggalkan pulau. Ledakkan trinitrotoluena nya.”

Suara Paman Tomi terdengar serak dari radio. Aku segera menghidupkan mesin kapal dan memutar gas yang membuat semburan air lalu kapal ini bergerak. Aku memacu kapal ini sampai sekitar lima puluh meter ke arah timur laut dari Pulau Barat. Tepat menghadap ke arah Pulau Tengah.

Tanganku sedikit gemetar ketika mengangkat benda hitam dengan tombol merah itu. Aku memposisikan jempol tangan kananku di bagian atas tombol itu. Dengan tekanan yang besar aku menekan tombol merah itu.

Sekejap setelah aku menekan tombol itu, aku menaruhnya di sebuah lubang kecil yang bisa dibuka tutup di bagian depan kapal.

Suasana diam beberapa detik kemudian suara dari tempat yang jauh itu mulai terdengar perlahan. 

Aku menggenggam erat-erat gas kapal dan memutarnya sekuat tenaga. Angga memelukku dari belakang dengan erat saat kapal itu melaju dengan kecepatan bertahap sampai enam puluh knot menuju Pulau Tengah diiringi suara ledakan dan goncangan yang mulai membesar. Sebuah hembusan angin besar menerpa dari belakang. Aku sudah menyalakan baling-baling kapal dengan mode maksimal. Gelombang laut yang mulai meninggi mulai menghempaskan kapal lebih cepat dari sebelumnya.

Di depanku sebuah asap putih yang mulai terlihat semakin menebal sedikit menghalangi pengelihatanku. Sedikit demi sedikit semakin mengganggu dan akhirnya menutup sepenuhnya. Sebuah angin kencang berhembus dari belakang dan menerbangkan kabut itu. Ledakan demi ledakan pasti sedang terjadi di Pulau Barat. Pulau Selatan sekarang pasti dilanda gempa yang besar. Angin kencang yang ditimbulkan dari ledakan itu membuka jalan bagi kami untuk menembus kabut yang tidak ada habisnya ini.

Tubuhku seperti tergoncang hebat sesaat setelah kabut mulai kembali menutupi pengelihatan. Aku hanya memacu kapal ini lurus tanpa berbelok sedikitpun. Tekanan hebat ini sedikit tertahan karena tubuhku menyatu dengan kapal akibat memakai pakaian pelindung ini. Tapi tetap saja dadaku terasa sesak dan tubuhku seperti akan terhempas keluar dari kendali ini. Tiba-tiba pandanganku mulai kabur. Helm dan kaca mata yang kupakai mulai ditutup cairan embun dari kabut. Aku tidak bisa melihat apapun.

Sesaat setelah itu, kecepatan kapal mulai melambat. Gelombang yang kuprediksi akan bertahan lebih lama perlahan mulai menghilang. Kapal mulai terasa tertahan oleh gelombang aneh yang memancar dari Pulau Tengah. Aku memutar gas sampai titik dimana tidak bisa diputar lagi. Putaran baling-baing yang kencang sudah tidak terdengar lagi. Tubuh Angga gemetar masih memelukku erat.

Tiba-tiba dari arah belakang rasanya seperti terdorong. Tidak. Ini seperti ditarik. Kecepatan kapal berubah drastis. Lebih cepat dari seratus knot. Melaju kencang menuju Pulau Tengah. Aku mulai kehilangan kendali. Bahkan ketika aku menurunkan putaran gasku, kapal tetap malaju dengan kencang seperti ada gelombang dari Pulau Tengah yang menarik kapal menuju daratan. Aku mematikan sistem baling-baling dan mengaktifkan kendali otomatis. Semburan air diperkecil secara otomatis.

Kapal ini terhempas hebat ke daratan yang berupa pasir lembut. Aku menekan tombol pelepasan pakaian pelindung itu. Kami terlempar jauh tapi secara otomatis pakaian itu mengembang seperti ditiup, tubuhku terjatuh dengan keras tapi masih terlindungi pakaian itu. Angga terlempar tidak jauh dari tempatku berada. Sepertinya dia pingsan.

Aku mulai berdiri dan menjaga pikiranku untuk tetap sadar. Aku mendekati Angga dengan sempoyongan. Pandanganku berputar. Sebelum sampai di tempat Angga berada, aku terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi. Tubuhku lemas dan nafasku tersengal.

“Andi, apa kau masih sadar ?” Suara Angga perlahan terdengar sangat lemah.

“Ya. Tubuhku tidak bisa digerakkan.” Aku mencoba berbicara dengan nafas yang tidak teratur.

“Aku juga.”

“Sepertinya kita harus menerima kondisi ini beberapa saat.” Lanjut Angga.

Setelah mendengar kata-kata itu, perlahan pandanganku mulai dipenuhi kegelapan.

--

“Andi.” Suara Angga samar-samar terdengar.

Aku membuka mataku perlahan. Kilauan bulan purnama tepat di atas langit membuatku menutup mataku kembali. Seakan ingin melihatnya sekali lagi, aku membuka mataku. Cahaya kuning lembut menusuk mataku. Langit yang berubah menjadi hitam dan dihiasi dengan bintang-bintang bagaikan pasir yang tercerai berai.

Aku memalingkan pandanganku ke arah kanan dan aku melihat Angga yang sedang duduk di sampingku.

Aku mulai berusaha untuk bangkit. Punggungku benar-benar sakit. Suara gemeretak tulang punggungku saat aku duduk perlahan terdengar. Seperti ada perasaan lega, aku menyentuh bagian belakang leherku yang terasa seperti habis dipukul.

“Kita pingsan seharian.” Angga mengatakan hal itu sambil menatap langit malam.

“Kita harus segera masuk ke pulau ini.” Lanjut Angga sambil menoleh ke arah kanannya, memperhatikan jalan masuk ke Pulau Tengah.

Di sana terlihat hutan yang lebat membentang diselimuti kegelapan karena cahaya bulan tidak bisa menembus dedaunan.

“Ayo kita segera berangkat.” Aku mulai berdiri dengan susah payah. Sebelum bisa berdiri tegak, aku merunduk sambil menyentuh kedua lututku.

Aku berusaha melepaskan pakaian pelindung yang masih kupakai. Aku melihat Angga sudah berhasil melepaskannya.

Aku melihat kapal cepat kami terdampar di daratan pantai tapi tampak tidak mengalami kerusakan. Aku mengalihkan pandanganku ke dalam hutan yang gelap. Setelah beberapa saat aku mulai berdiri tegak dan berjalan menuju hutan itu. Angga mengikuti di belakangku.

Setelah beberapa saat berjalan kami berhasil menyibakkan banyak tanaman liar dengan aroma daunnya yang pernah kucium sebelumnya. Cahaya rembulan sedikit mampu menembus dedauan pohon yang menjulang tinggi, meninggalkan gambaran cahaya kuning di tanah.

Di hadapan kami terpampang jelas sebuah aliran sungai yang tidak terlalu dalam. Air beningnya mampu di tembus cahaya bulan sampai aku mampu melihat dasar sungai itu. Aku mulai melangkahkan kakiku masuk ke dalam sungai itu. Kakiku tenggelam hingga batas lutut. Air yang dingin mulai terasa masuk melalui celah-celah kecil sepatu yang kupakai. Suara gemericik air yang damai mengiringi perjalanan kami untuk beberapa saat menyeberangi sungai yang lebarnya kurang lebih 3 meter itu.

Setelah sampai di tepian kami harus berjalan melewati hutan kembali. Perjalanan yang sama seperti sebelumnya. Anehnya, apa yang ku khawatirkan tidak muncul di tempat ini. Hewan buas. Biasanya mereka berburu pada malam hari. Tapi, di hutan ini tidak ada suara apapun selain suara gemerisik dedaunan yang bergesekan karena tertiup angin dan suara gemericik air jauh di belakang sana.

“Sampai dimana hutan ini akan berakhir ?”

Angga tetap diam mendengar pertanyaanku yang tidak tertuju pada siapapun.

Setelah beberapa saat, ada seberkas cahaya putih yang terlihat di kejauhan dari hutan gelap tempat kami berada saat ini. Aku dan Angga saling bertatapan. Aku tau kalau saat itu kami memikirkan hal yang sama.

Itu adalah ujung hutan ini.

Kami mulai berlari. Menyibakkan ratusan daun dari tanaman yang tidak kami kenal. Melupakan sesaat kelelahan yang kami rasakan. Seperti anak kecil yang melihat tempat bermainnya. Tawa mulai terlihat di wajah kami disinari cahaya bulan purnama tipis yang mampu menembus gelapnya hutan.

Sampai pada saat kami menyibakkan tanaman terakhir sebelum cahaya itu benar-benar jelas terlihat, kami melihat sebuah hamparan tanah lapang yang luas sejauh mata memandang. Rumput yang pasti berwarna hijau berubah menjadi kekuningan karena cahaya bulan. Sangat luas sampai pikiranku tidak bisa menjangkau ujung dari padang rumput ini. Udara malam yang berhembus mengirimkan aroma khas rumput musim panas ke penciumanku. Aku menutup mataku dan menatap langit sambil menghirup nafas dalam-dalam.

Aku bergumam dalam hati.

“Aku bersyukur bisa hidup sampai saat ini.”

Setelah beberapa saat aku kembali membuka mataku. Kembali menatap ke depan dan melihat sesuatu yang belum kusadari. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku menatap Angga yang matanya terbelalak karena melihat hal yang sama denganku, tapi aku yakin kekagumannya sudah berlangsung lebih lama dariku.

Kamu pasti tidak akan percaya.

Di tengah-tengah padang rumput yang mempesona ini, sebuah bangunan berbentuk tabung menjulang tinggi ke atas langit. Aku tidak bisa melihat ujungnya karena tertutup langit malam. Sebuah bangunan yang lebih cocok disebut sebagai menara yang tingginya mungkin sama seperti gedung dua ratus lantai. 

Terlihat megah disinari cahaya bulan purnama. Jarak antara kami dengan menara itu mungkin sekitar lima ratus meter.

Tanpa sadar aku mulai kembali melangkah. Pandanganku tetap lurus ke depan dan aku tidak menghiraukan apa yang dilakukan Angga, tapi aku yakin dia melakukan hal yang sama denganku. Sebuah langkah pelan yang berubah menjadi sedikit lebih cepat, mulai berlari dan berlari sekencang kencangnya di bawah lembutnya cahaya kuning malam itu. Angin segar nan dingin menusuk kulitku yang berbalut kemeja panjang warna putih. Rambutku berkibar hebat, suara rumput yang kuinjak memecah keheningan malam itu.

Sampai kami berhasil mencapai menara itu. Aku menyentuhnya. Sebuah menara yang terbuat dari batu yang keras. Aku bisa memperkirakan kalau dilihat pada siang hari, menara ini berwarna coklat tua. Aku melihat ke atas. Terlihat menara ini sangat rapat dan tidak memiliki lubang sedikitpun di tubuhnya. Aku juga tidak bisa melihat ujung dari bangunan yang tampak tua ini. Aku masih menyentuhnya, batu itu terasa dingin. Aku berjalan mengitari menara yang diameternya mungkin sepuluh meter itu. Setelah sampai di sisi lain menara itu, aku melihat sebuah lubang yang terdapat di kaki menara itu. Sebuah lubang yang bisa disebut sebuah pintu masuk. Aku mendekati lubang yang berbentuk seperti kubah yang tingginya kira-kira dua setengah meter itu. Saat aku hendak menyentuh bagian depan lubang yang dalamnya tampak sangat gelap itu, sebuah gelombang aneh seperti memancar dan memantulkan diriku terlempar jauh kebelakang sekitar dua meter. Aku jatuh di atas lembutnya rumput dan terseret tidak jauh. 

Angga berlari ke arahku.

“Hey. Kau tidak apa-apa ?”

“Ya. Aku baik-baik saja. Yang lebih penting, apa-apaan lubang itu. Ada gelombang aneh dari dalamnya.”

Angga menatap lubang itu dan mulai mendekat ke arahnya.

“Jangan –

Saat aku belum selesai mengatakannya, tubuh Angga sudah terjatuh tidak jauh dari tempatku berada.

“Lebih baik kita tidak mendekatinya.” Aku mulai berdiri dan melangkah mendekati Angga.

Kami melihat di sekeliling. Tidak ada apapun selain hutan lebat yang tumbuh melingkar seperti melindungi pulau ini, padang rumput yang sangat luas dan menara besar ini.

“Apa yang akan kita lakukan ?” Angga menatapku.

“Kita bermalam di sini.” Aku mulai berjalan menuju kaki menara itu.

Aku duduk sambil bersandar di menara besar itu. Angga duduk di samping kananku.

Saat aku kembali melihat langit malam itu, sebenarnya aku belum sadar dengan apa yang sudah terjadi. 

Apa benar aku sudah mewujudkan mimpiku ?

Lalu apa ini ? Dimana Viola ? Apa benar tempat ini adalah dunia lain seperti yang dikatakan oleh Angga ?

Tiba-tiba kelelahan tubuhku membuatku tidak sadar. Aku pun tertidur diiringi semua pertanyaan yang bergelantungan di kepalaku.


--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright

"GANG" A short Film

The Player 2 - Other Story